Leveling System Reincarnation

Leveling System Reincarnation
CH 24 - Rumor


__ADS_3

Terlihat, Rudy dan yang lainya sedang menunggu Emma di Bar Makan.


"Ini sudah larut malam, Kenapa Emma belum kembali. Bahkan dia sudah pergi dari pagi." Kata Rudy.


"Jika kau mengkhawatirkannya, sebaiknya kau periksa saja sendiri." Saut Marco sambil makan malam.


"Huh, sebaiknya kita tunggu saja disini." Kata Rudy.


Lalu, pengunjung Bar disana sedang membahas rumor kejadian di luar benteng.


"Apa kalian tau, kalau hewan iblis di luar benteng itu adalah Rank S.?" Kata Pengunjung A.


"Ah, aku juga mendengarnya. Ini benar-benar sangat mengkhawatirkan." Kata pengunjung B.


"Tapi beredar rumor, kalau Tuan Putri beserta pasukannya berhasil membunuh hewan iblis itu." Kata pengunjung A.


"He.? Apa itu benar.?" Tanya pelayan Bar.


"Itu benar, bahkan hewan iblis sekarang tidak bisa terdeteksi oleh menara." kata pengunjung A.


"Itu sangat mengerikan." Kata pelayan Bar.


"Ah, aku juga sempat tidak percaya. Tapi temanku memastikannya sendiri melihat ke benteng luar. Terlihat puluhan hewan iblis Rank S yang sudah terbunuh." Kata pengunjung A.


"Akhirnya kita mempunyai kesatria sungguhan. Aku merasa aman didalam benteng ini." Kata pelayan Bar.


"Tapi pasukan kesatria juga mengalami kerugian besar. Mereka kehilangan banyak nyawa. Dari jumlah 10rb an, yang kembali hanya 1rb an." Kata pengunjung A.


"Mereka mengalami begitu banyak kerugian. Bahkan hampir 90% nyawa yang hilang." Kata pengunjung B.


"Itulah alasanku berhenti menjadi prajurit. " Kata Pengunjung A.


...


"Rumornya tersebar begitu cepat." Kata Marco.


"Aku harap rumor tentang kita tidak tersebar. Itu sangat merepotkan." Kata Rudy.


"Besok para kesatria itu akan kembali ke istana di ibu kota." Kata Lilia.


"Dari mana kau mendapatkan informasi itu.?" Tanya Rudy.


"Aku mendengarnya dari para warga, mereka berkata kalau mereka akan di lantik menjadi kesatria dan menjadi seorang pahlawan." Jawab Lilia.


"Memang status sosial di dunia ini di tentukan oleh jabatan." Kata Rudy.


"Itu sudah pasti Rudy. Apa daya kita yang status sosialnya sebagai rakyat jelata." Kata Marco.


"Itu tidak penting Marco. Justru dengan ini aku sedikit melihat kekurangan dunia ini." Saut Rudy.


"Apa maksudmu.?" Tanya Marco.


"Apa kau tidak menyadarinya, para petinggi kota ini menyerahkan tugas yang berat kepada calon kesatria untuk pergi keluar benteng. Itu seperti mengorbankan nyawa demi uang." Jawab Rudy.


"Lalu, bagaimana mereka bisa mendapatkan uang.? Apa lagi di luar benteng itu di huni oleh hewan iblis Rank S. Justru mereka akan sangat miskin." Saut Marco


"Harusnya mereka membuat sistem alat tukar selain koin. Mereka harus membangun sebuah Bank untuk mengantikan koin sebagi alat tukar." Kata Eudy.


"Apa maksudmu.?" Tanya Rudy.


"Disini memang belum ada yang namanya Bank. Jika itu bangun, orang-orang bisa menukarkan koin dengan kertas sebagai penganti alat tukar. Tentu saja Bank hanya bisa mengeluarkan kertas itu dengan jumlah koin yang di tukarkan." Jawab Rudy.

__ADS_1


"Aku tidak paham apa maksudmu." Kata Lilia.


"Hem, mungkin Emma paham dengan ini." Kata Rudy.


"Tapi dia belum kembali." Kata Marco.


"Apa yang kau bilang belum kembali." Saut Emma dengan terengah-engah, bahkan rambutnya sampai berantakan.


"Eh, Emma.? Ada apa denganmu.?" Tanya Rudy.


"Rudy, mereka semua tidak memberikan quota untuk kita. Jadi aku mengamuk disana." Jawab Emma.


"He.? Apa kau menggunakan kekuatanmu.?" Tanya Rudy.


"Biarkan aku makan dulu. Aku belum makan seharian." Saut Emma sambil mengambil makanan milik Rudy.


"Kau terlihat sangat aneh Emma." Kata Rudy.


