Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 65 - Kegagalan Yang Direncanakan.


__ADS_3

Di dalam kapal. Terlihat Stevani dan Viona sedang berjalan ke arah ruang VVIP.


"Tidak kusangkan, bahkan kita bisa membunuh seorang hunter Rank S+ dengan sangat mudah." Kata Stevani.


"Itulah kekuatan kepercayaan. Jika mereka sudah percaya kepada kita, apapun akan jadi semakin mudah." Saut Vional.


Didalam ruang VVIP, disana sudah ada Panglima lainnya, yaitu Rocky Ken, Kevin Dom, Joseph, dan Gilbert.


"Mereka datang." Kata Joseph.


"Akhirnya mereka datang." Saut Rocky.


"Apa kami terlambat.? Sepertinya waktu kita sudah sesuai rencana." Kata Stevani.


"Apa kau sudah membereskannya.?" Tanya Rocky.


"Aku yakin dia sudah mati sekarang. Racun itu adalah racun kelas tinggi yang di buat oleh Yang Mulia Carlin sendiri." Jawab Stevani.


"Meskipun Rank mereka S+ sekalipun, tidak akan bisa bertahan dengan racun itu." Kata Viona.


"Bagus, kalian sudah bekerja dengan sangat keras. Ini saatnya kita membahas rencana selanjutnya." Kata Rocky.


"Apa ada perintah selanjutnya.?" Tanya Stevani.


"Ada, perintah ini baru saja di turunkan." Jawab Rocky.


"Apa itu.?" Saut Stevani.


"Kita di perintahkan untuk membuang semua barang bukti, termasuk saksi mata yang melihat aksi kita." Jawab Rocky.


"He.? Lalu bagaimana dengan Tuan Putri.?" Tanya Viona.


"Aku sudah mengurungnya bersama dengan kesatria lainnya. Yang terpenting saat ini adalah, bunuh orang-orang yang melihat aksi kita." Jawab Rocky.


"Itu mudah dilakukan. Apa tidak ada perintah lain.?" Tanya Stevani.


"Untuk sementara tidak ada. Kita hanya tinggal kembali ke istana kerajaan." Jawab Rocky.


"Hm, baiklah kalau begitu, aku akan menyeleksi prajurit sekarang." Kata Stevani sambil berdiri.


...


Di Istana Kerajaan.


Terlihat, sang Raja dan para Yang Mulia lainnya sedang berkumpul di ruang rapat.


"Tidak kusangkan, mereka bisa menyelesaikan dungeon itu dengan waktu yang sangat singkat." Kata Marcus.


"Apa ini tidak bahaya.?" Saut Carlin.


"Mau bagaimana lagi, rencana kita seharusnya di jalankan 1 tahun setelah mereka memasuki dungeon. Tapi mereka justru keluar selama 5 bulan. Sudah tidak ada kesempatan lagi, rencana itu harus di majukan." Kata Marcus.


"Aku merasa kita terlalu buru-buru." Kata Sean.


"Kau benar, rencana kita jadi tidak sempurna. Malah kita yang di rugikan sekarang." Saut Rewin.


"Tidak perlu di bahas lebih dalam, kita sudah mendapatkan apa yang sudah kita butuhkan." Kata Raja Eden.


"Anda benar Yang Mulia, tapi kita sudah kehilangan wilayah itu lagi." Kata Rewin.

__ADS_1


"Tujuan kita kesana bukan untuk mengambil alih wilayah. Tapi mengambil harta warisan yang tertinggal di dalam reruntuhan istana kota. Sekarang kita sudah memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari pada uang." Saut Raja Eden.


"Kalian sangat keterlaluan, mengorbankan anak-anak itu hanya untuk mengambil sebuah senjata dan artefak." Kata Anna.


"Mau bagaimana lagi, kita lebih butuh benda itu dari pada tambang disana." Kata Marcus.


"Bahkan kita hanya kehilangan prajurit yang sangat sedikit. Bisa di katakan, kita tidak rugi sama sekali." Kata Sean.


"Apalagi mereka ingin menguasai semua dungeon disana, itu benar-benar sangat merugikan kita, lebih baik kita membunuh mereka semua dari pada kita berbagi kekuasaan." Kata Carlin.


"Aku juga awalnya tidak sepakat dengan itu. Tapi mau bagaimana lagi, untuk menjalankan rencana kita, kita harus menyingkirkan mereka semua." Kata Sean.


"Padahal, jika mereka tidak mengambil alih dungeon, mungkin kita akan mendapatkan keuntungan lebih besar lagi. Wilayah, tambang, dungeon, dan artefak." Kata Carlin.


"Hm, kau melupakan latihan militer yang sudah di ajarkan mereka, bahkan kita juga mendapatkan informasi yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan." Kata Rewin.


"Sayang sekali nasib mereka. Meskipun kekuatan mereka sangat kuat dari kita, mereka tidak bisa kita kendalikan. Apa lagi anak bernama Marco itu, dia seenaknya saja memerintah pasukan militer kerajaan. Aku tidak terima dengan itu." Saut Carlin dengan kesal.


"Huh, aku sudah kehilangan anak angkat gara-gara kalian." Kata Anna.


"Kalian tenang saja, dengan artefak ini, kita bisa mendapatkan yang lebih besar lagi." Kata Raja Eden.


"Baiklah Yang Mulia. Lalu, kapan kami akan pergi kedalam dungeon.?" Tanya Marcus.


"Secepat mungkin. Menurut informasi yang kita terima, dungeon memiliki 1.000 lantai, dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Tapi dengan artefak ini, kalian bisa menyelesaikannya dengan cepat. Artefak milik Dewa Albion, artefak ini bisa memanipulasi alam. Bahkan artefak ini bisa meni gkatkan kekuatan dua kali lipat." Jawab Raja Eden.


