
Beberapa jam berlalu. Daratan yang sangat luas di luar benteng Ferland, terlihat tumpukan mayat dan bauh darah yang sangat menyegat dari tubuh hewan iblis yang sudah di bunuh.
Emma dan lainnya berhasil membunuh semua hewan iblis yang ada disana. Bamun, masih ada beberapa hewan iblis yang datang.
"Hosh, hosh. Masih datang juga." Saut Marco sambil mengeluarkan ribuan dagger ke atas udara.
"Sudah berapa jam aku bertarung.? Bahkan tubuhku sudah ingin rubuh." Kata Marco.
Lalu. BREDOM DROMRR. Serangan area dari jarak jauh. "Sepertinya aku tidak repot-repot membereskan mereka." Kata Marco sambil berjalan ke arah benteng.
SWOS SWOS SWOS. "Tapi tetap saja, dagger itu harus di arahkan. Sudah terlanjur di keluarkan." Kata Marco sambil berjalan.
..
Di atas benteng.
"Apa perlu kita membakar mayat hewan iblis disana.?" Tanya Emma.
"Sebaiknya begitu, sangat berbahaya jika mayat-mayat itu di makan hewan iblis lainnya." Jawab Rudy.
"Baiklah." Saut Emma. BRASS. SWOSH SWOS SWOS. Suara semburan api biru yang di arahkan ke mayat-mayat hewan iblis.
BRLARSS. "Eh.? Sialan, apa mereka juga ingin membakarku.?" Saut Marco dengan terkejut sambil berlari.
...
Beberapa saat kemudian, terlihat kobaran api yang sangat besar dari daratan yang luas di luar benteng. Kebulan asapnya bahkan sampai terlihat dari kejauhan.
DEEP. Marco pun sampai di atas benteng.
"Apa kau sudah selesai.?" Tanya Rudy yang melihat Marco.
"Hampir saja kau membakarku disana." Jawab Marco sambil berjalan menghampiri Rudy.
"Kita memang harua membakarnya Marco, agar jiwa iblis tidak bersarang di tubuh mayat itu." Saut Emma.
"Ah, aku tau itu. Tapi, kenapa kau hanya rebahan saja Rudy. Aku kira yang membantuku adalah kau sendiri." Teriak Marco dengan kesal.
"Kenapa kau kesal begitu.?" Tanya Rudy.
"Huh, aku masih terbawa suasana. Bahkan para prajurit disana hanya diam saja seperti sampah." Kata Marco sambil menunjuk ke arah kawasan militer.
Lalu. "He.? Kemana mereka semua.? Bukankah mereka masih di dalam benteng ini.? Apa mereka bersembunyi ke dalam dungeon.?" Tanya Marco dengan terkejut melihat kawasan militer yang sudah kosong tanpa ada orang satu pun.
"Kita hanya berempat disini. Mereka semua pergi meninggalkan tempat ini menggunakan kapal." Jawab Rudy.
"He.?" Saut Marco dengan sangat tercengang.
SWOSH. Suara barrier yang menyelimuti kota. "Marahnya nanti saja, sekarang sudah ada kau disini, periksalah tubuh Rudy." Kata Emma.
"Bisa-bisanya mereka kabur mengunakan kapal, apa mereka semua meninggalkan kita semua disini.?" Saut Marco dengan kesal.
__ADS_1
"Diamlah, dan periksa tubuh Rudy." Kata Emma dengan serius.
"Emma.? Apa yang terjadi pada tubuh Rudy.?" Tanya Marco.
"Aku mencurigai tubuhnya terkena racun. Kau adalah pengguna skill potion beracun, biasakah kau merasakannya.?" Tanya Emma.
"Sebentar." Kata Marco sambil memegang kepala Rudy.
"Tidak mungkin." Kata Marxo dalam hati dengan terkejut.
"Apa kau bisa merasakannya Marco.? Dari tadi aku membicarakan hal ini bersama Emma." Saut Rudy.
"Ah, Tidak mungkin pemisahan jiwa prosesnya sangat lama, bahkan setelah Rudy meminum potion penetral jiwa, harusnya dia sudah bisa bergerak. Hanya kesadarannya saja yang pulih, tapi tubuhnya masih lumpuh." Kata Emma.
"Ini Racun yang mematikan Rudy, bukalah bajumu." Kata Marco.
Rudy pun membuka bajunya, dan terlihat tubuhnya memar berwarna ungu, bahkan otot-ototnya sekalipun berwarna ungu.
"Ini sangat mengerikan." Kata Rudy yang melihat tubuhnya sendiri.
"Sudah berapa lama kau terkena Racun ini.?" Tanya Marco.
