
{Istana Kerajaan Alden}
Rudy dan lainnya pun berjalan menuju ruangan rapat yang sudah di siapkan. Terlihat jamuan makan yang sangat mewah disana.
"Mereka sudah datang." Kata Carlin yang menunggu kedatang Rudy dan lainnya bersama para petinggi lainnya.
"Ini jamuan yang besar untuk mereka." Kata Marcus.
"Aku harap mereka menyukainya." Kata Carlin.
TOK TOK. Suara pintu.
"Masukalah." Kata Raja Eden.
...
"Kita masuk sekarang, di dalam sudah di siapkan jamuan untuk kalian semua." Kata Alicia.
"Baiklah." Kata Emma sambil mengikuti Alicia masuk kedalam ruangan.
Tiba-tiba WOSSH. Aura sihir yang mematikan keluar dari dalam ruangan itu.
"He.?" Saut Rudy yang terkejut.
"Arrgh." Suara Alicia dan Rin yang yang kesakitan.
Buk. Tubuh Rin pun terjatuh karena tekanan Aura itu.
"Apa maksudnya ini ?" Tanya Rudy dengan serius.
"Apa kalian menjebak kita.?" Tanya Marco dengan kesal.
"Maaf, bukan seperti itu, kalian salah paham" Kata Alicia sambil memegang dadanya.
"Mereka sedang menguji kekuatan kita Rudy." Kata Emma.
"Ho, jadi mereka tidak percaya dengan kita.? Lilia, buat barrier untuk Rin." Saut Rudy.
"Oke." Saut Lilia. Woosh. Suara barrier yang menyelimuti tubuh Rin.
"Ini menakutkan sekali." Kata Rin.
Aura sihir itu keluar begitu lama. Bahkan istana sampai bergetar cukup kencang.
"Apa yang terjadi didalam.?" Tanya Rocky Ken dengan terkejut.
"Mungkin mereka sedang di sambut oleh para Yang Mulia." Jawab Stevani.
"Apa kita tidak perlu menyelamatkan para pelayan disana.? aku yakin mereka pasti pinsan disana." Kata Rocky Ken.
"Kita tidak ada wewenang masuk kedalam sana. Biarkan saja mereka." Saut Stevani.
...
Didalam istana, Emma pun berjalan kedepan dengan santai.
"Sepertinya dia tidak terpengaruh dengan aura ini." Kata Carlin yang melihat Emma berjalan menghampirinya.
Lalu, Emma pun duduk di depan Raja Eden dengan tenang.
"Hm, apa yang dia lakukan.?" Kata Rudy yang melihat Emma duduk.
"Dia, dia bisa menahan tekanan aura kita semua. Sangat mengejutkan." Kata Sean.
__ADS_1
"Hahaha, itulah yang kita harapkan." Kata Ana.
"Apa kalian semua sedang menguji kami.? Aura kalian tidak berpengaruh dengan kami." Kata Emma.
"Cukup." Kata Raja Eden.
Aura sihir mereka pun berhenti seketika.
"Apa kami lulus.?" Tanya Emma.
Mereka semua pun berdiri disana dan memberikan sambutan kepada Rudy dan lainnya.
"Selamat datang Sang Legenda." Kata Semua orang disana termasuk Raja Eden.
"Silahkan, duduklah." Kata Marcus kepada Rudy dan lainnya.
"Ah, terimakasih Tuan." Saut Rudy sambil berjalan ke arah kursi disana.
"Terimakasih sudah datang ketempat kami. Tidak kusangka Anda bisa menahan tekanan aura dari kami semua." Kata Raja Eden kepada Emma.
"Aku sangat terkejut melihat Tuan Putri langsung duduk begitu saja dengan tenang." Kata Marcus kepada Emma.
"Tidak perlu membesarkan masalah itu. Jadi apa yang akan kita bahas disini.?" Tanya Emma dengan serius.
"Dia berbicara seperti berbicara dengan teman lamanya." Kata Rudy dalam hati yang melihat Emma.
"Ah, sudah tentu kita akan membahas masalah Ekspedisi ke wilayah timur." Jawab Raja Eden.
"Aku rasa Anda sudah mendapatkan informasi itu dari Alicia. Kita langsung saja membahasnya." Kata Marcus disana.
"Marco, kau terlihat lebih gagah dari sebelumnya." Kata Ana kepada Marco.
"Hm, orang tua ini sangat menyebalkan sekali." Kata Marco dalam hati.
"Namaku adalah Carlin, di sebalah sana adalah Marcus, di sebelah sana adalah Sean, dan mereka berdua adalah Mahaguru dari Akademi Rousen, Rewin dan Ana. Lalu, beliau adalah Raja dari kerajaan Alden. Yang Mulia Eden." Kata Carlin.
"Em, Salam kenal Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya." Kata Rudy.
"Baiklah, perkenalkan Namaku adalah Emma, di sebelah sana adalah Rudy, di sebelah sana adalah Lilia dan Rin, dan dia adalah Marco, yang sebelumnya diangkat sebagai bangsawan disini." Kata Emma.
"Ho, jadi dia bernama Marco.?" Kata Marcus.
