
Bagaskara kembali menemui Samuel yang tengah serius memainkan ponselnya.
"Sam, gimana kalo kamu besok ikut papah ke kantor! Papah akan ngajarin kamu ngurus kantor agar nantinya kamu bisa mandiri, bisa menentukan arah tujuan kamu,"
Samuel menghentikan aktifitasnya. Ia menaruh hapenya di atas meja. Sambil menghirup nafas, Samuel tersenyum dan berkata, "Samuel mau kejar paket dulu, Pah. Setelah lulus, Samuel mau kuliah. Mungkin bisa juga sih sambil belajar di kantor," tutur Samuel.
"Gak usah kejar paket, kamu bisa menjadi CEO tanpa ijazah," tutur Bagaskara.
"Ijazah itu sangat penting, Pah. Gak mungkin aku kerja tanpa gelar dan ijazah. Oh iya, ngomong-ngomong, kenapa aku bisa sampai gak lulus sih? Gak rampung juga sekolahnya. Ada apa, Pah?" tanya Samuel yang masih keheranan.
Bagaskara menghela nafas panjang. "Malas banget jika Papah harus bahas masa lalu kamu yang mencoreng nama Papah. Sudah lah, kamu jangan tanyakan soal itu lagi. Dengan keadaan kamu yang amnesia Papah merasa beruntung juga. Kamu menjadi pribadi yang baik, mau maju, dan memperbaiki segala kesalahan kamu. Tapi, Papah gak bisa terima karena orang yang udah buat kamu hilang ingatan belum berhasil Papah tangkap," ucap Bagaskara geram.
__ADS_1
"Maaf, Pah. Samuel benar-benar tidak ingat. Jika memang dulu, Samuel banyak melakukan kesalahan terhadap Papah, Samuel banyak minta maaf, Pah. Samuel akan menebus semuanya," ujar Samuel dengan tatapan sendu.
Bagaskara tersenyum mendengar permintaan maaf dari Samuel. "Papah udah maafin kamu, semenjak kamu berubah. Papah harap, jika suatu hari ingatan kamu pulih, kamu tetap menjadi yang sekarang. Tidak kembali seperti dulu," ucap Bagaskara lalu menepuk pundak Samuel.
Samuel mengangguk sambil tersenyum. Bagaskara kemudian meninggalkan Samuel seorang diri di ruang keluarga.
***
"Gimana, boleh ngga San?" tanya Hana yang duduk disamping Hasan.
Hasan tidak bergeming dan sibuk dengan laptopnya.
__ADS_1
"San, San," Hana menggoyangkan lengan Hasan dengan cepat agar Hasan mau meliriknya. Namun lagi-lagi Hasan masih saja diam.
"Kamu masih marah soal kejadian di gunung tadi? Itu kan gak disengaja, San! Aku tergelincir, Raja nolongin aku. Gak sengaja dia malah ikut jatuh juga," ucap Hana kesal karena terus diabaikan sejak dalam perjalanan pulang hingga sampai di rumah.
"Dia itu sengaja ikut jatuh juga biar bisa nyium kamu. Gimana aku gak marah coba, Han. Banyak banget sih laki-laki yang mau deketin kamu. Apalagi mereka semua mesra sama kamu. Dan kamu mau aja ngladenin mereka," jawab Hasan ketus.
"Ya ampun, Hasan! Soal itu kan emang gak disengaja. Coba kalo gak ada Raja, aku mungkin udah jatuh ke bawah masuk jurang. Kamu harusnya bersyukur dong jangan malah marah,"
"Tapi dia nyium kamu, di depan mata aku sendiri!" seru Hasan dengan wajah yang sudah merah.
"Itu gak sengaja, San. Karena emang posisi kita yang bertumpang tindih. Oke aku minta maaf soal kejadian tadi. Aku udah minta maaf bolak-balik juga sama kamu. Terserah kamu mau maafin aku apa nggak. Yang jelas aku sudah minta maaf. Aku mau pergi ke rumah Mamah Darma. Mau nginep di sana, assalamu'alaikum," Hana pergi begitu saja setelah kalimatnya tidak di respon.
__ADS_1
Hasan merasa sangat geram, hatinya terlalu sakit tiap kali mengetahui istrinya dekat dengan laki-laki lain dan laki-laki tersebut selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan. Ditambah lagi, Hana yang terlihat polos membuatnya berlipat-lipat menahan amarah.