Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
14. Siapa Wanita Yang Di Sukai Kaka?


__ADS_3

Hana menjawab dengan tanpa selera.


"Iya, Mah!" jawab Hana lesu.


"Ya udah, Mama nyiapin makan malem dulu, yah," ucap Bu Darma sambil beranjak dari tempat duduknya.


Bu Darma meninggalkan Hana di gazebo sendirian. Hana memandang jauh ke depan. Ia sangat lelah dengan hari ini.


"Ya Alloh, apa aku siap dengan besok? Sedangkan pada hari ini, aku baru saja mengalami hal yang tidak menyenangkan ...


Apakah orang yang akan dijodohkan denganku, benar-benar orang yang baik, pintar, dan sudah mandiri? Seperti apa yang dikatakan oleh, Papa?"


Pikiran Hana berkecamuk, ia tampak stres memikirkan hal tersebut.


Sementara itu, Samuel terus terngiang perkataan Hasan tadi siang saat Hasan berbisik di telinganya.


"Kira-kira, siapa cowok itu! Dia bilang, dia akan membuatku keluar dari sekolah. Apa dia satu sekolah denganku? Atau malah sebaliknya? Aku harus cari tau siapa dia," ucap Samuel dalam hatinya, sambil menahan sakit di wajahnya karena babak belur di pukul Hasan.


"Aku tidak menyangka bisa nglakuin hal senekad itu kepadamu, Han! Aku pikir, kamu bakalan beda, dan kamu bakal mau jadi pacar aku, ternyata kamu malah nyakitin hatiku, Han!"


Samuel berkata dengan sedikit menyesali perbuatannya.


Ada rasa yang sangat bersalah dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


Sementara itu, Hasan tengah berada di bengkel milik temannya. Ia mengecat warna sepeda motornya dan mengganti suara knalpotnya menjadi alus tak bersuara. Lalu helmya juga, dia rombak abis dari warna dan motif.


"Beneran nih, mau kamu rombak semua? Motor sama helm mu, Le?" tanya Rido pemilik bengkel.


"Yakin lah, aku udah bosen sama motifnya," jawab Hasan dengan cepat.


"Hah! Serius? Motor ini baru kamu rombak tiga hari yang lalu loh! Dan kamu lagi suka-sukanya sama motif ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi, iya kan?" tebak Rido.


"Udah garap aja, aku mau, besok harus udah siap yah," kata Hasan.


"Idih, koq maksa sih. Harusnya, kamu antrian terahir nih. Untungnya, kamu temenku,kalo bukan, udah aku dupak dari sini,"

__ADS_1


Hasan tersenyum tipis mendengar penuturan Rido. Ia kemudian teringat dengan hape Damar yang masih ia kantongi. Hasan lalu mengambilnya dan melihat-lihat isi dalam hape Damar.


"Wah bakal galau badai nih si, Damar. Udah tadi siang pertanyaan–nya gak aku jawab, eh hapenya pula aku lupa balikin. Kira-kira, tadi siang dia nungguin aku gak yah? Hehehe, biarin aja deh, dia galau buat semaleman ... Em, gak papa kali yah, aku utak atik hapenya ... Oh iya, Damar kan satu SMP sama Hana dulu. Aku intip galerry nya deh, hihihi, maaf ya, Dam!" Hasan berkata dalam hatinya sambil cengengesan.


Rido yang melihat Hasan tertawa sendiri, menggelengkan kepalanya karena merasa heran.


Hasan terbelalak saat melihat gallery di hape Damar. Ternyata, banyak Poto Hana yang tersimpan, dibandingkan Poto selfinya sendiri.


"Gila nih anak, emang fanatik banget ya sama si Hana! Tapi ngomong-ngomong, Hana cute banget yah," kata Hasan sambil tersenyum memandangi poto Hana.


Rido yang tengah sibuk merombak motornya, merasa risih dengan gelagat Hasan yang tersenyum sendiri. Rido pun menyeletuk mendengar kalimat terakhir Hasan.


"Eh, siapa tuh yang kamu bilang cute? Aku yak?" tanya Rido dengan suara keras.


