
Mona terjerembab ke belakang mendengar reaksi dari Miki. Ia memegangi dadanya yang terus berdegup tak menentu karena takut.
"Ma maf Tuan, jika permintaan saya yang terlalu blak-blakan. Apalagi kita baru saja bertemu. Tuan, saya datang kesini tadinya ingin bekerja di sebuah restoran. Saya ikut yayasan di Indonesia. Akan tetapi, setelah sampai di sini, saya malah dijadikan pembantu. Pembantu saya ternyata seorang psikopat. Saya tidak tahan tinggal di sana. Lalu, saya bertemu dengan orang Indonesia juga. Saya sudah sharing banyak kepada orang itu. Dan dia mau menyarankan untuk mendatangi kedutaan. Akan tetapi, setelah bercerita banyak mengenai keberangkatan saya, paspor dan visa saya ternyata ilegal. Tidak sah. Jadi Tuan, saya harus bagaimana. Saya mau pulang ke Indonesia. Saya mau bekerja di kota sendiri saja meski gajinya kecil," ucap Mona dengan penuh kesedihan. Lika liku yang ia alami di negeri orang pasti sangatlah sulit.
Miki mendengarkan cerita Mona dengan seksama. Ia merasa iba mendengar pernyataan Mona.
"Aku ikut sedih mendengar ceritamu yang entah benar atau tidak. Tapi, aku tidak bisa menjamin bisa membantumu. Paspor hanya bisa dibuat di negeri kita sendiri. Itu yang membu ...."
"Tolonglah Tuan. Saya mohon dengan sangat. Berapapun biayanya, potonglah gaji saya nanti," ucap Mona.
"Cih, bekerja saja belum sudah bilang potong gaji. Aku tidak yakin jika kamu sungguh-sungguh,"
"Saya bicara apa adanya, Tuan. Saya tidak bohong. Di Indonesia, saya adalah orang miskin. Tidak punya apa-apa,"
"Kalo kamu tidak punya apa-apa, bagaimana dengan ongkosmu untuk pergi kesini? Biayanya tidaklah sedikit,"
"Orang tuaku berhutang pada bank. Dan saya berjanji ketika saya sudah bekerja di sini, saya akan mengganti uang tersebut. Tapi, nasib apes justru datang begitu saja," jawab Mona dengan lesu.
Miki terus memperhatikan raut wajah Mona. Ia tidak bisa percaya begitu saja dengan wanita yang kini ada dihadapannya.
"Kalo kamu membuat paspor dan pulang ke Indonesia, bagaimana dengan hutang bank mu? Bagaimana kamu mengirim uang kepada orang tuamu?" tanya Miki, melipat tangan di dada.
"Iya, saya nunggu hutangnya lunas dulu, Tuan."
"Berapa hutangmu?"
"Apakah Tuan, berniat ingin membantu membayar?"
"JANGAN MIMPI! Sudah pulang sana. Makanan yang kamu masak cukup untuk makan malam nanti. Kamu kembali besok dan bawa surat lamarannya." Miki mengalihkan pandangan, menatap layar laptopnya kembali.
__ADS_1
Mona mendengus kesal. Baru saja ia menaruh harapan agar Miki mau membantunya. Tapi ternyata ia gagal.
Mona kemudian berdiri dengan menahan sakit di lutunya. Ia berjalan dengan hati-hati. Miki menyadari ada yang salah dengan kaki Mona.
Mona memakai jaket dan mengambil tas slempangnya. Ia akan pulang dengan perut menahan lapar karena Miki sama sekali tidak menawarinya makanan.
"Tunggu!" seru Miki.
Mona berbalik melihat Miki dengan pandangan kesal. Miki menghela nafas kemudian berjalan mendekati Mona.
"Apa kakimu sakit?" tanya Miki sambil melihat kaki kanan Mona yang berdiri tidak tegap.
"Ah, tidak apa-apa Tuan. Hanya sakit sedikit."
