
"Di akademi nanti, kau akan belajar banyak hal. Jadi belajarlah dengan giat." Kata Emma.
"Aku lebih suka belajar darimu. Tujuanku ke Akademi adalah memperbanyak teman, dan bersosialisai seperti yang kulakukan di duniaku dulu." Kata Rudy.
"Kau gagal bersosialisasi di duniamu dulu, kau hanya ingin melakukan hal yang sama untuk membersihkan kegagalanmu itu." Saut Emma dengan tersenyum.
"Aku cukup menderita disana, dan aku tidak ingin gagal lagi di kehidupanku yang kedua." Kata Rudy.
"Apapun yang kau lakukan, aku akan selalu ada untukmu Rudy." Kata Emma.
"Aku sangat bersyukur kau ada untukmu Emma." Kata Rudy dengan tersenyum.
"Akulah yang berterimakasih padamu Rudy, tanpamu, mungkin aku masih dalam bentuk jiwa." Saut Emma.
"Hehe, sama-sama Emma." Jawab Rudy.
...
Waktu keberangkatan ke ibu kota pun akhirnya tiba. Semua orang berbondong-bondong mengantarkan anaknya ke pelabuhan.
Tempat itu di penuhi dengan banyak orang. Ikan terbang itu akan berangkat mengangkut calon siswa Akademi dan para bangsawan.
Semua orang yang akan berangkat ke ibu kota sudah naik ke dalam kapal. Sedangkan Rudy dan Emma masih santai menunggu Marco dan lainnya.
"Sepertinya kita akan berangkat tahun depan." Kata Rudy.
Lalu, terlihat 3 orang yang sedang berlari menuju pintu masuk kapal dengan berteriak.
"Minggir semua, tolong minggir. Kita akan tertinggal kapal ikan." Teriak Marco sambil berlari ke arah tangga menuju pintu masuk kapal.
Tiba-tiba. "Berhentiii." Teriak petugas kapal.
"Kita sedang buru-buru pak, biarkan kami masuk." Kata Marco dengan panik.
"Huh, tunjukan tiketmu." Kata Petugas itu.
"Eh.? Apa perlu benda seperti itu.? Kami bertiga sudah di terima masuk ke Akademi." Saut Marco.
"Tanpa tiket kalian tidak boleh masuk." Kata Petugas kapal.
"HEEE.?" Teriak Marco dengan terkejut.
"Apa Rudy dan Emma sudah di dalam Marco.?" Tanya Lilia dengan panik.
"Aku sendiri tidak tau." Jawab Marco dengan kebingungan.
"Sebaiknya kita kembali saja kak, badanku sudah tidak kuat." Kata Rin yang sedang di gendong oleh Marco.
"Kau diam saja bocah." Kata Marco.
...
Di tempat Rudy dan Emma.
"Ah, mereka sudah disana Emma." Kata Rudy yang melihat Marco di atas pintu masuk kapal.
"Hihi, ternyata mereka datang juga." Saut Emma.
"Kita kesana Emma, cepatlah." Kata Rudy sambil berlari.
"Baiklah." Saut Emma sambil berlari mengikuti Rudy.
...
Di tempat Marco.
__ADS_1
"Tunggu sebentar Tuan, aku akan menghubungi keluargaku." Kata Marco sambil mengirimkan pesan kepada Rudy.
Lalu. "Tidak perlu mengirimkan pesan, kami sudah disini." Kata Rudy.
"Ah, Rudyy, akhirnya aku bertemu denganmu, aku sudah ke penginapan, tapi kau dan Emma tidak ada disana. Jadi kami berlari kesini." Saut Marco.
Emma pun memberikan 5 tiket masuk kepada Petugas.
"Apa kalian tidak menerima pesan dari Emma.?" Tanya Rudy.
"Aku sempat membacanya Rudy, tapi tidak sempat membalasnya." Kata Marco.
"Apa yang kalian lakukan sampai tidak bisa membalas pesan itu.?" Tanya Rudy.
"Kami sedang masuk kedalam dungeon yang kau temukan kemarin." Jawab Lilia.
"Eh.?" Saut Rudy terkejut.
"Kita bahas di dalam Rudy. Kita masuk sekarang." Kata Emma sambil berjalan masuk kedalam kapal.
"Ah baiklah, kita masuk dulu Rudy." Kata Marco.
"Lain kali jangan sampai terlambat lagi Tuan. Silahkan." Kata Petugas kapal dengan tersenyum.
"Terimakasih banyak Pak." Saut Marco.
Mereka semua pun masuk kedalam kapal ikan terbang. Di dalam sana banyak sekali orang-orang yang berkeliaran. Bahkan bar dan tempat duduk ada dimana-mana.
"Waah, didalam sini jauh lebih bagus lagi." Kata Rudy sambil melihat-lihat.
"Tempat ini sangat mewah sekali." Kata Marco.
"Aku memesan tiga kamar disini. Aku akan bertanya dulu tempatnya." Kata Emma sambil berjalan ke arah petugas di dalam kapal.
"Kenapa harus tiga.? Disini ada 5 orang." Saut Rudy.
"Aah." Saut Rudy dengan tekejut.
