Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 75 - Melepas Rindu.


__ADS_3

Dikamar sang Putri. Sang Raja masih memeluk Luciana dengan sangat bahagia.


"Luciana, apa kau baik-baik saja.?" Tanya Raja Eden dengan meneteskan air mata.


"Ayah, kenapa kau menangis. Disini ada orang." Jawab Luciana.


"Syukurlah, aku benar-benar sangat bersyukur." Kata Raja Eden.


Rudy pun menghampiri mereka. "Apa yang kau lakukan disini Marco.?" Tanya Rudy.


"Rudy, aku, akuu." Jawab Marco dengan tercengang.


...


Beberapa saat kemudian. Sang Raja pun sudah tenang dengan perasaanya. Dan Marco di introgasi oleh Rudy dan Emma di meja santai yang ada di dalam kamar.


"Apa yang sebenarnya terjadi Marco.? Dari tadi kau hanya terdiam dengan ketakutan." Kata Rudy.


"Apa kau melihat roh jahat Marco.?" Tanya Emma.


"Sebenarnya, aku, itu, akuu." Jawab Marco dengan gugup.


"Jawabanmu selalu seperti itu. Aku tidak menyangka, bahkan kau sampai berekspresi seperti ini. Apa yang sudah kau lihat.?" Tanya Rudy dengan penasaran.


"Rudy, aku, aku." Jawab Marco.


"Aku, aku, jawablah yang lainnya, apa yang sudah kau lihat.? Bahkan kau melihat Red Gragon saja tidak sampai seperti ini." Kata Rudy.


Lalu, Raja Eden pun menghampiri Rudy dan lainnya bersama dengan Hart. Lalu, Hart pun menundukkan badan dan berbicara.


"Yang Mulia, mungkin ini adalah urusan keluarga kerajaan. Sebaiknya saya undur diri dari sini." Kata Hart.


"Ah, baiklah Hart, terimakasih sudah menemani kami. Akan ku tunggu jawabanmu." Saut Raja Eden.


"Baik Yang Mulia. Saya Undur diri. Salam hormat kepada Anda dan Royal Unity." Kata Hart sambil menundukkan badannya.


"Em." Saut Raja Eden. Hart pun keluar dari kamar itu. Lalu, Sang Putri pun bangun dan berusaha menghampiri Raja.


"Ayah." Kata Luciana dengan lemas.


"Mati aku. Dia pasti akan mengadukannya pada Raja bodoh itu. Kalau sampai Raja itu mengadu pada Rudy, mampuslah aku." Kata Marco dalam hati dengan panik.


"Luciana, sebaiknya kau beristirahat dulu disana." Kata Raja Eden sambil menghampiri Luciana.


"Tidak Ayah. Aku akan ikut kesana, aku bisa memberikan kesaksian." Kata Luciana yang berusaha berdiri.


"Baiklah, aku akan membantumu berdiri, hati-hati." Kata Raja Eden sambil menuntun Luciana berjalan menghampiri Marco dan lainnya.


Lalu, Luciana pun pun duduk di sebelah Marco. Dan Eden duduk disebelah Rudy.


"Kenapa dia kesini.? Apa dia akan mengadu kepada semua orang.? Aarrg. kenapa, kenapa dia tidak diam saja di tempat tidurnya." Kata Marco dengan sangat panik. Bahkan keringatnya sampai keluar dari kepalanya.

__ADS_1


"Ada apa Marco.? Kenapa kau seperti itu.?" Tanya Rudy.


"Ti ti tidak apa-apa Rudy." Jawab Marco dengan panik.


"Kau bahkan terlihat sangat panik saat Tuan Putri datang. Ceritakan yang sebenarnya Marco." Kata Rudy.


"Dia menyentuh tubuhku." Kata Luciana dengan terang-terangan.


"AAAARGH. Aku pinsan saja." Kata Marco sambil merubuhkan badannya.


"He.? Apa benar Marco.?" Tanya Rudy dengan terkejut.


"Uuh, jika sudah seperti ini, mau bagaimana lagi. Aku akui saja sekarang, dari pada hidupku tidak tenang dengan kesalah pahaman ini." Kata Marco.


Lalu, Marco pun berdiri dengan tegap di depan Luciana. "He.?" Saut Luciana dengan terkejut.


"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja memegangnya." Kata Marco sambil menundukkan badannya di depan Luciana dengan wajah memerah.


"Memegang.? Apa.?" Saut Luciana. Lalu "Eeh.?" Teriak Luciana dengan terkejut sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan wajah memerah.


"Maaf, aku benar-benar minta maaf." Kata Marco dengan gugup.


