
Didalam hutan tempat Emma berada. Ellena sedang berbincang dengan Emma, lalu Rin tidur dengan pulas disana.
"Apa kakakku akan baik-baik saja Kak Emma.?" tanya Ellena.
"Tentu saja, kan ada kak Marco disana. Dia pasti akan melindungi kakakmu. Kau tidak perlu khawatir." jawab Emma dengan tersenyum.
"Em, baiklah kalau begitu, apa kita tidak kembali ke rumah saja kak.?" tanya Ellena.
"Kita akan disini sampai pelatihannya selesai, tentu saja untuk membuatmu semakin kuat." jawab Emma.
"Ah, aku tidak menyangka, aku bisa mempelajari skill baru dari kak Emma, aku sangat senang." saut Ellena.
"Benarkah.?" saut Emma dengan tersenyum.
Tiba-tiba DEEP. Lilia pun sampai disana. "Huh, ternyata kalian disini."
"Eh.? Lilia. Ada apa.?" tanya Emma.
"Aku hanya kesepian saja. Rudy juga pergi mencari tempat untuk Royal Unity. Jadi aku memutuskan kesini saja." jawab Lilia.
"Jadi semakin ramai." saut Ellena.
"Ellena, apa kau tidak tidur.?" tanya Lilia.
"Aku masih ingin bangun. Tadi aku sama bocah itu membunuh banyak sekali hewan iblis disana." jawab Ellena.
"Ah, benarkah.? Kau semakin kuat Ellena." kata Lilia.
Rin pun bangun. "Dia menggunakan apinya untuk menyerangku juga." kata Rin.
"Itu salah mu sendiri, kenapa kau tidak menghindarinya. Dasar bocah." teriak Ellena.
"Aa, ah. Kau sendiri masih bocah." saut Rin.
"Apaa.?" teriak Ellena sambil berdiri.
"Sepertinya dia semakin akrab. Hahaha." kata Emma dengan tertawa.
...
Di tempat Marco dan Luciana. Suasana di sana masih terlihat sangat canggung.
"Apa kau takut sendirian disini.?" tanya Marco.
"Ah, itu. Aku hanya takut dengan malam. Tapi jika ada yang menemaniku disini, aku merasa aman." jawab Luciana dengan panik.
"Huh. Baiklah." saut Marco sambil menghelah nafas.
"Aku tidak merepotkanmu kan.?" tanya Luciana.
"Kau merepotkanku." jawab Marco.
"Aa, ah. sudahlah." kata Luciana dalam hati.
"Apa kau tidak takut jika aku melakukan sesuatu padamu.?" tanya Marco.
"Tidak. Aku percaya kau bukan orang seperti itu." kata Luciana dengan tersenyum
__ADS_1
"Hm, baiklah. Aku juga ingin meminta maaf padamu." saut Marco.
"Eh, tentang apa.?" tanya Luciana.
"Aku harus mengatakannya padanya. Kalau aku sudah memegang dadanya cukup lama saat itu." kata Marco.
"Ini, soal waktu itu. Sejujurnya aku tidak sengaja memegang barangmu cukup lama. Yaah, ternyata besar juga sih." kata Marco dengan wajah memerah.
"Eh.? Apa kau benar-benar memegangnya.?" tanya Luciana dengan sangat terkejut dengan wajah memerah.
"Sebaiknya aku berkata jujur bukan.? Tapi aku minta maaf padamu." jawab Marco.
"Kau sudah berlebihan dengan tubuhku Marco, kau bahkan sudah menciumku." saut Luciana dengan sedikit kesal.
"Aa, itu juga tidak di sengaja kan.?" saut Marco.
"Tapi tetap saja, kau sudah menyentuh bagian sensitifku." kata Luciana dengan kesal.
"Aku tau itu, mangkanya aku minta maaf padamu." kata Marco dengan sedikit kesal.
"Kau harus bertanggung jawab Marco. Aku tidak mau menjadi bekasmu." saut Luciana.
"Eh.? Apa yang kau pikirkan. Aku bahkan tidak melakukan apapun padamu." kata Marco dengan panik.
"Kau sudah menyentuh tubuhku, jadi kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau lakukan." kata Luciana dengan kesal.
"Bagaimana aku bertanggung jawab.?" tanya Marco.
"Kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja." jawab Luciana.
"Aku tidak meninggalkanmu, bahkan sekarang aku masih disini." saut Marco.
"Eh.?" saut Marco dengan terkejut melihat Luciana marah.
"Sudahlah, kau tidak akan paham dengan maksudku." kata Luciana dengan marah.
"Aa, apa yang harus aku lakukan untukmu.?" tanya Marco dengan gugup.
