
Raja tersenyum lalu berjalan ke tempat telur dan mengambilkan Hana dua kilo.
"Nih, Han! Keranjangnya aku aja yang dorong, kamu bawa telor aja, biar gak pecah, oke!" ucap Raja sambil menyerahkan telur kepada Hana.
"Serius nih, kamu mau bantuin aku bawa keranjang ini?"
"Iya serius lah. Kamu mau beli apa lagi, aku temenin," ucap Raja mulai mendorong keranjang Hana.
Sedangkan Hana membawa tiga kilo telur. Satu kilo milik Raja. Dua kilo milik dirinya.
"Kamu baik banget sih! Baru kenal udah nolongin aja," kata Hana sambil melirik Raja.
Raja tersenyum mendengar penuturan Hana. Ia sendiri merasa tidak enak. Apalagi ingat kejadian di alun-alun. Dan sekarang malah berjalan berdampingan di swalayan.
Hana sendiri merasa tidak nyaman karena baru kenal dengan Raja. Tapi berkat Raja pula, ia tidak kesusahan mendorong belanjaannya.
"Aku mau beli sayuran, Ja! Sama buah-buahan juga," ucap Hana setelah mereka berdua sempat terdiam.
"Oke, kita langsung menuju ke sana. Ngomong-ngomong, koq bukan nyokap kamu aja yang belanja! Terus kamu mau aja gitu sendirian? Mana belanja banyak banget lag," tutur Raja.
"Iya, soalnya nyokap aku lagi sibuk, masih kerja, jadi aku yang beli deh,"
"Wah, berbakti juga ya kamu. Eh, kamu masih sekolah kan? Kalo iya, kamu kelas berapa?" tanya Raja melirik Hana.
"Iya aku masih sekolah. Baru kelas satu. Tapi bentar lagi mau kelas dua koq," jawab Hana.
"Oh, baru kelas satu,, sekolah dimana?" tanya Raja basa-basi.
Hana dan Raja mengobrol sambil memilih sayuran.
"Aku sekolah di Tama. Kalo kamu sendiri sekolah dimana?" tanya Hana.
"Aku sekolah di BK 1. Kamu ambil jurusan apa, Han?" tanya Raja.
"TK. Oh iya kamu kelas berapa nih? Kelas satu juga?" tanya Hana melirik Raja yang kemudian tersenyum mendengar pertanyaan Hana.
"Aku kelas tiga. Bentar lagi cabut, hehehe,"
"Ha! ya ampun, aku harus panggil kamu Kakak dong!" jawab Hana yang sedikit kaget mengetahui bahwa Raja sudah kelas tiga.
"Eh gak usah lah, panggil aku, Raja aja,"
"Tapi gak sopan!"
"Gak papa. Ini kan aku sendiri yang nyuruh. Lagian aku juga gak sreg klo dipanggil Kakak kecuali sama adek kandung aku," jawab Raja sambil tersenyum.
"Oh, Kakak punya adek?"
"Please panggil aku, Raja aja! Gak enak banget denger kamu panggil aku Kakak!" kata Raja dengan wajah memelas.
"Ops! Maaf lupa,"
"Iya, gak papa. Aku punya adek cowok kelas dua SMP,"
__ADS_1
"Wahh enak yah punya sodara, kalo aku anak tunggal," jawab Hana sambil memilah sayur di depannya.
"Enak tuh anak tunggal, gak ada yang ributin,"
"Ahh gak juga, justru malah kesepian tau, apalagi kalo ortu gak ada di rumah, sibuk kerja. Mau ngobrol sama siapa? Mau main sama siapa? Pokonya sepi deh, bete," ucap Hana sedikit manyun.
"Tapi punya sodara juga belom tentu asyik juga, pasti ada aja masalahnya," jawab Raja sambil memperhatikan wajah Hana.
"Iya tapi biarpun banyak masalah, namanya sodara, tetep aja sodara. Kalo salah satu ngilang, pasti bakalan kangen juga,"
"Iya juga sih, aku pernah ngrasain itu,"
"Aku udahan nih belanjanya. Tinggal bayar ke kasir," ucap Hana keluar dari topik pembicaraan.
"Ayo aku anterin, pokoknya aku bantuin kamu sampe depan, aku bawain barang belanjaan kamu," tawar Raja.
"Duh, jadi ngrepotin kamu,"
"Aku gak ngrasa di repotin koq, lagian aku kasian aja sama kamu, belanja banyak sendirian. Oh iya, by the way, kamu pulang naek apa? Dijemput kan?" tanya Raja.
"Iya, nanti aku dijemput koq," jawab Hana diiringi senyuman.
"Sama orangtuamu?"
"Aduhh yang jemput kan Hasan. Mana tadi aku bilang kalo aku anak tunggal lagi. Kalo nanti pas ke depan, Raja liat Hasan gimana nih?" Hana berkata dalam hatinya.
"Oh bukan, bukan. Yang jemput temen aku ntar," jawab Hana sedikit kikuk.
