
Papah dan Mamanya Hana kembali berpandangan mendengar penuturan Hasan. Mereka sebenarnya kasihan jika Hasan menanggung beban Hana sendirian. Tapi, mereka juga sangat bahagia karena menantunya orang yang bertanggung jawab.
"Oke, kalo itu sudah jadi keputusan kamu, Mama sama Papa gak bisa nglarang, memang itu benar. Jika orang sudah menikah, seorang suami memang wajib menafkahi, menanggung semua kebutuhan lahiriyah dan batiniyah istrinya. Tapi Leo, kalo suatu saat kamu butuh bantuan, kamu jangan sungkan untuk minta tolong sama Mama dan Papa, yah!" ucap Pak Darma diiringi senyuman.
"Iya, Mah, Pah, makasih yah," jawab Hasan tersenyum.
"Iya ... ayo lanjut lagi makan nya," kata Pak Darma lagi.
Mereka berempat kemudian melanjutkan makan bersamanya. Hana sesekali masih memandangi Hasan, ia tampak bahagia malam ini. Di matanya, Hasan sosok laki-laki yang berbeda.
"Ternyata semakin kenal sama kamu rasanya semakin nyaman, San. Dan aku gak pernah nyangka, kamu emang beda dari pria yang lain. Banyak hal yang tak terduga dari dalam diri kamu. Aku bener-bener salut sama kamu, San. Aku merasa beruntung bisa kenal sama kamu hingga detik ini," puji Hana dalam hatinya.
Setelah selesai makan, Hana membereskan semua piring kotor sendiri, sedangkan Bu Darma mengambil koper Hana dari kamar untuk di bawa ke depan. Pak Darma terlebih dulu duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian, Bu Darma muncul sambil membawa koper milik Hana. Ia kemudian duduk di samping Pak Darma.
"Hana, kita pulang sekarang kalo udah gak ada hal lain lagi yang mau kamu kemas," ucap Hasan sebelum menyusul Pak Darma ke ruang tamu.
"Oh, iya tunggu bentar yah. Kamu tunggu di luar aja sama Papa dan Mama,"
"Iya jangan lama-lama yah, aku ngantuk soalnya," jawab Hasan sambil mengucek matanya.
"Iyaaaa," jawab Hana sambil memperhatikan raut wajah Hasan yang selalu tampan di lihat dari segi manapun, aktifitas apapun.
Hasan pergi menyusul kedua mertuanya, sedangkan Hana, ia ke kamarnya, untuk mengecek sesuatu.
"Gak ada barang lagi yang tertinggal. Semua yang aku mau, sudah dipacking semua sama Mama. Emang the best Mamaku,"
Hana berkata di ambang pintu kamarnya. Ia memperhatikan seluruh sudut kamarnya yang manis. Saat hendak keluar, ia melihat sebuah sketsa yang ia pajang di figura meja belajarnya. Hana mengembangkan senyum. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju meja belajarnya. Hana terduduk, dan mengambil figura tersebut.
"Hay! Apa kabarmu, Kak? Aku yakin, kamu sekarang udah dewasa, lebih pintar, lebih tinggi, lebih tampan pastinya. Lebih jago lagi gambarnya. Dan pasti, udah punya pacar yah? Aku ingin sekali bertemu denganmu lagi, Kak! Andai saja, kamu ada di sini, kamu adalah orang pertama yang akan aku kasih tau, kalo aku udah nikah. Dan saat aku bilang itu, aku gak tau lagi dengan hubungan gak jelas, yang pernah kita jalin dulu," Hana mengelus sketsa wajah dalam figura itu. Ia terus tersenyum memandanginya.
"Dimanapun tempatnya, semoga kamu selalu diberikan kesehatan, dan bahagia terus ya, Kak!" Hana berkata dalam hatinya, dan mendekap figura tersebut.
Bu Darma tiba-tiba saja muncul dari belakang. Ia melihat Hana yang tengah memeluk bingkai tersebut. Bu Darma menggelengkan kepalanya.
"Lupakan masa lalu kamu, Cer! Kamu sekarang sudah jadi istri orang!" ucap Bu Darma dengan sedikit berang.
Hana kaget kemudian berdiri dan menoleh ke arah Mamanya.
__ADS_1
"Mama, Ceri gak ...."
"Kamu gak boleh mikirin laki-laki lain, selain Leo. Kamu harus bisa setia sama dia. Kamu harus tetep di sampingnya dalam keadaan apapun. Dan yang paling penting, jangan pernah kamu sakiti dia, Ceri! Mama sama Papa, memilih Leo jadi pasangan hidup kamu, karena kami percaya, Leo lah yang terbaik. Kami sudah kenal dengan dia, sebelum kamu mengenalnya. Kalo sampai kamu berbuat macam-macam di belakang Leo, Mama bakal marah sama kamu, ingat itu, Ceri!"
