Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
24. Ukuran Baju


__ADS_3

Hana mendekati Hasan dan berdiri di belakang sofa dimana tempat duduk Hasan berada. Hana mengintip proyek yang tengah dikerjakan oleh Hasan.


Hasan masih fokus dengan pekerjaannya. Karena tidak di respon oleh Hasan, Hana kemudian berinisiatif untuk ke dapur dan melihat isi kulkas Hasan. Hana tidak mau mengganggu Hasan yang sedang fokus bekerja.


Begitu membuka kulkas dua pintu tersebut, Hana dibuat takjub kembali dengan isi kulkas yang lengkap.


"Wah, lengkap banget isi kulkas kamu, San! Gila! Kamu itu sebenernya cowok seperti apa sih, San? Banyak kejutan dalam diri kamu," ucap Hana dengan suara cukup keras.


"Kemaren selepas nganter kamu pulang, aku pergi belanja dulu, Han. Buat jaga-jaga kalo istriku udah di sini, jadi semuanya udah siap. Terserah kamu mau masak apa," jawab Hasan masih fokus dengan pekerjaannya.


"Em, aku udah laper banget nih, gimana kalo nasi goreng aja, kamu ada nasi kan?" tanya Hana celingukan mencari megicom.


Setelah menemukan magicom, Hana membukanya. Ternyata, nasinya masih utuh. Hana mengambil lima centong untuk di masak.


Hana memotong daging kecil-kecil, dan mengiris sawi. Setelah itu, ia membuat bumbu untuk nasgornya. Setelah selesai menyiapkan bahan, Hana mulai memasak.


Hana mulai memanaskan wajan, dan menumis bumbunya. Aroma dari masakan Hana menyeruak ke seluruh ruangan. Hasan yang sedang fokus menjadi teralihkan karena bau masakan Hana.


Hasan memandang ke arah dapur, terlihat Hana sedang membolak balikan nasi goreng di wajan.


Senyuman mengembang di bibir Hasan. Dengan segera, ia menyelesaikan pekerjaannya. Perutnya juga sudah keroncongan karena sejak dari siang belum kemasukan makanan.


"Yes kelar! Alhamdulillah," ucap Hasan sambil membasuh wajahnya dengan kedua tangannya.


"Alhamdulillah, mateng juga," gumam Hana kemudian mematikan kompornya.


Hasan kemudian menghampiri Hana. Ia mengambilkan mangkok untuk Hana sebagai wadah nasi gorengnya.


"Aku bantuin yah," ucap Hasan sambil menyerahkan mangkok kepada Hana.


Hana memandang Hasan dengan heran, kemudian tersenyum.


"Boleh! Kamu siapin piring di meja, sama air minum yah," jawab Hana mengambil mangkok dari tangan Hasan kemudian memindahkan nasi goreng tersebut ke dalam mangkok saji.


Mereka saling bekerja sama. Siapa saja yang melihat pemandangan itu, pasti ikut bahagia, dan ingin sekali menikah muda.


"Baunya enak banget, Han. Aku udah gak sabar pengin makan," ucap Hasan


Hana tersenyum sambil membawa mangkok tersebut ke meja makan. Semuanya sudah tertata rapi, piring dan sendok, dan segelas air putih.


Mereka berdua menarik bangku, dan mendudukinya.


"Minum dulu, San! Jangan lupa untuk berdo'a juga," kata Hana mengingatkan Hasan.


"Siap!" jawab Hasan diiringi senyuman.


Hana memberi Hasan air putih. Setelah berdo'a mereka makan bersama dengan perasaan bahagia.


"Enak, Han. Kamu bisa masak juga yah!"


"Bisa, tapi gak pinter, San!"

__ADS_1


"Orang bisa masak gak harus pintar, Han. Oh iya ngomong-ngomong, ini pertama kalinya kita makan di meja makan bersama, sebagai suami istri ya?" terang Hasan.


"Hehehe, iya, San! bahkan kita sekarang sudah tinggal satu atap. Semoga semua ini gak mengganggu proses belajar kita yah," jawab Hana diiringi senyuman.


"Amin," jawab Hasan.


Mereka berbincang sambil makan.


"Oh iya ntar sore kalo kamu udah gak sibuk, anterin aku pulang yah," kata Hana lagi.


"Mau ngapain? Kamu gak mau tinggal sama aku?" tanya Hasan dengan ekspresi kaget.


"Bukan gitu, kan baju-baju aku masih di rumah Mama. Aku harus ambil sebagian buat ganti di sini, terus peralatan sekolah aku juga masih pada di rumah, kan!" tutur Hana.


"Oh iya, aku lupa. Ntar abis magriban, kita main ke rumah Mama, yah,"


"Main ke rumah, Ma–ma?" tanya Hana sambil mengernyitkan alisnya.


"Kenapa? Kan sekarang Mama kamu jadi Mama aku juga, dan sebaliknya, Mama aku, Mama kamu juga," jawab Hasan dengan ekspresi datar.


Hana tersenyum sambil menutup mulutnya. Hasan pun menahan senyumnya. Mereka sama-sama menahan malu.


Mereka berdua sepasang suami istri, rasa teman, dan pacar.


"Oh iya, Hana! mulai sekarang seluruh biaya hidup kamu dan tanggungan sekolah atau yang lain, pokoknya seluruhnya, aku yang tanggung semua," terang Hasan tegas.


