Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
37. Kecemasan Dimas


__ADS_3

Hasan lalu menghampiri Yusi yang duduk termangu menantikan kesadaran Damar.


"Yus," ucap Hasan menepuk pundak Yusi, kemudian duduk di sebelahnya.


Hana pun ikut duduk di samping Yusi.


Yusi memandang Hasan dan Hana bergantian.


"Aku khawatir banget sama, Damar, San! Han!" terang Yusi dengan mata sembabnya.


"Kita do'akan yang terbaik untuk Damar, Yus," ucap Hana sambil mengelus punggung Yusi.


"Gimana ceritanya koq bisa, Damar dipukulin orang gak kenal?" tanya Hasan dengan serius.


"Tadi itu, aku dan Damar, abis pulang dari nonton, San! Saat di perjalanan yang lumayan sepi, ada tiga motor yang mepet kami. Mereka menggunakan helm tertutup. Tiba-tiba aja, kami di hadang, San! Dan langsung mukulin Damar tanpa ampun. Aku takut banget waktu itu," ucap Yusi kemudian memegang kepalanya dan terisak kembali membayangkan kejadian mengerikan yang baru saja ia alami.


Hana memeluk Yusi untuk menenangkannya. Hasan mengepalkan kedua tangannya. Giginya gemeretak menahan emosi, mendengar cerita Yusi. Hasan tidak terima sahabatnya dibuat babak belur hingga pingsan.


"Han, apa selama ini, Damar punya musuh?" tanya Hasan.


"Seinget aku, Damar sama seperti anak yang lain, dia gak pernah punya musuh yang serius, San, biasa aja gitu," jawab Hana sambil mengingat waktu SMP nya.


Dokter yang memeriksa Damar, pun keluar dari ruang ICU.


"Gimana keadaan anak kami, Dok?" tanya Mamah Damar.


"Lukanya cukup parah, Bu. Anak ibu, masih koma. Lalu ada keretakan tulang di kaki sebelah kirinya akibat benturan benda berat. Di kepalanya ada luka, tapi setelah kami rongten, tidak ada gejala yang serius, Alhamdulillah bagus. Kita tinggal menunggu dia sadar. Semuanya sudah kami tangani dengan sebaik mungkin. Ibu dan bapak, jangan terlalu khawatir," ucap Dokter diiringi senyuman supaya orangtua Damar tidak tegang.


Orangtua Damar merasa sangat sedih mendengar penuturan dokter. Termasuk juga dengan Yusi, Hana, dan Hasan.

__ADS_1


"Kalian boleh masuk ke dalam. Maksimal dua orang saja yah! Kalo gitu saya permisi dulu," ucap Dokter kemudian pergi dari sana untuk melanjutkan tugasnya di ruangan lain.


"Terimakasih, Dok," ucap Papahnya Damar sebelum, dokter benar-benar menghilang dari sana.


Orangtua Damar masuk lebih dulu. Sementara Yusi, Hasan, dan Hana, menunggu di luar.


Yusi masih menangis tersedu. Terlebih lagi saat mendengar pernyataan dokter, tentang kondisi Damar.


"Udah Yus, jangan nangis terus! Kita berdo'a aja semoga, Damar segera sadar yah," ucap Hana sambil memeluk Yusi kembali.


"Aku bakal cari tau siapa orang yang udah mukulin kamu, Dam! Aku janji! Aku bakal bales semua perbuatan mereka terhadap kamu!" Hasan berkata dalam hatinya.


Tatapan mata Hasan tajam penuh dengan emosi dan rasa dendam yang membara. Ia mengepalkan kedua tangan-nya dengan keras.


Hasan kemudian pergi dari ruang tunggu ICU dan menyendiri di tempat sepi. Ia meninju tembok dengan brutal. Pikiran dan hatinya di penuhi fakta tentang keadaan Damar yang terbaring koma.


Setela beberapa menit Hasan melampiaskan emosinya, ia terduduk di lantai dan bersandar di tembok. Ia memijat kepalanya, dan mulai berpikir jernih. Hasan menghela nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.


"Apakah, ini semua ada sangkut pautnya dengan, Samuel!" ucap Hasan dalam hatinya.


Disisi lain, Samuel yang berhasil keluar dari rumah, tengah bersenang-senang bersama teman-temannya, merayakan kemenangan mereka.


Mereka masing-masing, memegang botol jus anggur. Kecuali, Raja.