"Iya, Mah, Ceri gak bakal nyakitin Hasan koq, Ce-ceri insya Alloh, setia sama Hasan,"
"Kenapa harus bilang insya Alloh segala, kalo kamu memang setia sama, Leo!"
"Iya kan, Ceri gak tau kedepannya kayak gimana, Mah!"
"Berarti, kamu gak bakal setia sama Leo, Han, kalo jawabanmu seperti itu!
"Mama ngertiin dong, sampai saat ini, kami belum punya rasa yang sama, Mah! Ceri jalani aja seperti air mengalir. Tapi, Ceri janji koq, Ceri bakal setia sama Hasan, Mama tenang aja!" jawab Hana dengan sedikit kesal yang terpendam.
"Kalo gitu, lupain cowok sketsa itu!" ucap Bu Darma sedikit berang.
Hana tersenyum mendengar perintah Mamahnya.
"Mama, aku udah lupain dia koq. Ceri tadi gak sengaja liat, jadi inget masa lalu deh. Mama gak usah khawatir, Ceri udah lupain semuanya. Sketsa ini, biarin deh ngisi kamar Ceri. Jangan di pindah kemana-mana ya, Mah! Ceri mau pamit pulang dulu," Hana tersenyum kemudian meletakan figuranya di meja belajarnya lagi.
"Ceri pulang ya, Mah!" ucap Hana sekali lagi.
"Hati-hati ya sayang, inget kata-kata Mama, yah! Leo, cowok paling baik untuk kamu, gak ada yang lain," kata Bu Darma sambil mengelus pipi anaknya.
"Iya Mama, udah yah Ceri pulang dulu, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam," ucap Bu Darma melepaskan anaknya dengan pelan.
Hana berjalan keluar menuruni anak tangga menuju ke ruang tamu. Ternyata, Hasan dan Papahnya tidak ada di sana. Hana keluar dari rumahnya, dan mendapati Hasan dan Papahnya di teras rumah.
"Hasan, ayo pulang!" ajak Hana tiba-tiba mengagetkan Hasan dan Papahnya.
"Udah selesai? Lah, Mama mana?" tanya Hasan sambil berdiri, diikuti oleh Pak Darma.
"Mama ada di belakang ... Papah, kami pamit pulang dulu yah, assalamu'alaikum," ucap Hana sambil mencium tangan papahnya.
"Wa'alaikumsalam ... Iya, kalian hati-hati yah! Leo, kamu jangan negbut!" terang Pak Darma.
__ADS_1
"Nggak, Pah," jawab Hasan sambil mencium tangan Pak Darma juga.
Hasan kemudian mengambil koper milik Hana. Hasan duduk di motornya dengan menaruh koper tersebut di depannya. Kemudian, Hana naik dan memegang koper tersebut dari belakang. Pak Darma tampak memperhatikan anak dan mantunya.
"Bener, kalian bisa bawa kopernya? Kalo gak bisa Papa anterin," usul Pak Darma.
"Bisa, Pah! Kita pamit pulang dulu,"
Hasan dan Hana pun pergi meninggalkan rumah Pak Darmawan menuju rumah mereka.
"Di kamar ngapain aja, Han? Lama banget! Padahal keluar kamar juga gak bawa apa-apa," tanya Hasan menyelidik.
"Tadi ngobrol sama Mama, koq!"
"Tapi tadi, Mama di depan bareng aku sama Papa,"
"Iya kan abis itu masuk, terus ngobrol sama aku. Udah, kamu fokus nyetir aja. Aku mau buru-buru nyampe rumah nih, mau ganti baju juga, gak enak banget, baju baru gak di cuci dulu, apalagi dalemanya," keluh Hana.
"Gatel ya? Lagian kenapa kamu tadi gak ganti sekalian di rumah, Mama!"
"Buru-buru,"
"Buru-buru kenapa? Kan aku tungguin, kamu sebenarnya pengin buru-buru karena pengin berduaan sama aku, ya?"
"Idihhh, pede banget sih kalo ngomong,"
"Udah jujur aja kenapa sih, kan kita udah jadi suami istri, gak papa kali!"
"Lah aku udah jujur koq, udah deh fokus nyetir aja, capek nih, megangin koper mulu," ucap Hana manyun.
"Capek megangin koper, apa pengin cepet-cepet ganti sih? Koq alesannya ganti lagi. Jadi curiga, aku!" ucap Hasan sambil memperhatikan raut wajah Hana dari spion diiringi senyuman kecilnya.
"Terserah mau ngomong apa, aku mau pengin cepet sampai! Ngebut dong, San!"
"Eh, gak boleh ngebut kata, Papa! Emang kamu gak denger tadi?"
Hana kemudian diam dan mengehela nafas. Hasan tersenyum senang melihat ekspresi kesal Hana.
__ADS_1