"Hee.?" Saut Luciana dengan kebingungan.


"Ho, jadi kau memegang bagian itu Marco.? Ceroboh sekali." Kata Rudy.


"Tidak Rudy, aku benar-benar tidak sengaja." Kata Marco dengan ketakutan.


"Bu, bukan seperti itu Emma. Berhentilah menyudutkanku." Saut Marco dengan malu.


"Hm, baiklah. Itu mungkin keberuntunganmu Marco." Kata Rudy dengan tersenyum.


"Eh.? Jadi kau tidak marah padaku.?" Tanya Marco dengan terkejut.


"Untuk apa aku marah.? Tapi, KURANG AJAR SEKALI KAU." Teriak Rudy sambil menarik Marco dan memukulnya.


Buk, buk, "Ampuun Rudy, ampun." Teriak Marco.


"Hee.?" Suara Luciana dengan pelan sambil melihat Marco di pukuli.


"Aku tidak terima, berani sekali kau mendahuluiku. Bahkan aku belum pernah memegang barang seperti itu." Kata Rudy sambil berbisik kepada Marco.


"Itu yang aku takutkan." Saut Marco dengan berbisik.


"HEEE.??" buK Buk.


"Aku tidak tau permasalahannya. Aku juga tidak tau apa yang sudah di pegang oleh Marco. Tapi sebagai seorang Ayah, aku hanya bisa mengucapkan Terimakasih." Kata Raja Eden sambil menundukkan badannya di depan Marco yang sedang di hajar oleh Rudy.


SEP. Suara tangan Rudy yang berhenti memukul Marco. Lalu, mereka berdua pun menatap Raja Eden dengan tatapan yang tajam.


"Bodoh sekali dia." Kata Rudy.

__ADS_1


"Dia sudah tidak waras." Kata Marco.


"Huh, sudahlah. Masalah laki-laki sudah selesai disini." Kata Rudy sambil melepaskan tubuh Marco.


"Aku benar-benar mengucapkan terimakasih Marco." Kata Raja Eden sambil meneteskan air mata.


Marco pun melihat Raja Eden dengan terkejut. "Apa yang dia rasakan itu, bahkan wajahnya terlihat sangat tulus."


"Sekarang, selesaikan masalahmu Marco." Kata Rudy sambil duduk di sebelah Emma.


Lalu, Luciana pun berdiri dan menundukkan badannya. "Aku juga sangat berterimakasih padamu."


"He.?" Saut Marco dengan kebingungan. "Mereka berdua memang sudah tidak waras. Aku sudah memegang barangnya, tapi malah berterimakasih padaku."


Lalu. DRAP DRAP DRAP. Suara langkah kaki yang berlari ke arah kamar. "Lucianaa." Teriak sang Ratu dengan menangis. "Ibu." Saut Luciana.


"Luciana. Hiks." Ratu pun mengangis sambil memeluk Luciana dengan bahagia.


"Ibu, aku sudah tidak apa-apa." Kata Luciana dengan tersenyum.


"Kakak." Kata Ronald dengan terharu melihat Luciana yang sudah sadar. Lalu, ia pun berlari dan memeluk Luciana.


"Hoaa, kakak, kakak." Suara Ellena sambil menangis terseduh-seduh di depan pintu.


"Hiks, terimaksih semua." Kata Luciana dengan terharu.


"Kemarilah Ellena." Kata Raja Eden.


"Huu, huu." Suara tangisan Ellena sambil menghampiri Luciana.


"Kemarilah Ellena, peluk kakak." Kata Luciana dengan tersenyum.


"Hoaa, kakak." Ellena pun memeluk kakaknya itu dengan menangisa sangat kencang.


"Aku jadi terharu Rudy." Kata Emma dengan mata yang sudab berkaca-kaca. Tapi Rudy hanya terdiam saja melihat mereka semua.


Marco pun berdiri dan melihat keluarga kerajaan dengan sangat bahagia.


"Ternyata mereka juga punya perasaan tulus seperti itu" Kata Marco


"Sepertinya, akulah yang tidak waras disini."


...


Beberapa saat kemudian. Mereka semua pun sudah melepaskan kerinduannya. Bahkan para menteri dan pasukan kerajaan pun sampai berkumpul di depan kamar Tuan Putri.


"Apa benar Tuan Putri sudah sembuh.?" Tanya Leo dengan terkejut.


"Ah, bahkan aku mendengar Tuan Putri sekarang sudah bisa berjalan sendiri. Aku benar-benar sangat terharu." Kata Edward.


"Ini sebuah keajaiban." Kata Leo

__ADS_1


...


__ADS_2