
"Hana tinggi, tapi gak tinggi banget. Kalo sama aku, kira-kira, dia sepundak. Aku tingginya sekitar 185 ...."
Hasan masih bingung, ia terdiam sejenak.
"Aku pesen ukuran M aja deh, Kalo daleman Hana ... Astaghfirulloh, aku koq jadi ngebayangin yang ngga-ngga sih! Maaf ya, Hana. Aku membayangkan tubuhmu lagi," ucap Hasan merasa bersalah.
Hasan kemudian duduk di tepi kasurnya. Ia mencoba membayangkan bentuk tubuh Hana kembali. Dengan mata terpejam, Hasan membayangkan tubuh istrinya dan mengkira-kira ukurannya.
"Body Hana bagus, depan belakang menonjol semua, kalo dadanya ...."
Hasan mengepalkan tangannya sendiri dan meletakkan di dadanya, "kayaknya ukuran 38 deh, apa 40 yah! kalo punya Mama, dulu aku kalo gak salah, aku pernah lihat waktu shopping, Mama beli ukuran 38, kalo Hana kayaknya lebih ... ahh, aku beli dua ukuran aja deh. Pusing juga mikirin barang cewek. Terus Cendol Dawetnya ukurannya apa? aku beli tiga ukuran aja deh. Biar dia milih sendiri. Mudah-mudahan, Hana gak salah paham, aku beliin ini semua buat dia," ujar Hasana yang terlihat riweh dengan ukuran baju Hana. padahal, Hana bisa berganti pakaian dan dalaman nanti saja, kalo sudah ambil baju.
Hasan lalu melanjutkan mengetik pesannya ke Wawan, tetangga rumahnya. Yang berjarak lima rumah saja.
"Wan, ukuran piyamanya M, terus buahnya ukuran 38 sama 40, Cendol Dawetnya ukuran, S, M sama L yah, cepetan! Gak pake lama! Aku tunggu sekarang!" Hasan kemudian mengirim pesan tersebut.
"Semoga, baju ganti Hana, sampai sebelum dia selesai mandi," ujar Hasan.
Hasan menengok chatnya kembali, dan sudah centang biru.
Klunting!
"Piyamanya warna apa, Leo? Ready pink, kuning, hijau, biru, sama, merah," balas Wawan.
"Pink aja," balas Hasan.
Hasan yang sudah mengenakan kaos oblong dan celana tiga perempatnya segera keluar menunggu baju dari tetangganya.
"Buka gerbang!" ucap Hasan terburu-buru.
Kelihatan Wawan sedang menuju ke arahnya dengan sepeda motor maticnya. Wawan tersenyum melihat Hasan yang terlihat gugup.
"Cepet juga kamu, Wan!" ujar Hasan sambil mengambil plastik hitam dari tangan Wawan.
"Istri aku di rumah, jadi dia bantuin nyariin tadi," ucap Wawan menyerahkan plastik warna hitam yang isinya baju.
"Makasih, Wan, berapa semuanya?" tanya Hasan sambil membuka kresek tersebut untuk memastikan.
"Kata istriku, ini gratis, hadiah buat istrimu. Katanya kapan-kapan kita makan malem bareng," tutur Wawan.
"Wah jadi gak enak aku, seriusan gratis?" tanya Hasan memastikan.
__ADS_1
"Beneran, kamu baru boyong dia ke sini ya?" tanya Wawan sambil tersenyum.
"Iya, aku masuk dulu ya, takut udah selesai mandi dia,"
"Oke kalo gitu, aku cabut dulu," ucap Wawan sambil menaiki sepeda motornya lagi.
"Tengkyu yah ... Buka gerbang," Hasan kemudian masuk ke dalam rumahnya dengan langkah sedikit berlari.
Baru saja membuka pintu dapur, Hasan sudah mendengar teriakan Hana yang terus memanggil namanya.
"Hasan! Hasan! mana baju buat aku, San ... Hasan! Kamu denger aku gak sih? Dingin tau ...."
Hasan tergopoh-gopoh.
"Iya, iya, maaf ... Buka pintunya! Nih baju kamu," ucap Hasan dari balik pintu kamar mandi.
Hana membuka sedikit pintunya. Hasan mengulurkan plastik hitam tersebut sambil mengalihkan pandangannya. Hana menerimanya dengan raut wajah sedikit kesal.
