Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
84. Maaf, Aku Mencintainya


__ADS_3

Hana menahan bibirnya agar terus tersenyum. Hana bingung, apakah ia akan membiarkan Miki masuk, atau membiarkannya di luar.


"Aku boleh masuk gak?" tanya Miki sekali lagi sambil mengusap kedua lengannya yang merinding karena dingin.


"Em, Hasan gak ada di rumah, Kak! Dia baru aja keluar,"


"Aku gak nanya dia. Aku tadi abis muter-muter, terus lewat sini jadi sekalian mampir. Boleh gak aku masuk? Dingin nih di luar," ujar Miki.


Hana yang merasa tidak enak akhirnya mengijinkan Miki, untuk masuk. Mereka masuk ke dalam rumah bersama.


"Hasan bilang, dia mau pulang ke rumah buat ketemu kakak. Kalo kakak di sini, berarti dia gak bakal ketemu dong," ujar Hana sambil membuka pintu dapur.


"Biarkan saja. Lagian mau main gak kasih kabar dulu. Ngomong-ngomong, ada makanan apa? Aku laper nih," ujar Miki sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


"Aduh, udah abis. Tinggal nasi doang. Tadi, Hana sama Hasan, makan di luar. Kakak mau aku masakin mie?" tanya Hana.


"Boleh kalo gak ngrepotin," jawab Miki sembari tersenyum.


"Kalo gitu, kakak duduk aja dulu. Hana bikinin mie nya," ujar Hana.


Miki kemudian duduk di bangku meja makan. Hana mulai menyalakan kompor dan masak mie instan untuk Miki. Tak lupa juga, Hana membuatkan teh manis hangat untuk Miki.


"Sambil nunggu mie mateng, Kakak minum dulu," ujar Hana sambil menyodorkan teh hangat buatannya.


"Makasih, Han," jawab Miki sambil menerima teh pemberian Hana.


Hana melanjutkan masaknya. Miki memandangi Hana dari belakang sambil tersenyum.


"Andaikan kamu sekarang adalah istriku, Han! Aku pasti seneng banget. Aku gak akan pernah pergi dari peraduanku. Aku tidak akan pernah bosan bersanding denganmu. Kembalilah padaku, Han! Aku masih mencintaimu," batin Miki dalam hatinya.


Hana mengaduk-aduk mie dan bumbu mie di dalam mangkok. Setelah merata, Hana memberikannya kepada Miki.


Hana menarik kursi dan duduk di depan Miki. Hana merasa tidak enak karena ia di rumah berdua dengan Miki.

__ADS_1


"Aku perlu kasih tau Hasan, gak yah? Tapi, dia kan bilang mau pulang ke rumah. Nanti kalo tau Kakak gak di rumah, dia pasti langsung pulang. Biarin aja deh," batin Hana.


"Masih panas, hati-hati makan-nya, Kak!" tutur Hana.


Miki tersenyum mendengar kalimat Hana, yang nampak perhatian kepadanya.


"Kamu gak ikut makan?" tanya Miki.


"Aku masih kenyang," jawab Hana sambil tersenyum.


Mereka terdiam sejenak.


Sambil menikmati mie instannya, Miki mencoba menata hati dan pikirannya dengan kalimat yang akan ia tanyakan kepada Hana.


Hana sendiri tampak canggung sebab, selain Miki adalah abang dari Hasan, Miki juga pernah menjadi bagian di masa lalunya.


"Han, berapa lama kamu bisa lupain aku?" tanya Miki sambil menyesap kuah.


Hana tersenyum mendengar penuturan Miki.


"Maksud aku bukan itu. Aku tanya perasaan kamu,"


"Semuanya mengalir begitu saja, Kak! Apalagi setelah aku kenal sama Hasan. Kakak akan lupa sama perasaan kakak, kalo saja kakak mau membuka hati buat yang lain,"


"Gak mudah buat aku nglupain kamu gitu aja, Han. Meskipun kita gak pernah ketemu, tapi bayang-bayang wajah kamu selalu ada di hati dan pikiran aku. Aku pikir, kamu juga sama kayak aku, tapi ternyata aku salah," ucap Miki dengan sendu.