"Aku tidak tau, sepertinya dari semalam." Kata Rudy.
"Apa jangan-jangan kau di racuni saat makan di dapur umum.?" Saut Marco dengan terkejut.
"Bisa jadi seperti itu." Kata Emma.
"Apa kau bisa menariknya kembali.?" Tanya Emma.
"Bisa, tapi kau harus menahanya Rudy. Karena racun ini akan keluar dari mulutmu." Jawab Marco.
"Aku akan menahannya." Saut Rudy dengan serius.
SUIING. "ARRRRGHH." Teriak Rudy yang kesakitan.
"Tidak bisa di percaya, bahkan mereka menghianati kita. Aku tidak bisa memaafkan ini." Kata Marco dalam hati.
SREE SREE. Suara racun yang keluar dari mulut Rudy. Dalam sekejap saja, tubuhnya kembali normal kembali.
SEP. Marco pun mengengam racun itu dengan sihir. "Ini Racunnya, memang sangat sedikit, tapi ini sangat mematikan." Kata Marco sambil memberikan racun itu kepada Emma.
"Kita harus mencari bukti lainnya." Kata Emma.
"Kau benar, mereka sangat keterlaluan." Saut Marco.
"Aaah, akhirnya aku bisa mengerakkan tubuhku lagi." Kata Rudy sambil berdiri.
"Oh iya, Dimana Rin.?" Tanya Marco.
"Dia aku suruh mencari koin yang terjatuh." Jawab Emma.
__ADS_1
"Sebaiknya koin itu jangan dipasang dulu, kerajaan sudah tidak beres. Aku merasa di manfaatkan sekarang." Saut Rudy dengan kesal.
"Kita harus membalasnya Rudy." Kata Marco.
"Ah, kita akan ke istana setelah ini. Tapi kumpulkan barang bukti dulu." Kata Rudy.
"Aku akan mencarinya." Kata Marco sambil berjalan menjauh dari sana.
"Tunggu Marco. Apa Lilia pergi bersama panglima kerajaan.?" Tanya Emma.
"Ah, dia pergi bersama Stevani dan Viona." Jawab Marco.
"Jika mereka benar-benar ingin mencelakakan kita, itu artinya Lilia dalam bahaya." Saut Emma.
"Ha.? Kurang ajar. Bahkan Lilia juga terjebak disana." Kata Marco dengan kesal.
"Cepat, periksa dia kedalam dungeon." Saut Rudy.
"Sialan." DEEP. Marco pun menghilang dari sana.
"Apa alasan mereka mencelakai kita.?" Tanya Rudy dengan penasaran.
"Sudah jelas karena kekuatan kita, mereka pasti tidak ingin ada yang lebih kuat dari mereka. Kerajaan bisa di ambil alih dengan paksa." Jawab Emma.
"Hm, jika kita lihat saat kita datang ke Akademi, Aneh juga, kenapa tiba-tiba Marco di angkat menjadi bangsawan. Lalu, Alicia meminta bantuan kepada kita, dan sekarang mereka meninggalkan tempat ini. Sebenarnya, apa yang mereka inginkan.?" Saut Rudy.
"Sudah jelas mereka sedang memanfaatkan kita Rudy." Kata Emma.
"Bukankah mereka ingin mengambil alih tempat ini.?" Tanya Emma.
"Itu benar, tapi apa kau tidak merasa curiga, saat Sang Raja menyepakati hak pengelolaan dungeon.? Sebenarnya mereka ingin menguasai seluruh wilayah ini." Jawab Emma.
"Kotor sekali cara mereka. Padahal aku sudah melakukan yang terbaik untuk kedua pihak, masih saja serakah seperti itu." Saut Rudy.
"Sifat mereka tidak jauh beda dengan para Iblis jaman dulu." Kata Emma.
...
Di tempat istana kota. Terlihat Rin sedang mencari koin Diamond disana.
"Dimana ya koin itu jatuh.?" Kata Rin sambil mencari di suatu ruangan.
"Disini juga tidak ada. Hm, barangnya terlalu kecil untuk di cari. Susah sekali." Kata Rin sambil berjalan menjauh.
Rin mencari koin itu dari luar istana sampai masuk kedalam istana. Bahkan ruangan setiap lantai ia masuki untuk mencari koin itu.
Tiba di saat ia masuk ke dalam salah satu ruangan, Rin melihat ada peti kayu yang sangat mencurigakan.
"Heh.? Apa itu.? Baru kali ini aku melihat peti di dalam istana yang sudah hancur. Apa jangan-jangan itu harta karun.?" Saut Rin sambil berlari ke arah peti itu.
...
__ADS_1