"Temen koq. Dia orang yang udah dipercaya sama orangtua aku buat ngejagain aku. Kemanapun aku pergi, yang anter jemput dia," jawab Hana.
"Wah, temen kamu itu cewek apa cowok? Kayaknya cowok ya? Enak banget udah dapet lampu hijau dari orangtua kamu," jawab Raja memancing Hana.
"Apaan sih, kamu,"
Raja memperhatikan Hana sambil antri di kasir. Hana lalu membuka pesan dari Hasan.
"Aku udah ada di depan," pesan dari Hasan.
"Iya, ini aku lagi antri bayar di kasir," balas Hana.
"Gimana ya cara aku ngomong tentang Samuel, mumpung masih antri di kasir lumayan lama nih. Aku gak boleh sia-siain kesempatan ini," batin Raja sambil terus memperhatika Hana.
"Em, Han! Ngomong-ngomong kamu kan sekolah di Tama, kamu kenal sama Samuel, gak?" tanya Raja.
Mendengar nama Samuel, Hana spontan kaget dan memandang Raja.
"Sa-Samuel?"
"Iya! kenapa koq kamu kaget gitu,"
"Kamu temenan sama dia?"
"Emm iya, dia itu dulu temen SMP aku, aku udah lama banget gak ketemu sama dia. Aku juga udah hilang kontak sama dia. Aku denger-denger dia masuk di Tama juga. Kalo gak salah sih, ambil jurusan akuntansi," ucap Raja berbohong.
__ADS_1
Hana menjadi sedikit galau, apalagi kala teringat peristiwa itu. Raja tampak memperhatikan Hana yang mulai bimbang.
"Kamu gak papa, Han? Koq kayak resah gitu," tanya Raja.
"Gak papa, Ja," jawab Hana diiringi senyuman yang dipaksakan.
"Pertanyaan aku bikin kamu kaget ya? Emangnya kenapa?"
"Nggak papa, Ja. Aku kira kamu temen deketnya Samuel," jawab Hana.
"Bukan koq. Aku malah belom pernah ketemu lagi sejak kelulusan SMP dulu. Emangnya kenapa sih, Han! Koq kamu kaya ketakutan gitu," tanya Raja.
"Gak papa, Ja! Emangnya kalo boleh tau, Samuel dulu orangnya seperti apa, Ja?"
"Duh, koq malah dia nanya balik sih!" Batin Raja.
"Em, setau aku sih, Samuel anak yang baik, Han," jawab Raja berbohong.
"Oh," Hana manggut-manggut mendengar jawaban Raja.
Tiba giliran dirinya untuk membayar. Kasir sibuk menghitung belanjaan Hana. Hana dan Raja berdiri berdampingan masih sambil mengobrol.
"Koq cuman oh doang sih, Han! Kamu punya kontaknya Samuel? Aku minta dong, Han!"
"Sory, Ja. Aku gak punya, dulu sih sebenernya aku dikasih nomornya, cuman belom aku save udah ilang duluan. Dan satu lagi. Samuel itu udah dikeluarin dari sekolah, Ja!" ucap Hana memandang Raja serius.
"Apa? dikeluarin?" tanya Raja pura-pura kaget.
Hana mengangguk.
"Dikeluarin karena apa Han, kalo boleh tau?" tanya Raja lagi.
"Aku juga gak tau pasti, cuman yang aku denger dari anak-anak, Sam dikeluarin karena skandal video dirinya sendiri, yang gak sengaja Samuel kirim ke guru BK, Ja!" terang Hana.
"Video? Video apa-an, Han? Sampe, Samuel dikeluarin dari sekolah?" tanya Raja.
"Aku gak enak mau ngomongnya. Pokoknya video gitu-gitu, Ja. Fatal banget, kalo bukan itu, mana mungkin dia sampe dikeluarin dari sekolah!" ucap Hana kembali.
Raja paham dengan apa yang dikatakan oleh Hana. Ia meremas jaketnya sendiri dengan berang. "Samuel udah bohongin aku! Awas kamu, Sam!" ucap Raja dalam hatinya.
"Oh gitu. Koq bisa sih, Samuel nglakuin hal itu. Padahal dulu anaknya baik loh," tutur Raja.
"Iya aku kira juga begitu, Ja. Tapi setelah kejadian itu ...." kalimat Hana terpotong dan membayangkan peristiwa dulu.
Hana mengelus lengannya sendiri yang merinding, teringat tubuhnya akan dijamah oleh Samuel.
"Kejadian apa, Han? Koq aku perhatiin, kamu ketakutan gitu sih," tanya Raja sambil memperhatikan Hana.
"Bukan apa-apa koq, Ja. Gak usah dibahas lagi," jawab Hana sambil tersenyum.
"Duh bikin aku penasaran aja deh. Hana koq ketakutan gitu," ucap Raja dalam hatinya.
"Ja, kamu koq kepo banget sih, baru kenal juga," kata Hana yang baru menyadari bahwa ia sudah ngobrol jauh dengan Raja.
__ADS_1