"Padahal aku berharap banget. Setelah kelulusan, aku akan datang ke rumah kamu. Ingin menyatakan keseriusanku kepada orang tuamu. Tapi, aku sudah terlambat,"


"Kakak, kakak jangan menyesali masalah yang sudah terjadi. Kakak hanya perlu move-on. Aku minta maaf jika aku sudah membuat hatimu sakit. Maafkan aku karena sudah mengecewakanmu. Kakak harus bisa lupakan perasaan kakak itu. Cukuplah hanya ada rasa sebagai seorang kakak, bukan yang lain," terang Hana sambil mengusap punggung tangan Miki.


"Aku belum bisa, Han. Jangan paksa aku,"


"Aku gak mau buat Hasan kecewa dan sedih, Kak! Demikian juga dengan hati orang tuaku,"

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan diriku, Han! Aku yang merasa sedih dan kecewa. Apa kamu tega sama aku?"


Hana menghela nafas panjang.


"Ini sudah takdir kita, Kak! Jalan untuk kita sudah terhenti sejak kamu mutusin buat pergi dari indonesia. Kamu jangan berharap lebih dengan perasaan ini," tutur Hana.


Meskipun Hana sendiri masih menyimpan rasa biarpun sedikiiiit, tapi Hana tidak pernah mau mengungkapkannya di depan Miki. Hana tidak mau memberikan harapan palsu yang tidak akan pernah terwujud. Yang ada, Miki malah akan semakin berharap dan menunggu tanpa kepastian.


"Hana, ceraikan Leo. Kembalilah sama aku," ujar Miki penuh harap sambil memegang kedua tangan Hana.


Hana kaget mendengar keinginan Miki, yang tiba-tiba.


"Gila kamu, Kak! Hasan itu adik kamu! Kamu harusnya mendukung kebahagiannya, bukan malah merusaknya!"


"Tapi, bagaimana dengan diriku, Han? Bahagiaku hanya ada sama kamu. Bukan dengan yang lain. Please, kembali sama aku, Han!" ucap Miki memohon.


Hana tidak habis pikir dengan kalimat yang diucapkan Miki.


"Kalo kedatangan Kakak kesini cuman mau bahas masalah ini. Hana minta maaf, Kak. Hana gak akan pernah bisa ninggalin, Hasan,"


"Apa kamu udah cinta sama Hasan, Han? Kamu udah suka sama dia?" tanya Miki serius.


Hana masih diam. Ia sendiri tidak tau dengan perasaannya saat ini. Yang jelas, ia masih merasa aman jika berada di sisi Hasan.


"Jawab aku, Han! Perjodohan itu dilakukan tanpa adanya cinta. Kalo kamu gak cinta sama Leo, kamu tinggalin aja dia. Cinta itu gak bisa dipaksakan, Han! Aku yakin, Leo juga pasti ngerti kalo kamu gak cinta sama dia. Dia pasti setuju aja kalo kamu ninggalin dia,"


Hana semakin kesal mendengar penuturan Miki. Miki sama sekali tidak mendukung hubungannya dengan Hasan. Meskipun tanpa cinta, tapi pernikahan mereka suci. Hana mencoba untuk tidak bermain-main dalam pernikahan dininya. Meski dalam perjodohan sekalipun, Hana akan mencoba tetap setia, dan menjadi istri yang baik.


"Aku cinta sama Hasan, aku suka sama dia. Jadi, pernikahan ini bukan hanya soal tradisi perjodohan saja," jawab Hana sambil menatap lekat kedua mata Miki.


Miki menggelengkan kepala tanda tak percaya dengan ucapan Hana.


"Aku gak percaya. Kamu jangan bohongin aku, Han. Kamu jangan bohongin diri kamu sendiri," ucap Miki menampik pengakuan Hana.

__ADS_1


"Buat apa aku bohong, Kak! Kalo aku gak cinta sama dia, aku gak akan bertahan sejauh ini. Tinggal di rumah yang sama tanpa perasaan apapun, bulshit! Kami sudah jatuh cinta, Kak! Ga akan mungkin kami berpisah. Kakak harus terima kenyataan ini. Terima aku sebagai adikmu. Bukan kekasihmu!" tutur Hana penuh penekanan.


Miki melepaskan kedua tangan Hana. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sendiri. Miki terlihat membuang wajah dan sesekali menunduk.


__ADS_2