"Idih najis tralalala! Nyambung aja sih," ucap Hasan.


"Wkwkkwk, liatin Poto siapa sih! Pacar mu? Liat donk!" tanya Rido kemudian berjalan mendekati Hasan.


Rido melongok ke dalam hape yang tengah di pegang oleh Hasan, dengan secepat kilat, Hasan menutup hape Damar.


"Selesai–in motor ku, abis itu, baru boleh liat Poto cewek! UPS!" Hasan menutup mulutnya sendiri.


"Yah, keceplosan dia! Hahaha ... Kamu lagi liatin poto cewe? Jangan-jangan gambar porno ya? Awas ati-ati kamu, San!"


"Kalo ngomong jangan ngawur, Do! Udah kerjain aja kerjaanmu!" ucap Hasan kesal kemudian memasukan hape Damar ke dalam saku celananya.


Rido tertawa, lalu meneruskan pekerjaannya.


"Le, gimana kabar kakamu? Dia masih di luar negeri?"


"Baik. Iya betah banget dia di sana," jawab Hasan sambil menghela nafas.


"Udah kelas tiga ya? Wah, bentar lagi kuliah dia,"


"Eh, Do! Kenapa kamu gak nerusin sekolah lagi? Kamu kan pinter,"

__ADS_1


"Pinter sih pinter, Le. Cuman, biasalah orang kecil kaya aku, kendalanya banyak," jawab Rido dengan mata tertuju pada motor Hasan.


"Siapa bilang kamu orang kecil, badan besar gitu, bilang kecil! Hehehe!" ledek Hasan terkekeh.


"Sialan, kamu!" jawab Rido sambil tersenyum, menyadari tubuhnya yang memang berisi.


"Bercanda, Do! Lagian, kamu gak sekolah aja udah sukses besar gini, udah punya bengkel sendiri, banyak karyawan nya. Aku gak bisa ngebayangin kalo kamu nerusin sekolah, pasti kamu bakalan lebih sukses dari ini, bakal mendunia kamu,"


"Lebay banget deh! Lagian, aku juga udah bosen mikir pelajaran. Alhamdulillah, ini jalan untuk aku. Semua ini juga berkat bantuan Kakamu, aku bisa seperti ini. Aku berhutang budi sama kakakmu, Le!"


Hasan tersenyum mendengar penuturan Rido.


"Oh iya, dia udah punya cewek belom? Dulu aku inget betul, waktu SMP, banyak banget cewek yang naksir sama dia. Tapi gak ada yang ia gubris. Tapi,dia pernah cerita ke aku, kalo ada satu cewek yang dia suka,"


Hasan terbelalak kaget mendengar penuturan Rido tentang Kakaknya.


"Serius, Do! Kakaku bilang gitu?"


"Iya serius, aku kan cukup dekat sama Kakakmu. Tapi, rasa suka itu hanya berlangsung selama satu tahun aja. Soalnya pas kelulusan, Kakakmu langsung berangkat ke luar negeri,"


Hasan manggut-manggut mendengar pengakuan Rido. Selama ini, kakanya tertutup kepada dirinya. Apalagi soal asmara.


"Seperti apa cewek yang disukai Kaka, Do?" tanya Hasan penasaran.


"Cantik lah pastinya. Banyak yang suka juga koq, sama cewek yang Kakakmu sukai itu. Cuman, mereka sama-sama gak ngrespon. Mereka cuman diem-dieman aja. Aneh.


Sebelum perpisahan, Kakak mu sempet ngasih sesuatu sama cewek itu,"


"Ngasih apa–an, Do?"


"Wah, kalo itu, aku gak tau. Soalnya aku gak kepo kayak kamu!"


Hasan menghela napas, "wajar lah aku kepo. Soalnya sampe sekarang, kakak ku gak pernah ngenalin cewek. Terus, kamu tau sendiri kan, ada tradisi di keluargaku."


"He–em, aku tau. Aneh yah, ada tradisi perjodohan saat usia muda. Tapi aku salut, tradisi itu selalu berjalan dan berhasil dengan baik," ucap Rido diiringi senyuman.

__ADS_1


__ADS_2