"Kau tau Rudy, mereka aku pukul dengan tanganku. Aku sudah sangat kesal menunggu seharian, lalu mereka bilang, quotanya sudah habis." Kata Emma sambil makan.


"Eh.? Jadi kita tidak bisa pergi ke Akademi.?" Tanya Rudy.


"Huh, tentu saja aku mendapatkan quota itu. Jadi kita berempat bisa pergi ke Akademi." Jawab Emma.


"Apa itu benar Emma.?" Tanya Rudy.


"Tentu saja. Hihi." Jawab Emma dengan tersenyum.


"Wah, terimakasih Emma." Kata Rudy sambil memeluk Emma.


"Ah, dia mulai." Kata Marco.


"Lepaskan aku Rudy, aku sedang makan." Kata Emma.


"Ah, maaf Emma. Aku hanya senang mendengarnya." Kata Rudy sambil melepaskan pelukannya.


"Sekarang pertanyaanku, apa kau pergi keluar sana hanya ingin melihat Tuan Putri.?" Tanya Emma dengan penuh ancaman.


"Eh.?" Saut Rudy dengan ketakutan.


"Kali ini dia akan marah." Kata Marco sambil memejamkan matanya.


"Rudy membuatnya cemburu." Kata Lilia.


"Teman-teman, tolong aku." Kata Rudy.


Buk buk. Rudy pun di pukul habis-habisan oleh Emma.


"A, aa." Suara Rudy sampai kejang-kejang di bawah tanah.


"Rasakan itu. Kau pikir kau bisa membohongiku. Tidak boleh ada perempuan lain." Kata Emma dengan kesal.


"Dia benar-benar sangat cemburu." Kata Lilia.


"Kau memukulnya sangat keras Emma. Bahkan pengunjung lainnya sampai berhenti makan." Kata Marco.


"Ini adalah urusan keluarga Marco. Mereka pasti bisa memahaminya." Saut Emma.


"Aaah. Baiklah." Kata Marco dengan tercengang.


...

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


"Iitteeeeh. Kau memukulku dengan sangat keras Emma." Teriak Rudy dengan kesal.


"Kau sangat tidak sopan dengan perempuan." Saut Emma.


"Hem. Aku benar-benar tidak tau isi hati perempuan." Kata Rudy dengan pasrah.


"Dia cemburu dengan Tuan Putri." Kata Lilia.


"Kenapa kau bisa cemburu Emma.? Apa kau punya perasaan denganku.?" Saut Rudy.


"Huh, aku sendiri tidak tau. Aku hanya merasa kesal saja." Jawab Emma.


"Eh.? Hanya itu alasanya.?" Saut Rudy.


"Padahal Emma lebih cantik dari pada Tuan Putri. Apa kau masih kurang Rudy.?" Kata Marco.


"Diamlah Marco. Ini hal yang berbeda." Kata Rudy.


"Baiklah, aku merasa sudah puas sekarang. Aku akan pergi tidur dulu. Selamat malam semua." Kata Emma sambil berdiri dan berjalan kekamarnya.


"Tunggu Emma, kenapa kau bisa memukulku.?" Tanya Rudy.


"Em.? Apa itu aneh.?" Saut Emma.


"Kau bilang kau tidak bisa menyerangku." Kata Rudy.


"Aku bilang kau dan aku tidak bisa saling menyerang, bukan memukul. Itu hal yang betbeda, semoga jawaban itu memuaskan." Kata Emma sambil berjalan kekamarnya.


"Apa maksudnya itu.?" Tanya Rudy dengan kebingungan.


"Mungkin yang dia maksud, kau tidak bisa menyerangnya dengan sihir." Kata Lilia.


"Heem." Suara Rudy yang berfikir.


"Itu masuk akal dengan kejadian barusan." Kata Marco.


"Sebaiknya aku makan saja." Saut Rudy.


...


Di dalam kantor gubernur. Terlihat seorang dokter yang keluar dari kamar Alicia.


"Apa Tuan Putri sudah sadar.?" Tanya Smith kepada dokter kerajaan.


"Lukanya sangat parah, tapi kondisinya sekarang sudah stabil. Tuan Putri butuh istirahat sebentar." Jawab Dokter itu.


"Semua kondisi prajurit ekspedisi benar-benar di luar dugaan." Kata Smith.


"Itu sudah wajar, bahkan informasi yang di berikan mereka sangat membantu Yang Mulia." Saut Dokter itu.


"Ah, kau benar Dokter. Tidak kusangka hewan iblis di luar sana Rank S." Saut Smith.


"Jika kondisi Tuan Putri terus stabil, mungkin besok sudah sadar." Kata Dokter itu.


"Ah, terimakasih banyak dokter." Saut Smith.


"Sama-sama Yang Mulia, saya undur diri." Kata Dokter itu.


..

__ADS_1


__ADS_2