"Hahahaha, ternyata, dia gak sejago yang aku kira. Padahal gayanya dulu selangit banget. Tapi nyatanya, sekali bogem langsung ka.o. Hahahaha," ucap Samuel yang ternyata ikut serta memukuli Damar.


Rangga, Dimas, dan Bayu ikut tertawa penuh kemenangan bersama Samuel. Sementara, Raja hanya diam sambil memperhatikan tingkah teman-temannya itu dengan curiga.


"Kamu bilang orang itu bisa bela diri, jago banget. Tapi, sepertinya kamu salah, Sam! Kalo orang yang nyerang kamu itu seperti orang yang kita serang tadi, kamu gak perlu bantuan aku, bahkan kamu sendiri bisa," kata Raja penuh selidik setelah mendengar penuturan Samuel tadi.

__ADS_1


"Iya emang bener, Ja! Waktu itu dia nyerang kita tanpa pindah tempat. Emang jago banget. Tapi malam ini, mungkin dia lagi stres karna gak bisa dapetin orang yang dia cinta, hahaha!" Samuel tertawa kembali sambil minum.


"Sam! Apa masalah kamu ini karena perebutan cewek? Apa cewek yang aku tendang itu yang kamu maksud?" tanya Raja kembali mulai mengorek informasi disaat Samuel dan teman-temannya mulai teler.


Samuel tidak menjawab pertanyaan Raja. Raja kemudian bertanya kepada yang lain.


"Dimas, Rangga, Bayu! jawab aku!" seru Raja tambah curiga.


Mereka ber empat saling berpandangan mendengar pertanyaan Raja. Samuel lalu menjawabnya.


"Iya, Ja! Emang gadis itu penyebabnya. Tapi, masalah aku dikeluarin dari sekolah juga karena dia dan juga, Damar, orang yang kita pukulin tadi," jawab Samuel tanpa menjelaskan masalah rincinya.


"Kamu gak bohong kan sama aku, tentang masalah kamu yang sebenernya?" tanya Raja melipat kedua tangannya di dada.


"Aku gak bohong, Ja! Serius ... udah deh, kamu jangan mikirin masalah aku yang udah berlalu itu, mendingan sekarang kita minum-minum dulu sampai pagi," bujuk Samuel sambil menyodorkan botol kepada Raja.


Raja menepisnya dengan kasar. "Kamu nikmatin aja minuman haram itu bareng mereka," ucap Raja sambil melirik Rangga, Bayu, dan Dimas.


"Sam, aku berharap, kamu gak bohong sama aku. Kita emang temen deket, aku mau bantu kamu, atau kalian lah, sebagai temen aku, apa aja. Tapi dengan catatan, kamu bener. Kalo kamu salah, aku juga gak bakal segen buat hajar kamu, dan kalian semua!" Raja berbicara dengan mimik wajah serius memperingatkan semua teman-temannya.


"Iya, iya. Kamu te-te-nang aja! Aku gak bohong koq," ucap Samuel dengan tubuh yang sudah sempoyongan dan suara pelan.


Raja melihat semua teman-temannya sudah pada mabok. Ia kemudian memutuskan untuk cabut dari basecamp.


Raja memang berteman baik dengan Samuel dan yang lainnya. Meskipun Samuel cs, terlihat nakal, suka minum, merokok, tapi, Raja tidak seperti itu. Raja selalu bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menjamah hal yang tidak baik itu. Tanpa kecuali jika dia sedang ada masalah dalam dirinya.


Raja merupakan sosok yang care kepada teman-temannya, sehingga ia mau membantu jika temannya sedang kesusahan atau ada masalah. Tapi, dengan satu catatan bahwa masalah yang di hadapi teman-temannya adalah kebenaran. Bukan murni kesalahan dari temannya.


Seperginya Raja, Dimas yang masih cukup sadar, mulai terlihat cemas. Dia melirik teman-temannya yang sudah tepar di lantai.

__ADS_1


"Gimana kalo, Raja tau yang sebenernya, dia pasti marah besar, dan bakal nyerang balik. Bahkan dia gak bakal mau temenan sama aku dan yang lain juga. Padahal, Raja satu-satunya orang yang bisa diandelin di sini. Dia juga udah baik banget sama aku. Dia selalu nolongin aku, kalo aku sedang kesusahan. Aku jadi ngrasa salah juga, dan tidak enak padanya," ungkap isi hati Dimas yang sekarang tengah gelisah.


__ADS_2