
Hasan semakin sibuk dengan pekerjaannya yang kian banyak permintaan. Sepulang sekolah, Hasan akan membuka laptop dan mengerjakan project baru yang diberikan oleh Papahnya. Terkadang, Hasan lupa untuk makan sehingga Hana, harus telaten menyuapi dirinya.
"San, Papah Darma, dia mau ngajak aku makan malam. Nanti, habis pulang dari kantor, Papah mampir mau jemput aku. Boleh nggak?" tanya Hana sambil menyuapkan nasi goreng terakhir ke mulut Hasan.
"Boleh. Tapi, kamu jangan nginep di rumah Papah yah. Soalnya aku mau lembur malam ini. Temani aku kerja. Kamu mau kan," ucap Hasan sembari tersenyum.
Hana membalas dengan anggukan kecil dan senyuman yang manis.
"Makasih yah. Kalo gitu, aku mau siap-siap dulu. Semangat kerjanya," Hana mengecup kening Hasan sesaat. Membuat jantung Hasan berdebar. Selepas kepergian Hana, Hasan merasa tersanjung atas perlakuan manis yang Hana berikan. Jantungnya semakin berdegup. "Semakin lama, Hana semakin romantis. Tambah jatuh cinta aku, hemmmm indahnya pacaran setelah menikah. Mau nglakuin apa aja bebas," gumam Hasan dalam hatinya. Matanya terus menatap layar laptop dengan senyuman yang terpancar di bibir kecilnya.
***
"Pah, kita mau makan malam dimana? Kenapa Hana harus dandan segala, pake dress pula. Apa gak berlebihan?" tanya Hana yang tidak mengerti saat mobil sudah melaju.
"Kita kan mau makan malam di rumah teman Papah. Masa iya mau pake baju biasa, malu dong sayang," jawab Pak Darma seraya tersenyum.
"Temen Papah yang mana? Kok mendadak sekali," sambung Bu Darma.
"Ada lah, kamu pasti suka Mah." Jawab Pak Darma melirik istrinya.
Hana dan Bu Darma sama-sama menghela nafas mendengar kalimat Pak Darma, yang tidak mau berterus terang.
Begitu mobil masuk ke dalam halaman rumah seseorang, Bu Darma bertanya kembali. "Ini rumahnya, Pah? Gede banget,"
"Iya, Mah. Ayo kita turun," ajak Darmawan.
Hana melangkah dengan sedikit ragu. Tiba-tiba saja, hapenya berdering membuat ia mengurungkan niatnya untuk masuk bersama kedua orang tuanya.
"Pah, Hana angkat telpon dulu yah,"
"Oke, jangan lama-lama yah," jawab Darmawan.
__ADS_1
Hana mengangguk kemudian mengangkat telponnya. Sementara Darmawan dan Lita sudah masuk terlebih dahulu.
"Hallo," jawab Hana.
"Kamu sudah sampai?"
"Baru saja. Ada apa menelpon?"
"Pulangnya nanti aku jemput ya."
"Biar diantar Papah aja."
"Aku jemput aja."
"Gak usah. Nanti aku hubungi lagi yah,"
"Siapa teman Papah itu? Kamu kenal?"
"Ya sudah, cepat pulang. Aku kesepian,"
Tut tut tut
Telpon terputus. Hana menghela nafas seraya tersenyum. "Baru ditinggal sebentar saja sudah kangen. Emang begini ya rasanya orang jatuh cinta," gumam Hana dengan hati berbunga-bunga.
"Selamat datang di rumahku, Wan. Lisa," ucap Bagaskara menyabut kedatangan rekan baru bisnisnya.
Bagaskara dan Darmawan saling berpelukan dan menepuk bahu masing-masing. Lita begitu kaget karena suaminya membawa ia ke rumah Bagaskara. Lita memaksakan senyuman di sudut bibirnya. "Selamat datang ya, Bu Darma. Tidak menyangka, kalo suami saya ternyata teman sekolah anda," tutur Ratna istri Bagaskara seraya cipika cipiki dengan Lita.
Lita hanya tersenyum.
"Gimana, Mah. Kamu cukup kaget? Benar kan kalo Pak Bagas itu adalah teman sekolah kamu?" tanya Darmawan. "Aku sengaja bikin kejutan ini buat kamu. Pak Bagas rupanya tau banyak tentang kamu. Dia udah cerita semuanya," terang Darmawan merangkul istrinya.
__ADS_1
"Cerita semuanya?" tanya Lita melirik suaminya.
Darmawan hanya mengangguk. Senyuman menyeringai keluar dari bibir Bagaskara saat menatap mantan kekasihnya itu.
"Cerita apa saja, Pah?" tanya Lita dengan gugup.
"Ah, masa Papah harus kasih tau kamu, Mah. Kamu kan lebih paham. Kalian dulu adalah sahabat dekat kan? Kenapa kamu tidak pernah cerita sama Papah," ucap Darmawan sambil menowel dagu istrinya. Lita hanya tersenyum mendengar kalimat dari suaminya itu.
"Rupanya, Bagas tidak memberitahu hal yang sebenarnya. Syukurlah," batin Lita.
"Mari, kita langsung ke meja makan saja," ucap Ratna menuntun Lita.
"Eh ngomong-ngomong, dimana anakmu, Pak Darma?" tanya Bagas sambil mencuri pandang ke belakang.
"Ouh, dia masih di luar. Ada telpon dari temannya. Nanti dia akan menyusul," jawab Darmawan.
"Oh, ya sudah kalo begitu ... Nah, dia anak saya, Wan," tutur Bagas tanpa menyematkan Pak, dalam menyebut nama Darmawan.
Samuel menuruni anak tangga seraya tersenyum. Lalu menyalami Darmawan dan Lita dengan sangat sopan.
"Selamat malam, Om, Tante," sapa Samuel.
"Wah, seperti pangeran saja putramu, Pak Bagas," puji Darmawan.
"Ah, bisa aja kamu, Wan. Kalo begitu, kita pergi ke ruang makan. Lanjut ngobrol di sana," tutur Bagaskara.
Samuel mencuri pandang mencari sosok yang sudah lama ia nanti. Namun, tak kunjung muncul. "Sam, ayo kita ke ruang makan saja dulu," ajak Ratna dan di balas anggukan oleh Samuel.
Lita merasa bimbang dengan acara malam ini. Perasaannya tidak tenang. Ia memikirkan kata-kata yang pernah diucapkan Bagas, sewaktu berkunjung ke rumahnya. "Kenapa, Papah gak pernah bilang kalo mau makan malam di sini. Dia gak tau, maksud tujuan Bagas adalah, ingin menjodohkan Ceri, dengan anaknya," batin Lita.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan, Lita. Kali ini, kamu tidak boleh menolak permintaanku. Atau, akibatnya akan sangat buruk untuk kelangsungan hidupmu dan keluargamu," batin Bagas seraya memperhatikan Lita.
__ADS_1