Luciana pun hanya terdiam dengan cemberut. Dia benar-benar marah dengan Marco.
"Apa yang terjadi padanya, kenapa dia marah begitu." kata Marco.
"Aku bahkan sudah berjuang mengikutimu sampai kesini, tapi kau masih tidak paham.?" kata Luciana.
"Aku tidak paham dengan maksudmu, tapi jika kau memintaku untuk menikahimu, pikirkanlah lagi. Aku hanya orang biasa, tidak sepertimu yang memiliki kedudukan tinggi." kata Marco.
"Aku tidak masalah dengan itu, aku juga tidak masalah jika kau rakyat jelata. Hanya kau satu-satunya yang bisa memberikanku kebebasan." Kata Luciana.
Marco pun hanya terdiam disana tanpa berbicara apapun.
"Yang ku inginkan adalah, terus bersamamu. Bahkan jika aku di usir dari istana pun, aku tidak perduli." kata Luciana dengan marah.
"Apa kau bodoh.?" tanya Marco.
"Lalu, bagaimana caranya menghilangkan rasa cinta ini.? Beritahu aku." teriak Luciana sambil menangis.
"Ha.?" saut Marco dengan sangat terkejut
__ADS_1
"Hiks, beritahu aku Marco, hiks. Aku tidak akan mengikutimu lagi. Hiks hiks." kata Luciana sambil mengangis didepan Marco.
"Perasaan tulus itu. Dia berkata dengan tulus, apa dia sudah jatuh cinta padaku.?" kata Marco dengan merenung.
"Hiks, hiks." Suara Luciana yang menangis. Ia juga berusaha mengusap air matanya itu.
"Aku ingin pergi dari sini. Aku sudah tidak berharap banyak." kata Luciana sambil menahan air matanya. Lalu ia pun berdiri.
"Apa yang harus aku lakukan.?" kata Marco dengan panik.
"Aku akan pergi, semoga kau tidak terganggu olehku lagi." kata Luciana sambil berjalan menjauh dari sana.
GLEP. tangannya pun ditahan oleh Marco.
"Aku tidak tau perasaanmu, tapi kau sudah memaksanya." kata Marco.
"Hiks, aku juga tidak tau, jika kau masih membenciku, lalu apa yang bisa aku lakukan.?" Saut Luciana.
Marco pun masih terdiam disana, lalu tangannya di lepaskan.
"Kenapa hatiku ikut sakit, apa aku juga sudah jatuh cinta padanya. Aku merasa ada sesuatu yang hilang." kata Marco.
"Hiks, baiklah jika ini maumu." kata Luciana sambil membalikkan badan.
Lalu, Marco pun memeluk Luciana dari belakang.
"Ha.?" saut Luciana dengan terkejut.
"Kau memaksaku untuk cinta padamu." kata Marco. Namu Luciana hanya terdiam.
"Kau tau, kau adalah satu-satunya orang yang paling aku benci, dan tiba-tiba menjadi orang yang paling aku cintai." kata Marco.
Luciana pun membalikkan badannya dan melihat wajah Marco yang sudah berkaca-kaca ingin menangis
"Aku juga tidak tau apa yang harus aku lakukan untukmu.?" kata Marco.
"Jika kau sangat mencintaiku melebihi apapun, rasa tulusmu itulah yang mampu merubah rasa benci ini." kata Marco.
Tiba-tiba Luciana pun memeluk Marco dengan sangat erat sambil menangis.
"Aku sangat mencintaimu Marco, sejak saat itu, aku sudah mencintaimu." kata Luciana dengan menangis.
"Berhentilah menagis, hatiku terasa sakit. Aku hanya ingin kau bersamaku disini." kata Marco
"Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini Marco, aku juga tidak bisa menahan air mata ini." kata Luciana.
"Maafkan aku." kata Marco, lalu ia pun mencium Luciana dengan penuh cinta. "He.?" saut Luciana dengan terkejut.
Luciana pun membalas ciuman Marco itu dengan penuh cinta. "Aah" saut Luciana.
Mereka pun berciuman cukup lama disana. Sampai akhirnya Marco melepas ciumannya.
"Kenapa aku bisa sangat mencintaimu Luci.?" tanya Marco.
"Aku tidak tau. Yang aku tau adalah aku juga mencintaimu, terimakasih. Terimakasih sudah membalas cintaku." kata Luciana.
Marco pun menciumnya lagi. Dengan pemandangan hutan saat malam hari, dan di sinari api unggun. Suasananya sangat merindukan.
__ADS_1
Mereka pun berciuman dengan sangat penuh cinta.
...