
Akhirnya, mereka sampai di bawah kaki gunung Pranji. Mereka memarkir kendaraan dan bagi kaum pria membawa carier masing-masing sedangkan kaum wanita hanya membawa badan saja.
"Wah, beda benget sekarang. Jauh lebih modern. Apa sekarang gunung Pranji dijadikan tempat wisata? Kenapa mendadak menjadi warna warni begini," ucap Raja sambil melihat sekeliling.
"Selamat datang di wisata gunung Pranji," Hana tampak membaca spanduk yang di sematkan di atas gapura. "Wah, treknya udah beda banget. Gak seperti dulu. Jalannya juga sudah dibuat," sambung Hasan sambil mengamati anak tangga dengan jumlah ratusan yang menjulang tinggi ke atas.
"Ya, bener banget. Adrenalinku tak berguna kalo kayak gini," ucap Raja sambil membenarkan tas carirnya.
"Ya gak papa lah, ini cocok buat aku yang pemula. Jadi, bisa dengan mudah lewatin jalannya. Tapi ngomong-ngomong, puncaknya masih jauh dari sini?" tanya Cantika sambil melirik Raja. "Jauh lah, kita ini baru saja sampai di pelatarannya. Jauh bagi kamu sih sebenarnya. Kalo aku nggak, dua jam juga udah nyampe. Ngomong-ngomong, aku daftarin kalian semua dulu yah," ucap Raja yang kemudian di balas anggukan oleh yang lain.
Sebenarnya, perasaan mereka masing-masing tidak enak. Kecemburuan Hasan terhadap Raja dan Miki. Kecemburuan Cantika kepada Hana. Hana yang merasa bimbang karena pergi bersama tiga pria yang sama-sama dekat dengannya, ditambah lagi dengan Cantika yang tidak suka kepada dirinya. Miki yang tidak bisa lepas dari Hana, sementara Hasan sudah memilikinya. Dan Raja, dengan perasaan cemburu kepada Hasan, serta rasa takut jika Hana sampai tau dia yang sebenarnya.
Masing-masing diantara mereka mencoba untuk membenahi sikap agar agenda muncak yang tengah mereka jalani berjalan kondusif tanpa halangan apapun.
Setelah berhasil mendaftar, mereka wajib tanda tangan dan membayar sebesar 15.000 rupiah per orang, agar bisa naik ke gunung Pranji. "Wah, benar-benar tempat wisata ini mah. Dulu gak perlu bayar, tinggal naik aja cari jalan sendiri. Sekarang beda banget," tutur Raja kembali. "Ya udah sih, bayarnya juga gak mahal," sambung Hasan yang membuatnya dilirik oleh Raja. "Aku tidak mempermasalahkan soal uangnya, tapi tempatnya," ujar Raja yang merasa tersinggung.
"Sudah, sudah. Baru aja nyampe udah mau berantem. Pokoknya, kita semua yang ikut di sini harus kompak yah. Gak boleh ada yang egois. Kalo ada hal yang tidak disukai, segera bilang dan kita cari solusinya sama-sama. Jangan dipendam dan mencari solusi sendiri. Oke!" Hana mencoba memberikan saran kepada semua teman-temannya. Semuanya hanya mengangguk sebagai simbol setuju.
"Ya udah kalo gitu, ini kan udah mau dhuhur lebih baik kita naik abis sholat aja. Tanggung soalnya. Sekalian kita istirahat dulu buat ngumpulin tenaga," lanjut Hana kembali.
__ADS_1
"Wah, baru pertama kali ikut mendaki, tapi kamu punya jiwa leader yang baik, Hana. Aku salut sama kamu," Miki memuji Hana yang mampu membuat Hasan, Raja, dan Cantika cemburu. Hana hanya tersenyum mendengar pujian dari Miki.
"Aku, liat-liat sekeliling aja deh pengin tau kayak apa tempatnya," ujar Cantika kemudian mulai berjalan kesana kemari menikmati pemandangan di sekitar tempat pelataran.
"Aku ikut Cantika, aja deh," ujar Raja kemudian bangkit dari tempat duduknya menghampiri Cantika yang berdiri di pagar pembatas.
Sementara Hasan, Miki, dan Hana masih duduk post. Hana melirik jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 12 lebih lima belas menit. "kayaknya gak ada yang adzan, kita langsung sholat aja gimana? Atau kamu mau adzan, San?" tanya Hana.