"Kamu abis beli baju buat aku? Pantesan lama!aku panggil dari tadi gak nyaut. Padahal pake baju kamu juga gak papa kali, San!" Tutur Hana.
"Udah gak usah banyak ngomong, langsung pake aja," perintah Hasan kemudian menutup pintu toilet kembali.
"Kenapa dia mesti beli ini segala sih! Bikin aku malu aja deh. Emangnya dia belinya juga gak malu apa! Terus, emangnya dia tau ukuran aku apa! Hih, nyebelin banget sih," keluh Hana dengan wajah yang benar-benar memerah melihat isi kresek tersebut.
Hana lalu mengambil Buah ukuran 40 dan Cendol Dawet berukuran M, kemudian melapisinya dengan piyama pink.
Hana terlihat lebih cute mengenakan piyama tersebut.
Piyama yang dipakai Hana pas ditubuhnya. Ia kemudian keluar dari dalam kamar mandi. Hana mendapati Hasan yang tengah menonton televisi. Dengan langkah yang malu-malu, Hana berjalan menghampiri Hasan, dan duduk di sebelahnya. Hasan melirik Hana sebentar, kemudian fokus melihat TV lagi.
"San, kamu ngapain ngebeliin aku daleman segala! emangnya kamu tau ukuran aku?"
"Eh, maaf yah. Aku gak ada maksud apa-apa. Niatku baik koq. Ngomong-ngomong, pas nggak? Aku beliin dua ukuran tadi," ujar Hasan malu-malu.
"Nih aku balikin," ucap Hana sambil menyerahkan kresek tersebut.
"Loh koq di balikin! Gak ada yang pas ya?" tanya Hasan dengan ekspresi takut.
"Itu yang ukuran 38, gak muat sama aku," jawab Hana tanpa memandang Hasan.
"Oh!" ujar Hasan tersenyum malu dan menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama terdiam menahan rasa malu di hati mereka masing-masing.
Setelah cukup lama saling terdiam, Hasan melirik Hana dan berkata, "Rambut kamu masih basah tuh, keringin dulu sana," perintah Hasan.
"Kamu ada hairdryer?" tanya Hana memandang Hasan.
"Gak ada, pake handuk aja," jawab Hasan.
"Handuknya udah basah kuyup gini," ucap Hana manyun.
"I–iya udah kamu jemur dulu aja handuknya di belakang. Sekalian sama baju kotor kamu, taroh di keranjang cucian," perintah Hasan.
"Iya, em, makasih ya, kamu udah beliin aku baju ganti," ucap Hana sebelum pergi meninggalkan Hasan.
"Em, sebenarnya itu di kasih, bukan beli," ujar Hasan.
"Hah! siapa yang ngasih?" tanya Hana mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Tetangga. Tadinya aku mau beli, cuman kata istri temen ku, ini hadiah buat kamu,"
"Istri temen kamu? Kamu udah lama tinggal di sini ya, koq kamu udah punya temen aja," tanya Hana terheran-heran.
"Iya belom juga sih, ini masih baru ... Oh iya, kamu harus tau, Han. Kenapa, di sini rumahnya masih jarang-jarang, gak rame kayak perumahan lainnya. Soalnya,mereka yang tinggal di sini, adalah orang-orang yang sama kayak kita," terang Hasan.
"Serius kamu, San! Kamu gak bohong?" tanya Hana kaget.
"Emang aku pernah bohong sama kamu?" jawab Hasan sambil memandang Hana.
"Ternyata banyak juga ya, San, yang menganut tradisi ini. Aku pikir cuman orangtua kita aja,"
"Itu yang kamu gak tau! Mereka yang di sini statusnya sama kayak kita. Bahkan mereka sudah lebih dulu tinggal di sini. Yang Nyambi kuliah juga banyak. Di sini kita semua adalah keluarga, dan tanpa kita curhat, mereka udah pada ngerti,"
Hana dengan khidmat mendengarkan penjelasan Hasan.
"Oh, gitu ya, San?" Hana mengangguk-anggukan kepalanya.
"He-em. Udah jemur tuh handuk! Rambut kamu tuh basah, sofanya ikut basah juga kan karena kamu sendirian,"
"Iya, iya," ucap Hana kesal, kemudian beranjak dari tempat duduknya, menuju tempat jemur.
Padahal, Hana masih ingin mendengarkan penjelasan Hasan yang lain. Tapi, Hasan keburu memotongnya dengan kalimat lain.
__ADS_1