"Artefak itu hanya ada satu Yang Mulia, lalu siapa yang akan memakainya.?" Tanya Carlin.


"Tentu saja aku sendiri." Kata Raja Eden.


"Yang Mulia, apa Anda akan ikut kedalam dungeon.?" Tanya Marcus.


"Lalu, bagimana dengan urisan kerajaan Yang Mulia.?" Tanya Marcus.


"Ah, aku serahkan semuanya pada Carlin. Selebihnya, kalian semua harus ikut mendukung ekspedisi dungeon kali ini." Jawab Raja Eden.


"Apa tidak sebaiknya kita serahkan urusan kerajaan kepada Alicia Yang Mulia.?" Tanya Carlin.


"Dia akan membrontak padaku. Para kestaria itu tidak tau dengan rencana kita, bahkan aku memerintahkan panglima untuk mengurung mereka." Jawab Raja Eden.


Mereka semua yang ada di sana hanya terdian dengan terkejut.


...


Di atas benteng Kota Ferland.


"Jadi mereka berencana memasang menara disini.?" Tanya Lilia.


"Peti ini isinya adalah koin emas, bisa di katakan ini adalah penyerap energi, di dalamnya juga sudah ada tempat untuk menata koin-koin ini. Mustahil jika mereka mengunakan koin ini sebagai uang." Jawab Rudy.


"Jadi apa kesimpulannya.?" Tanya Marco.


"Aku bisa menyimpulkan, mereka semua ingin mengambil alih tempat ini. Mereka berencana menyingkirkan kita, setelah kita menyelesaikan semua dungeon. Dan mereka memasang menara di dalam istana itu agar hewan iblis tidak mendekat kesini. Sudah pasti yang mereka inginkan adalah, wilayah, dungeon, tambang, dan kota ini." Jawab Emma.


"Hm, jadi mereka gagal merencanakan itu.?" Tanya Marco.


"Mereka gagal karena persiapan mereka masih belum matang, dan aku menyelesaikan dungeon dengan sangat cepat." Jawab Rudy.


"Tapi, masih ada dungeon lainnya Rudy." Saut Marco.

__ADS_1


"Barusan sudah aku katakan Marco. Kalau mereka ingin menguasai semuanya, termasuk dungeon lainnya." Kata Emma.


"Tapi Emma, ini sangat aneh, kenapa mereka harus terburu-buru menjalankan rencananya.?" Saut Rudy.


"Kalau itu aku juga tidak tau Rudy. Mungkin ada sesuatu yang ingin mereka ambil." Jawab Emma.


"Hm, baiklah kalau begitu. Mungkin hanya ini bukti yang kita punya. Sebaiknya kita berangkat sekarang." Kata Rudy sambil berdiri.


"Bagaimana caranya kita sampai disana.?" Tanya Marco.


"Tidak mungkin kita berlari, akan membutuhkan waktu yang sangat lama sekali. Apalagi di luar sana banyak hewan iblis." Saut Lilia.


"Ah, kau benar. Tapi hanya itu satu-satunya cara, bahkan semua kapal sudah di bawa pergi semuan." Kata Rudy.


"Aku ada satu cara suapaya kita bisa sampai disana dengan satu langkah." Saut Emma dengan tersenyum.


"Eh.? Bagaimana caranya.?" Tanya Rudy dengan terkejut.


"Tentu saja dengan portal. Hihi." Jawab Emma dengan tertawa kecil.


"HEEEEE.?" Teriak mereka semua dengan sangat terkejut.


...


Di dalam penjara kapal terbang.


Alicia, Eva dan Herry di kurung di sebuah sell yang di jaga dengan ketat.


"Mereka semua sudah keterlaluan." Kata Eva dengan kesal.


"Aku ingin menghancurkan kapal ini." Kata Herry.


"Jika kau melakukannya, Kita semua akan terjun ke bawah hutan. Apa kau ingin berjalan kaki menuju ibu kota.? Kau sendiri tidak ingin tinggal di dalam hutan." Saut Eva dengan kesal.


"Eh.? Lalu apa yang harus kita lakukan.?" Tanya Herry.


"Aku sendiri ingin tau. Bagaimana denganmu Tuan Putri.?" Saut Eva.


"Ah, aku hanya merasa bersalah kepada Rudy dan lainnya. Aku tidak bisa berfikir sekarang." Kata Alicia.


"Hm, aku yakin mereka akan baik-baik saja Putri." Saut Eva.


"Aku yakin mereka pasti bisa bertahan. Tapi, apa jadinya jika mereka semua tau kalau kita semua menghianati mereka.?" Kata Alicia.


"Bukan kita yang berhianat, tapi para Panglima bajingan itu." Saut Eva.


"Panglima tidak akan bergerak kalau tidak ada perintah dari Yang Mulia Raja. Apa kau bilang Raja juga bajingan.?" Saut Herry.


"Eh.? Bukan itu maksudku." Kata Eva dengan panik.


"Hm, sudahlah, aku hanya cemas saja, kalau Rudy dan lainnya mengamuk di istana. Para Yang Mulia tidak tau kekuatan mereka yang sebenarnya." Kata Alicia.


"Mereka semua tau Putri, kalau mereka setara dengan legenda Albion." Saut Eva.


"Ini adalah sebuah rahasia. Kalau kekuatan mereka sebenarnya sudah jauh di atas legenda Albion." Jawab Alicia dengan serius.


"Apaa.?" Saut Eva dan Herry dengan terkejut.


...

__ADS_1


__ADS_2