"Langsung sholat aja. Kamu mau ikut sholat gak, Bang?" tanya Hasan sambil menyenggol kaki Miki yang berseloroh.
"Oh, aku gak ikut. Kalian berdua aja yang sholat. Aku jaga di sini," jawab Miki kemudian memejamkan matanya. Hasan menggelengkan kepalanya, "semenjak di luar negeri kamu gak pernah sholat, Bang!" ujar Hasan sembari melinting celana jeansnya.
"Sudah, ayo kita aja yang sholat," gumam Hana sambil menarik tangan Hasan.
"Iya tergantung lah. Yang penting kamu gak macem-macem aja. Kalo Raja, nempel-nempel sama kamu ya terpaksa aku hajar dia," ucap Hasan sambil menata rambutnya yang masih basah terkena air wudhu.
"Pokoknya kamu jangan macem-macem. Jangan bersikap berlebihan. Oke!"
"Nggak oke! Yang harusnya bilang oke itu aku, bukan kamu. Nanti pas jalan, kamu gak boleh jauh-jauh dari aku. Kalo ada apa-apa bilangnya sama aku. Jangan sama Raja, ataupun Abang. Paham!" Hasan menatap Hana dengan tajam, membuat Hana bergidik ngeri jika harus melanggar perintahnya.
__ADS_1
"Udah ayok, yang lain pasti udah nungguin," tutur Hasan kemudian berjalan lebih dulu. Sementara Hana masih sibuk memasukan mukenanya ke dalam tas kecil. "Dia itu menyebalkan sekali. Cemburunya berlebihan," gumam Hana dengan ekspresi kesalnya.
Mereka ber empat telah siap untuk naik ke atas puncak. Cantika dan Hana tidak membawa tas, mereka hanya membawa tongkat untuk tumpuan jalan. Raja berada di paling depan, setelahnya ada Hana, Hasan, Cantika, dan Miki. Mereka menaiki anak tangga yang masih terbuat dengan tanah liat. Jaraknya lumayan panjang sekali. Beberapa kali Cantika mengambil foto mengabadikan moment di tangga tersebut. "Wah, pemandangan di sini aja udah indah, gimana pas di atas nanti yah," tutur Cantika dengan raut bahagianya.
"Rasa capek mu bakal terbayar semuanya, Can. Gak nyesel kamu ikut muncak," jawab Hasan sambil menengok ke belakang.
Selesai menaiki anak tangga, mereka beristirahat sebentar untuk berswafoto di tempat yang sudah di khususkan. Indah memang indah, pohon-pohon masih sangat rimbun berjajar dengan rapih. Pemandangan di bawahnya begitu memanjakan mata. "Wah, dilihat dari sini saja sudah bagus banget. Gimana kalo kita lihat dari atas ya?" ujar Cantika yang tampak mengagumi indahnya ciptaan Tuhan.
"Makanya, aku bilang juga pasti rasa capek kita akan terbayar semuanya setelah kita sampai di puncak," jawab Hasan sambil mendekat ke arah Cantika. Mereka kemudian mengambil foto bersama.
"Cih, bilang aku tidak boleh dekat-dekat dengan Raja atau Kakak. Dia sendiri malah deketin Cantika. Ngeselin banget sih!" Hana berkata dalam hatinya dengan wajah cemberut.
"Ingat, kamu harus pepet terus Miki," Hasan berbisik di telinga Cantika, membuat Hana merasa cemburu. Hana kemudian memilih melanjutkan perjalanannya lagi meninggalkan teman-temannya di belakang.
"Han, tungguin dong!" seru Raja.
Mendengar seruan Raja, Hasan segera ikut berjalan mengejar Hana yang lebih dulu naik ke atas. Sementara Cantika dan Miki masih di belakang. Cantika mencuri-curi pandang ke arah Miki yang tengah kerepotan membawa carier dengan ukuran yang lebih tinggi darinya.
"Kakak masih capek? Kalo capek kita istriahat lagi aja," ujar Cantika kemudian memberikan air mineral kepada Miki.
__ADS_1
"Makasih," Miki mengambil botol mineral dari tangan Cantika. Lalu meminumnya sedikit dan memberikannya kepada Cantika lagi. "Sebaiknya kita juga ikut jalan sama mereka, takut nyasar. Soalnya aku sendiri belum pernah ke sini," ujar Miki mulai berjalan dengan langkah yang terasa berat.
Cantika hanya tersenyum dan berjalan di belakang Miki tanpa banyak bicara.