
{Akademi Rousen}
Pada esok hari, di asrama laki-laki. Rudy sedang tertidur pulas di kasurnya. Sedangkan Marco sudah siap untuk berangkat ke istana.
"Oe, bangun Rudy. Apa kau akan tidur seharian.? Kebiasaanmu sudah sangat parah." Teriak Marco.
GROK GROK. Suara Rudy yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Orang ini membuatku kesal. OEE, BANGUUN RUDYY." Teriak Marco lebih kencang lagi
"Hoam. Sialan kau, aku sedang mimpi indah barusan." Saut Rudy.
"Ada yang lebih indah dari mimpimu. Bangunlah." Kata Marco.
"Hmm, apa memang ada sesuatu yang lebih indah dari mimpi.?" Tanya Rudy sambil duduk di kasurnya.
"Tentu saja kenyataan. Bangunlah, dan hadapi kenyataan ini. Kau akan menemukan yang lebih indah dari mimpimu." Jawab Marco.
"Omong kosong apa itu.? Aku bahkan tidak punya pacar di kenyataan ini." Saut Rudy sambil berjalan ke kamar mandi.
"A, apa yang dia mimpikan.?" Kata Marco dalam hati.
...
Beberapa menit kemudian, Rudy dan Marco pun berangkat ke luar pintu akademi untuk menemui Lilia dan Emma.
"Ajak Rin sekalian. Aku tidak mau dia di tinggalkan di Akademi ini." Kata Rudy sambil berjalan.
"Dia sudah menunggu bersama Lilia di gerbang." Saut Marco
"Baiklah. Hoam." Kata Rudy sambil menguap.
...
"Itu kak Rudy." Kata Rin.
"Hm, kebiasaannya tidak hilang." Kata Emma.
"Ini sudah mau siang. Dia bahkan tidak peduli dengan kelasnya di Akademi." Kata Lilia.
"Dia tidak akan belajar apapun disini, kebiasaannya sudah sangat buruk." Saut Emma.
"Pagi Semua." Kata Rudy.
"Hm, sampai kapan kita menunggumu disini.? Apa kau menikmati tidurmu.?" Tanya Emma dengan serius.
"Tentu saja aku sangat menikmatinya." Jawab Rudy.
"Huh, sudahlah." Saut Emma sambil memejamkan matanya.
"Aku sendiri tidak sanggup membangunkannya. Dia terlalu menikmati mimpinya." Kata Marco.
"He.? Mimpi apa dia.?" Tanya Emma penasaran.
"Aku sendiri ingin tau, sepertinya dia bermimpi sedang berduaan dengan pacarnya." Jawab Marco.
"Eh.? Sialan kau." Kata Rudy sambil memukul kepala Marco.
"Apa itu benar Rudy.?" Tanya Emma dengan tatapan penuh ancaman.
"Kenapa kau kesal begitu, itu bukan urusanmu." Jawab Rudy sambil memejamkan matanya.
BUK, Buk, buk. Emma pun memukul Rudy dengan bertubi-tubi. "HAAA, Rasakan ini." Teriakan Emma. "AAAAH. Tolong" Teriakan Rudy
"Huh, maaf Rudy, aku tidak bisa apa-apa." Kata Marco.
"Lagi-lagi dia membuatnya cemburu." Kata Lilia.
"Hosh, hosh." Suara Rudy yang terengah-engah.
__ADS_1
"Huh, Dia pasti sedang bermimpi berduaan dengan Alicia." Kata Emma dengan kesal.
"Lalu apa jadinya jika dia bermimpi berduaan denganmu Emma.?" Tanya Lilia.
"Eh.? Itu, itu." Jawab Emma sangat gugup.
"Ergh, Sialan. Kau selalu memukulku dengan keras Emma." Saut Rudy dengan kesal.
"Diamlah, kita berangkat sekarang." Kata Emma dengan malu sambil berjalan keluar gerbang.
"Kita berangkat Rudy." Kata Lilia sambil mengikuti Emma.
"Ada apa dengannya.? Ekspresinya berubah dengan cepat." Kata Rudy.
"Mungkin dia sedang membayangkan berduaan dengamu." Saut Marco.
"Tidak mungkin. Dia hanya ingin memukulku saja." Kata Rudy.
...
Beberapa saat kemudian, Rudy dan lainnya berangkat ke istana dengan berjalan kaki.
"Apa kau yakin kita berangkay dengan berjalan kaki.?" Tanya Rudy.
"Alicia sudah memberitahuku, kita akan di jemput di depan gerbang kerajaan." Jawab Emma.
"Em, berapa lama kita berjalan kesana.?" Tanya Rudy.
"Mungkin beberapa jam." Jawab Emma.
"Kita berteleport saja kesana." Kata Marco.
"Ah, itu ide bagus Marco." Saut Rudy.
"Apa kau terburu-buru Rudy.? Apa kau ingin bertemu dengan Alicia.?" Tanya Emma.
"Apa yang kau pikirkan Emma.? Bahkan kau tau sendiri kemarin, tidak ada hubungan apa-apa aku dengannya. Hanya seorang teman." Jawab Rudy.
"Jadi, apa masalah kalian sudah selesai.?" Tanya Lilia.
"Aku masih tetap memperhatikannya." Jawab Emma.