"Salam kenal Tuan." Saut Marco.
"Dan Anda adalah pemimpin dari kelompok ini.?" Tanya Raja Eden kepada Rudy.
"Salam kenal Yang Mulia." Kata Rudy sambil berdiri dan menundukkan badannya.
"Ah, jangan bersikap seperti itu di depan kami, bersikaplah seperti biasa saja." Saut Raja Eden.
"Baiklah." Kata Rudy sambil duduk kembali.
"Ekhm. Baik, kita mulai saja rapat kita." Kata Alicia.
"Silahkan." Kata Raja Eden.
"Kita mulai dari persiapan ekspedisi. Apa yang kau butuhkan untuk ekspedisi kali ini Rudy.?" Tanya Alicia.
"Hm, sudah aku katakan dari awal, kami hanya butuh tumpangan saja untuk berangkat kesana." Saut Rudy.
"Apa Anda tidak membutuhkan senjata dan perlengkapan lainnya.?" Tanya Raja Eden.
"Yang Mulia, panggil saja nama kami, aku rasa Emma sudah memperkenalkan kami semua sebelumnya. Aku merasa tidak nyaman jika Yang Mulia memanggilku dengan sebutan Anda." Jawab Rudy.
__ADS_1
"Baiklah Rudy, apa kau benar-benar hanya membutuhkan itu.?" Tanya Raja Eden.
"Kami sudah mempunyai perlengkapan sendiri Yang Mulia, jadi tidak perlu mempersiapkan apapun." Jawab Rudy.
"Baik, keluarkan senjata dan perlengkapan itu kemari." Kata Raja Eden kepada para pelayan.
Pelayan istana pun membawa beberapa perlengkapan perang di depan Rudy dan lainnya.
"Mungkin kalian akan tertarik dengan senjata itu sebagai alat pertempuran disana." Kata Raja Eden.
...
"Heh.? Apa mereka menawarkan item sampah ini kepada kami.? Bahkan milik Rin jauh lebih bagus dari ini." Kata Marco dalam hati.
...
"Maaf Yang Mulia, kami sangat menghargai pemberian Anda, tapi kami tidak bisa membunuh hewan iblis dengan item seperti ini." Kata Rudy.
"Apaa.?" Saut semua orang disana dengan terkejut.
"Ekhm. Ini adalah item langkah yang aku tempa dari bahan super langkah di luar sana. Dan semua perlengkapan ini adalah yang terbaik dari yang terbaik untuk saat ini." Kata Raja Eden.
"Ini seperti item sampah bagi kami." Kata Emma dengan terang-terangan.
"Heee.?" Mereka pun sangat terkejut dengan pernyataan Emma.
"Tidak bisa di percaya. Bahkan item legend seperti itu di bilang sampah." Kata Carlin.
"Baiklah, lalu seperti apa item yang kalian punya.?" Tanya Carlin dengan serius.
"Maaf Nyonya. Kita datang kesini bukan untuk membahas masalah item, tapi kami datang untuk membahas masalah ekspedisi." Kata Rudy.
"He.? Ah, Kau benar. Baiklah jika kalian tidak membutuhkan Item ini." Kata Carlin sambil memberikan kode kepada pelayan kerajaan untuk mengambil semua item disana.
"Baik, kita fokuskan saja pembahasan kita untuk ekspedisi kali ini. Kira-kira, bagaimana strategi yang akan kalian gunakan.?" Tanya Raja Eden.
"Tentu saja kami hanya perlu membunuh hewan iblis disana. Tidak ada strategi yang pasti di lapangan. Semua bisa berubah sewaktu-waktu, strategi itu muncul dengan sendirinya saat kita mengetahui kondisi yang sebenarnya." Jawab Rudy.
"A, dia memang seorang pemimpin." Kata Carlin dalam hati.
"Maaf sudah meragukanmu, aku percaya kalian akan berhasil disana. Tapi apakah syarat yang kalian berikan kepada kami sudah benar.?" Tanya Raja Eden.
"Aku sudah menyampaikannya pada Alicia, hanya itu syarat yang kami berikan. Apa Anda sanggup untuk memenuhi syarat itu Yang Mulia.?" Tanya Rudy
"Sudah pasti kita sanggup memenuhinya." Jawab Raja Eden.
"Baiklah, kita selesai sampai disini." Saut Rudy.
"Apa hanya itu yang akan kalian sampaikan pada kami.?" Tanya Sean.
"Jika kalian sudah memahami syarat yang kami berikan, sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas Tuan." Jawab Rudy.
"Baiklah kalau begitu. Pembahasan ekspedisi cukup sampai disini, sekarang mari kita bahas item yang akan kalian gunakan. Apa kau keberatan.?" Tanya Sean.
"Hm, kalian sangat penasaran sekali. Aku berikan contoh kecil saja. Keluarkan senjatamu Rin." Kata Rudy
"Baik kak." Saut Rin.
Wosh Keluarlah senjata Rank S+ dari cincin penyimpanan milik Rin.
"Ha.? Senjata ini benar-benar di luar dugaanki." Kata Raja Eden dengan terkejut.
...
__ADS_1