Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Hasan Sudah Tau


__ADS_3

Hasan meremas kedua tangan Hana. "Han, apa kamu juga cinta sama aku? Atau kamu mencintai laki-laki lain?" Hasan menatap lekat kedua mata Hana di bawah terangnya rembulan beserta bintang.


"Apa harus aku jawab sekarang?" tanya Hana.


"Kalo kamu gak yakin, kamu gak usah jawab. Mungkin masih ada laki-laki lain dalam hati kamu," ujar Hasan melepaskan kedua tangan Hana. Perasaannya berubah kecewa.


"San, aku mau jujur sama kamu, tapi kamu jangan marah yah," Hana berganti meremas tangan Hasan. Ia merasa takut ingin mengungkapkan hubungannya dengan Miki dulu.


Hasan mengatur nafasnya. Ia tersenyum dan mengangguk. "Katakan saja semuanya. Aku udah siap denger koq,"


Hana mencoba tersenyum dan memeluk Hasan sebentar. "San, apapun yang akan aku katakan aku akan tetap berada di sisi kamu. Aku adalah istri kamu. Aku gak akan pernah ninggalin kamu," ucap Hana dalam pelukannya.


Hasan mengangguk. Ia merasa terharu dengan kata-kata yang Hana ucapkan. "Aku percaya sama kamu," jawab Hasan.


"Makasih, San ... jadi, sebenernya dulu waktu SMP, aku pernah deket sama cowok. Dia cowok pertama yang bikin aku jatuh hati," Hana berkata sambil menggenggam tangan Hasan.


Meskipun sakit hati karena sudah tau cowok yang dimaksud Hana adalah Miki, Hasan mencoba untuk tetap baik-baik saja.


"Terus, terus!" jawab Hasan menahan rasa cemburunya.

__ADS_1


"Pertemuan kami hanya satu tahun karena waktu itu cowok yang aku suka udah kelas tiga. Sayangnya, kedua orang tua aku yang menganut tradisi perjodohan turun temurun, mengetahui hubungan aku. Akhirnya mereka melarang aku untuk pacaran. Karena aku sudah dijodohin. Ternyata, kamu jodoh pilihan orang tua aku," ucap Hana sambil tertawa.


"Lalu, setelah dilarang sama Mamah dan Papah, apa kamu masih berhubungan sama dia?" tanya Hasan.


"Masih, tapi kami hanya saling diam. Setelah lulus, dia pergi gak ada kabar sama sekali,"


"Pergi kemana?"


"Ke luar negeri,"


"Apa selama dia di luar negeri, kalian tidak bertukar komunikasi?"


"Kasian banget. Terus kamu gak ada kenangan dong sama dia,"


"Ada, sebelum dia pergi dia ngasih aku sketsa gambar dirinya. Dan dia juga nyimpen sketsa wajah aku. Kami masing-masing menyimpan gambar itu,"


Hasan merasakan panas di tubuhnya. Jantungnya terasa sulit untuk bernafas karena menahan amarah cemburu. "Jadi, maksud Rido waktu itu adalah sketsa wajah Abang dan juga Hana," batin Hasan.


"Lalu, dimana cowok yang kamu suka sekarang? Apa kamu masih suka sama dia?" tanya Hasan.

__ADS_1


"Melupakan cinta pertama adalah hal yang sulit. Tapi, semenjak aku kenal sama kamu, aku lupa sama dia, San. Kamu udah bikin aku berubah," jawab Hana.


"Siapa cowok itu, Han?" tanya Hasan sambil mengatur nafasnya.


Hana menelan ludahnya berkali-kali sebelum menjawab pertanyaan Hasan. Hana meremas kuat tangan Hasan. "Kamu jangan marah sama aku yah,"


"Ngapain mesti marah, toh itu hanya masa lalu kamu. Emangnya siapa dia?"


"Dia, dia, Kakak kamu, Kak Miki," jawab Hana dengan perasaan takut.


Hasan memejamkan matanya sebentar lalu tersenyum ke arah Hana. Ia memeluk Hana untuk meredakan amarah dalam hatinya. Hana merasa lebih tenang karena sudah jujur meskipun pikirannya gundah.


"Kamu gak marah kan, San?" tanya Hana.


"Nggak, aku senang kamu udah mau jujur sama aku. Jangan ada yang disembunyiin lagi yah," jawab Hasan kemudian melepaskan pelukannya.


"Jujur, aku sudah tau semenjak Abang datang ke rumah, waktu dia meluk kamu dari belakang. Hati aku sakit banget liat kamu dipeluk mesra sama cowok lain, Han! Tapi aku bisa apa!" Hasan mengutarakan isi hatinya pada waktu itu yang terasa perih teriris.


Hana menutup mulutnya karena begitu kaget mendengar penuturan Hasan. "Jadi, ja-jadi kamu li-liat waktu itu?"

__ADS_1


__ADS_2