"Kita tunggu disana saja Rudy." Kata Marco.
"Baiklah." Jawab Rudy.
...
Beberapa menit kemudian, Emma pun datang mengahampiri Rudy dan lainnya.
"Tempatnya ada di lantai atas. Kita harus berjalan kaki kesana." Kata Emma.
Mereka semua pun berjalan mengikuti Emma.
"Lalu, bagaimana dengan pembagian kamarnya.? Apa masih sama pembagiannya dengan penginapan itu.?" Tanya Rudy.
"Aku dan Lilia akan memakai kamar yang berbeda. Kalian bertiga akan sekamar." Jawab Emma.
"Eh.? Yang benar saja." Saut Marco dengan terkejut.
"Kau tenang saja, kamar kalian memiliki 3 kasur disana. Tentu saja kamar kalian lebih besar dari pada tempat kami." Kata Emma.
"Baiklah kalau seperti itu." Saut Marco.
Didalam perjalanan, mereka pun membicarakan tentang dungeon yang di masuki Marco dan lainnya.
"Marco, kau bilang kalian pergi ke dalam dungeon, apa maksudmu.? Bukankah kalian sedang melatih Rin.?" Tanya Rudy.
"Kak Marco memaksaku pergi kedalam sana Kak." Saut Rin dengan lemas.
__ADS_1
"Aku melatih Rin langsung kelapangan." Jawab Marco.
"Huh, kau membahayakan nyawanya Marco." Saut Rudy.
"Kami awalnya tidak bermaksud pergi kedalam, tapi hewan iblis Rank tinggi disana mulai berkurang. Jadi kami memutuskan untuk pergi ke dalam dungeon." Kata Marco.
"Situasi disana berbeda saat kita datang kembali Rudy. Hewan iblis sekarang tidak sebanyak waktu itu." Kata Lilia.
"Tentu saja mereka akan pergi dari sana, mereka tidak akan menemukan pintu masuk kedalam neraka." Saut Emma.
"Sepertinya masuk akal. Lalu, pelatihan macam apa yang kau berikan padanya.?" Tanya Rudy.
"Kau tau sendiri Rudy, aku lemah dalam teori, jadi aku membiarkan Rin berburu sendiri." Jawab Marco.
"Eh.? Apa itu benar Rin.?" Tanya Rudy.
"Kak Marco tidak membantuku sama sekali Kak, aku bertarung sendirian disana." Jawab Rin dengan lemas.
"Aku mengawasinya dari kejauhan. Tapi kau lihat sendiri hasilnya, bagaimana dengan kekuatannya sekarang." Kata Marco dengan tersenyum.
"Dia sudah mencapai Level 58, Rank CC. Itu sudah jauh melampaui anak seusiannya." Saut Emma.
"Eh.? Kau sangat berbahaya sekarang. Jangan gunakan kekuatanmu itu untuk membully teman-temanmu nanti." Kata Rudy.
"Em, aku tidak akan memukul mereka." Saut Rin.
"Gunakan kekuatanmu itu hanya untuk membela diri. Aku akan sangat kerepotan jika kau membuat keributan." Kata Rudy.
"Baiklah kak. Aku tidak akan mengecewakanmu." Jawab Rin.
"Hahaha, ingatlah satu hal Rin, aku adalah satu-satunya gurumu." Kata Marco.
"Kau sangat menyebalkan Kak." Saut Rin.
"Apa yang kau bilang.?" Teriak Marco sambil memukul bokong Rin.
"Ah, hentikan itu kak, badanku masih lemas." Saut Rin.
"Kenapa dia jadi lemas begitu.?" Tanya Rudy.
"Aku dan Marco menemukannya pinsan di dalam dungeon. Sepertinya dia belum terbiasa berburu sendiri." Jawab Lilia.
"Huh, kenapa kalian membiarkannya sendirian." Saut Rudy sambil menghela nafas.
"Tentu saja untuk membuatnya lebih kuat." Kata Marco.
"Sampai lantai berapa dia masuk kedalam.?" Tanya Rudy.
"Dia berhasil masuk sampai lantai 26 dalam 2 hari. Itu membuatku terkejut." Jawab Lilia.
"Apa lantai satu ada hewan iblis.? Sepertinya aku tidak menyisahkan hewan iblis waktu itu." Tanya Rudy.
"Ada. Hewan iblis disana sudah ada dari lantai satu." Jawab Lilia.
"Apa mereka pindah kesana Emma.?" Tanya Rudy.
"Jika tempat itu kosong, sudah tentu mereka memilih tinggal disana." Jawab Emma.
"Hoo, jika seperti itu, kau sudah membantu mengurangi hewan iblis yang berkeliaran di hutan Rin." Saut Rudy.
"Ahaha," Saut Rin tertawa malu.
"Baiklah, kita sudah sampai di kamar kalian. Aku dan Lilia ada di pojok sana. Ini kuncinya." Kata Emma.
"Apa kau bercanda Emma. Kamar ini kamar VVIP." Kata Rudy dengan tercengang.
__ADS_1
"Hihi, aku menyuap mereka dengan beberapa koin. Nikmati saja Rudy. Daah." Saut Emma dengan tersenyum.
...