Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Sikap Kurang Ajar Bagas


__ADS_3

Hana begitu gundah. Jawaban apa yang harus ia berikan kepada Bu Ratna. Hana merasa tidak enak jika menolak.


"Mah, Samuel tidak masalah jika harus lupa dengan masa sekolah Samuel. Samuel sudah cukup bahagia dengan keadaan sekarang." Ucap Samuel.


"Tapi kamu kehilangan banyak teman dan juga kenangan indah kamu semasa sekolah. Apa kamu mau seperti ini terus?" tanya Bu Ratna. "Setidaknya jika kamu tidak ingat masa lalu, kamu bisa bangkit menata masa depan dengan penuh warna. Tidak mengurung diri terus di kamar," ucap Bu Ratna.


Hana semakin merasa tidak enak mendengar penuturan Bu Ratna. "Aku harus jawab apa. Tapi, ada baiknya jika Samuel tidak ingat masa lalunya. Setidaknya, aku bisa merubah ia menjadi orang yang lebih baik. Tapi, gimana kalo dia tiba-tiba ingat, dan kejadian di kebun jati itu terulang kembali. Belum lagi reaksi Hasan jika tau hal ini, apa dia bakal setuju?" ucap Hana dalam hatinya.


"Gimana, Nak Hana. Apa kamu bersedia saya mintai tolong?" ucap Bagaskara.


"Ceri, jangan mau. Ada maksud tertentu dari kalimat Bagas. Dia sebenarnya pengin jodohin kamu sama anaknya," ucap Lita dalam hatinya. Lita harap-harap cemas mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Hana.


"Mah, Pah, jangan memaksa orang, nggak baik!" sambung Samuel.


Hana melirik Samuel sebentar. "Sepertinya, Samuel benar-benar tidak ingat. Dan, dia memang sudah berubah," ucap Hana dalam hatinya.


"Tante berharap banget loh, Hana. Tapi, kalo kamu tidak bersedia, kami juga tidak akan memaksa, Nak Hana," tutur Bu Ratna.


"Saya sa-saya bersedia, Tante," jawab Hana seraya tersenyum.


"Benarkah?" tanya Bu Ratna meyakinkan jawaban Hana. Hana mengangguk sembari tersenyum.

__ADS_1


Bu Ratna kemudian memeluk Hana dengan erat. "Terimakasih, Hana. Tante benar-benar bahagia mendengar jawaban ini. Artinya, Tante akan sering bertemu kamu."


Hana tersenyum mendengar kalimat Bu Ratna. Pak Darma hanya tersenyum melihat pemandangan di depannya.


"Ceri, kamu membuat keputusan yang salah," batin Lita dengan ekspresi pasrahnya.


Bagaskara tersenyum penuh kemenangan, "akhirnya, umpanku masuk juga," batin Bagas seraya mengalihkan pandangan ke arah Lita.


Setelah acara makan malam selesai, Hana dan Samuel memilih untuk mengobrol berdua di taman depan. Mereka duduk di bangku sambil menikmati bintang-bintang yang menghiasi langit.


"Maaf yah, permintaan orang tuaku sudah merepotkan dirimu," ucap Samuel membuka percakapan.


"Tidak apa-apa. Aku senang jika bisa membantu. Tapi ngomong-ngomong, kamu benar-benar tidak ingat apapun?" tanya Hana memastikan.


"Menyenangkan,"


"Kamu kenal dengan diriku?"


"Kenal. Kamu orang yang cukup baik. Selamanya akan terus baik. Kamu orang yang suka membantu dan juga penyabar," tutur Hana berbohong.


Ada senyuman yang sulit diartikan dari wajah Samuel ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh Hana.

__ADS_1


"Apa benar aku orang seperti yang kamu ucapkan? Sepertinya aku tidak yakin," ucap Samuel.


"Percaya deh sama aku. Banyak orang yang suka sama kamu karena kebaikanmu," tutur Hana.


"Apa kamu salah satu dari orang yang juga menyukaiku?" tanya Samuel sembari menatap Hana dengan penuh arti.


"Aku, oh aku tidak cukup mengenalmu sebab kita tidak terlalu dekat. Tapi, banyak orang yang membicarakan kebaikanmu. Kamu cukup populer," ucap Hana lagi-lagi berbohong.


"Benarkah? Tapi, aku curiga kalo kamu berbohong. Kalimatmu tidak terdengar tulus," ucap Samuel sambil melipat tangan.


"Memangnya kamu tau? Kalo kamu tau masa lalumu, sepertinya aku tidak perlu lagi membantumu," ujar Hana sembari membuang wajah. "Susah sekali meyakinkan dirinya," batin Hana.


Samuel tersenyum mendengar kalimat Hana. "baiklah, aku percaya padamu. Kalo begitu, kamu bisa buat aku menjadi lebih baik?"


"Maksud kamu?" tanya Hana.


"Untuk berada di sisiku. Membuat diriku menjadi orang yang lebih baik," ucap Samuel.


Hana terdiam cukup lama mencerna kalimat dari Samuel. Samuel menatapnya dengan penuh perhatian menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Hana.


Dari teras, Bagaskara berbisik di telinga Lita. "Sepertinya, anakmu juga menyukai anakku, Lita. Apakah nanti kita bisa menjadi besan yang akur?" Bagaskara lalu mencolek bottom Lita sebelum ia kembali masuk ke ruang tamu menemui Darmawan dan Ratna yang tengah mengobrol.

__ADS_1


Lita kaget dan menahan amarah mendengar dan menerima sikap kurang ajar dari Bagaskara. Ingin sekali ia berbalik dan menghajar Bagaskara malam itu juga. Tapi, dia masih cukup waras. Lita kembali memandangi Hana dan Samuel di taman. Ia sengaja mengawasi gerak gerik mereka karena tidak mau sesuatu terjadi dengan anaknya. Terlebih lagi, ada hati mantunya yang harus ia jaga.


__ADS_2