"Huh, terserah kau saja. Kita berteleport kesana Marco." Saut Rudy
"Baiklah." Kata Marco.
Lalu. DEPP, DEEP. Mereka pun berteleport ke depan gerbang kerajaan.
Di depan gerbang, sudah ada Alicia bersama dengan pasukannya untuk menyambut Rudy dan lainnya.
"Sampai kapan kita akan menunggu disini.?" Tanya Herry.
"Kita tunggu saja Herry. Mungkin mereka masih dalam perjalanan." Jawab Eva.
Tiba-tiba, DEEP. Rudy dan lainnya pun sampai di depan gerbang.
"Mereka datang." Kata Alicia sambil menghampiri mereka.
"Terlalu ramai untuk menjemput kita." Kata Rudy.
"Mereka sudah menganggap kita semua sebagai legenda, sudah jelas mereka melakukan itu semua." Kata Emma.
"Selamat datang di kerajaaan Alden Sang Legenda." Kata Alicia sambil membungkukkan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan Alicia.? Sudah aku katakan, bersikaplah seperti biasa di depan kami. Kau membuat semua prajuritmu memberikan hormat pada kami." Saut Rudy.
"Hm, silahkan, sebelah sini." Kata Alicia sambil menunjukkan kereta kuda yang sangat mewah.
"Kita ikuti saja Rudy." Kata Emma sambil berjalan menuju kereta kuda.
__ADS_1
"Tidak kusangka, Nona itu sangat cantik."."Ah, aku setuju denganmu."."Dia seperti seorang Ratu." Kata prajurit kerajaan yang melihat paras cantik Emma.
"Hm, baiklah." Kata Rudy sambil berjalan mengikuti Emma.
Marco dan lainnya pun masuk kedalam kereta bersama Alicia. Sedangkan Herry dan Eva menungangi kuda untuk menuntun mereka ke dalam istana.
"Ini terlalu berlebihan Alicia." Kata Rudy.
"Kami sudah menyiapkannya dengan meriah. Kalian adalah harapan rakyat Alden. Sudah pasti Sang Raja akan menyambut kalian dengan mewah." Kata Alicia.
"Tapi tetap saja. Aku sangat gugup dengan situasi seperti ini." Kata Rudy.
"Aku sepandapat denganmu Rudy. Bahkan kakiku sudah gemetar dari tadi." Kata Marco.
"Aku juga ingin pulang saja kak." Kata Rin dengan gugup.
"Huh, kalian harus membiasakan situasi seperti ini." Kata Emma.
"Kami semua tidak sepertimu Emma, kau bahkan seperti seorang Ratu yang sangat cantik rupawan. Ini pertama kalinya kami naik kereta kuda yang sangat mewah, apalagi di iringi oleh prajurit kerajaan." Kata Lilia sampai berkeringat dingin.
"Maaf jika sambutan ini tidak nyaman untuk kalian." Kata Alicia.
"Tidak apa-apa Alicia. Kau sudah berusaha sebaik mungkin untuk menyambut kami. Mereka hanya gugup saja." Kata Emma.
"Huh, sudahlah. Mau bagaimana lagi." Kata Rudy sambil memejamkan matanya.
...
Beberapa saat kemudian. Rombongan Rudy dan lainnya sampai di depan pintu istana. Disana, mereka disambut oleh para Panglima kerajaan.
"Jadi mereka Tamu undangannya.? Terlihat biasa saja." Kata Rocky Ken.
"Jangan melihat dari luarnya saja Ken, kau tidak tau kepentingan mereka disini." Kata Stevani.
"Mereka bahkan gemetar datang kesini." Saut Rocky.
"Sudah pasti, mereka semua akan menghadap ke depan Raja Alden." Kata Stevani.
Lalu. "Selamat datang Tuan Putri, dan Tamu Undangan." Kata Semua orang disana.
"Waah, kenapa kakiku tidak bisa berhenti gemetar.?" Kata Marco dengan panik.
"Kau terlihat amatiran Marco." Kata Rudy.
"Eh.? Kau bahkan lebih panik dariku Rudy, lihatlah kakimu." Saut Marco.
"He.?" Saut Rudy sambil melihat kakinya yang gemetar cukup kencang.
"Kalian sangat amatiran sekali." Kata Emma sambil memejamkan matanya.
"Baiklah, kita langsung masuk saja." Kata Alicia sambil berjalan masuk kedalam istana.
Emma pun mengikuti Alicia dari belakang, lalu di susul Rudy dan lainnya.
"Hm, siapa mereka sebenarnya, ternyata ada seorang Putri di antara mereka." Kata Kevin Dom yang melihat kecantikan Emma.
"Benarkan.? Aku tidak salah lihat. Dia memang sangat cantik." Kata Gilbert.
"Permisi Tuan. Permisi." Kata Rudy.
"Permisi." Kata Marco dan Rin.
"Silahkan pelayan." Kata Rocky Ken dengan senyuman palsu.
"Hihi, pelayan Tuan Putri itu sangat lucu sekali." Kata Stevani.
"Hahaha. Mungkin ini pertama kalianya bagi mereka mengunjungi kerajaan lain." Kata Kevin Dom.
"Sialan, aku di anggap seorang pelayan." Kata Rudy dalam hati.
__ADS_1
...