"Loh, koq begitu! Memangnya ka ...."


"Tapi, San!"


"Ntar aku juga ngomong sama Papa dan Mama. Kamu gak usah khawatir,"


Hana benar-benar di buat dobel-dobel kagum oleh Hasan. Ia tidak percaya dengan penuturan Hasan.


"Kamu masih muda, tapi pemikiran kamu udah dewasa banget, San! Kamu ngrencanain hidup kamu dengan matang banget. Aku bener-bener salut sama kamu, San!"


"Soalnya, aku tau tradisi ini dari aku kecil, Han. makanya aku sudah belajar ini semua," jawab Hasan dengan tenang.


Hana terus memandangi Hasan karena perasaan takjubnya yang tak kunjung hilang. Bagi Hana sendiri, Hasan merupakan sosok yang penuh dengan kejutan. Hasan tersipu malu karna terus di pandangi oleh Hana.


"Aku udahan nih, mau mandi dulu, risih banget soalnya," ucap Hasan sambil beranjak dari tempat duduknya.


Hasan yang tidak enak di pandang terus, kemudian pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk dan mandi. Hana tersenyum melihat tingkah Hasan. Ia kemudian merapihkan meja makan, mencuci piring dan peralatan memasaknya.


Setelah selesai, Hana merebahkan tubuhnya di sofa depan TV. Dia menyalakan TV sebentar sambil menunggu Hasan selesai mandi. Beberapa menit kemudian, Hasan selesai dan keluar dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Tubuh berotonya terlihat sangat jelas. Rambutnya yang basah, ia kibaskan kesana kemari, membuat Hana ikut terciprat air dengan harum sampo tersebut. Waw, jauhnya air itu sampai mengenai wajah Hana.


Hana terpesona dengan pemandangan malaikat telanjang dada tersebut. Kulit Hasan putih dan bersih ditambah dengan sisa-sisa air mandinya, membuat Hasan terlihat sangat sexy.


Jantung Hana berdebar sangat kencang, tiba-tiba, ia merasa gugup. Beberapa kali, Hana menelan ludahnya sendiri. Setelah puas memandang, Hana pun tersadar dari sihir Hasan. Hana kemudian berbalik membelakangi tubuh Hasan yang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Han? aku udah selesai mandi nih, giliran kamu," ucap Hasan dengan sangat cool.


Cool karena habis mandi..


"Kamu buruan masuk kamar deh! Emangnya gak malu apa! Kan ada aku di sini!" terang Hana yang merasa gugup.


"Oh iya, aku lupa. Maaf ya, soalnya aku udah biasa begini," ucap Hasan kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Hana berbalik dan melihat Hasan yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Huft, selamat, selamat," gumam Hana sambil mengelus dadanya.


"Ini pertama kalinya, aku lihat cowok abis mandi, pake handuk setengah aja, dan itu, suami aku sendiri!" ucap Hana dengan suara kecil.


Hana mematikan TV nya. Ia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil handuk. Tapi, ia teringat, dirinya datang ke sini tidak membawa apa-apa selain baju yang sekarang dikenakannya.


"Oh iya, aku kan gak bawa apa-apa! Pinjem handuk sama Hasan aja deh kalo gitu," ucap Hana, kemudian pergi ke kamar Hasan.


Tok, Tok, Tok,


"San, Hasan,"


"Iya ada apa, Han?" jawab Hasan dari dalam.


"Pinjem handuk dong, sama baju buat ganti," jawab Hana dari balik pintu.


Hasan tersadar, dia belum menyiapkan baju untuk Hana.


"Ya ampun! Koq aku bisa lupa sih, harusnya aku beli kemaren bajunya," keluh Hasan lirih.


"Sebentar, Han!" teriak Hasan dari dalam.


Hasan mengambil hapenya dan mengirim pesan kepada tetanganya yang kebetulan buka distro di rumah.


"Wan, aku pesen baju, eh piyama aja deh sepasang buat cewek ... ukuranya ...."


Hasan menjeda kalimat dalam text tersebut. Ia mengambil handuk kemudian membuka pintu untuk menemui Hana.


Hasan memperhatikan Hana dari ujung kaki sampai ujung kepala, berniat ingin mengira-ira ukuran tubuh Hana.


"Nih, pake handuk aku dulu," ucap Hasan sambil menyerahkan handuknya yang berwarna putih.


"Aduh, udah basah gini, terus kecil banget lagi, mana muat sama aku. Kalo kayak gini, aku harus ganti baju di dalem, San! Terus, baju buat aku mana? Pinjem juga dong," terang Hana sambil menjereng handuk Hasan yang basah dan kecil itu.


"Emm, kamu mendingan mandi dulu aja, aku siapin dulu baju buat kamu. Nanti kalo udah, aku ketuk pintunya, oke!" ucap Hasan diiringi senyuman.


Tanpa berpikir panjang, Hana mengiyakan perintah Hasan. Hana kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Hasan memperhatikan lagi detail tubuh Hana dari belakang secara rinci.


Hasan masuk ke dalam kamarnya lagi. Ia memejamkan matanya untuk mengingat porsi tubuh Hana yang baru saja ia cermati.

__ADS_1


__ADS_2