"Bagus lah. Oh iya ngomong-ngomong, besok kamu tinggal di sini saja. Bawa semua barang-barangmu yang berharga."
"A a a apa ma maksdunya, sa sa saya tinggal di sini?" tanya Mona tergagap.
"24 jam? Maksudnya?"
"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya bekerja sebagai asisten,"
"Saya tidak harus melayanimu kan, Tuan?"
"Kamu bicara apa! Kamu pikir kamu istriku. Aku berbaik hati mau membantumu. Kamu jangan salah mengartikan. Yang aku butuhkan hanyalah seorang pembantu. Kamu paham!"
"Yes, Sir. Saya pamit dulu. Emm, saya pikir anda sudah mempunyai tambatan hati," ucap Mona tiba-tiba.
Miki mengernyitkan kening. Ia kemudian menahan Mona kembali saat Mona sudah membuka pintu.
__ADS_1
"Tunggu! Apakah kamu melihat semua sketsa yang aku gambar!" tanya Miki.
"Em, tidak semuanya. Hanya sketsa beberapa laki-laki dan satu perempuan yang sangat cantik dan imut," jawab Mona seraya tersenyum.
"Oh. Apakah kamu mengenali laki-laki di sketsa yang aku gambar?" tanya Miki asal bertanya.
"Emmm, di sketsa yang belum jadi, aku sepertinya kenal. Eh, pernah melihat beberapa kali. Ada apa? Kenapa Tuan menggambar wajah mereka?" tanya Mona dengan polos.
"Apa kamu sungguh kenal diantara mereka?" tanya Miki serius sambil memegang lengan Mona dengan kuat.
"Saya tidak kenal. Hanya pernah melihat," jawab Mona sedikit takut.
Miki melepaskan cengkeramannya. Ia diam sejenak.
"Maaf Tuan, saya rasa harus pulang sekarang juga dan menyiapkan dokumen untuk Tuan. Jika sudah tidak ada yang ingin ditanyakan, saya permisi,"
"Mona, untuk jika kamu benar-benar mengenal dengan orang yang aku gambar, berhati-hatilah. Dan jangan ungkapkan kebenaran yang kamu lihat di sini, kepada siapapun. Meskipun ia teman terdekatmu," perintah Miki dengan tegas.
"Baik, Tuan," jawab Mona kemudian segera keluar dari apartemen Miki.
Mona berjalan dengan langkah kaki cepat. Ia terlihat begitu gugup. Jika diamati baik-baik, Mona memang sepertinya mengenal salah satu sketsa gambar itu. Tapi ia sendiri kurang yakin sebab sketsa tersebut belum maksimal.
Miki kembali ke tempat bekerjanya. Ia kemudian mengambil sketsa yang belum terselesaikan dan berniat untuk meneruskannya kembali.
"Setelah gambar ini selesai, Mona pasti bisa lebih gampang untuk mengenalinya. Sial, niat ingin mencari asisten, malah bertemu dengan salah satu organisasi hitam itu. Tapi, jika di lihat dari logat bicaranya dan kepolosannya, Mona tidak terlibat dalam organisasi itu. Mona gadis yang bodoh dan takut, bagaimana dia bisa masuk ke organisasi itu. Paling tidak, Mona harus bisa membunuh orang jika ingin masuk," gumam Miki penuh pemikiran.
"Hah, untuk apa aku memikirkan hal yang tidak penting ini. Aku yakin dia adalah gadis yang sangat baik," tutur Miki kembali.
Untuk mengobati rasa rindunya, Miki melihat beberapa foto Hana, yang ia ambil saat di gunung pranji. Miki tak bisa menghilangkan guratan senyum dalam bibirnya ketika melihat seluruh poto-poto itu.
__ADS_1
"Sweety heart. Aku kangen banget sama kamu. Apa kamu juga kangen sama aku? Sayang sekali kamu sudah jadi adik iparku. Tapi, maukah kamu menikah dengan kakak iparmu, Hana?" gumam Miki sambil mengelus poto Hana.