Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Lapar


__ADS_3

Hasan tidak langsung menyusul Miki, ke dalam kamar. Ia menyalakan laptop yang dari kemaren nganggur di meja TV.


"Lumayan, dapat project baru," gumam Hasan sambil membuat desain baru di laptopnya.


Perut Hasan yang keroncongan, memaksakan dirinya untuk mengunjungi dapur.


"Sayurnya udah abis. Tengah malam begini gak mungkin bisa DO,"


Hasan tampak berpikir. Ia sudah makan sore tadi. Tapi, mendadak di tengah malam yang lumayan dingin membuatnya kelaparan.


Hasan membuka magicom, nasi di sana masih ada. Namun, ia menutupnya kembali karena tidak tau mau diapakan nasi itu.


Hasan mengacak rambutnya dengan kasar. Dia kemudian membuka lemari atas dapur. Masih ada dua mie instan. Ia kemudian berinisiatif untuk merebusnya.


Hana sendiri masih terjaga. Ia tidak bisa tidur karena Miki, yang menginap di rumahnya. Hana tengah selesai membalas chat dari Raja, yang menyatakan kesediannya untuk diajak menonton film pada esok hari.


"Oke, besok kita ketemuan di bioskopnya aja langsung yah, sekalian aku mau belanja bulanan," balas Hana.


"Siap, aku pake mobil aja besok yah," balas Raja.


"Kita, pulang pergi sendiri-sendiri aja, Ja,"


"Loh kenapa?" tanya Raja keheranan. "Kita kan nontonnya bareng, kamu juga mau belanja. Daripada kerepotan kayak dulu, aku temenin dan anterin sekalian aja," tutur Raja.


"Nggak, kita sendiri-sendiri aja. Kalo kamu gak mau, kita batal nonton," balas Hana sengit.


Raja tampak kesal di kamarnya sambil membaca chat Hana.


"Kenapa sih tuh anak. Enakan aku anterin. Kok nolak sih," keluh Raja, yang kemudian membalas chat Hana.


"Oke! Jangan ngambek. Aku tau, kamu pasti di jemput Hasan, kan?" balas Raja.


Hana sudah tak membalas chat dari Raja. Perutnya juga tiba-tiba keroncongan. Ia memegangi perutnya yang terus berbunyi.


"Ah elah, mau tidur aja kerasa laper. Harusnya tadi aku ikut makan sama Kakak," keluh Hana.


"Pasti udah pada tidur, lebih baik aku masak mie aja deh," ucap Hana lalu beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar.


Begitu pintu di buka, aroma mie instan menyeruak yang mampu membuat perutnya terus bergoyang.


Hana melihat Hasan yang tengah berkutik dengan laptopnya sambil sesekali menyesap kuah mienya. Hana berjalan perlahan, ia melewati Hasan begitu saja. Hasan juga tidak sadar jika Hana berjalan di belakangnya.


"Dia abis bikin mie juga rupanya," batin Hana dalam hatinya.


Hana membuka lemari, mie instannya ternyata sudah habis. Sedangkan perutnya keroncongan. Hana lalu membuka kulkas, untuk melihat stok telur.


Hasan mendengar suara saat pintu kulkas di buka. Ia melirik ke arah dapur, dan melihat Hana di sana tengah mencari sesuatu. Begitu yang dicari tidak ada, Hana cemberut sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Cih, kenapa tuh anak. Pasti laper juga dia," batin Hasan sambil menyunggingkan senyum.


Hasan mengaduk-aduk mie instannya agar aromanya keluar kembali, dan tentunya agar cepat hangat.


Dua bungkus mie instan dan satu telur yang tersisa sudah Hasan olah semua.


Dengan perasaan kecewa, Hana berjalan menunduk tak semangat menuju kamarnya. Begitu melewati ruang televisi, Hana berhenti karena kalimat Hasan.


"Hemmm, enak sekali mienya," ucap Hasan sambil menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya.


Hana menghela nafas dan melanjutkan langkahnya lagi. Baru satu langkah berjalan, Hasan mencegahnya dengan kalimat yang sengaja dibuat agar Hana berhenti.


"Aku masaknya kebanyakan deh ini. Duh, kalo gak habis gimana? Siapa yang mau barter makan sama aku ya? Apa aku bangunin, Miki aja? Sayang kalo gak habis," ucap Hasan pura-pura kemudian berdiri dan berbalik.


"Loh, Hana! Kamu koq di sini? Katanya tidur," ucap Hasan sambil memandang wajah Hana yang tampak lesu.


Hana tersenyum kecut. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"I-iya, tadi aku haus, jadi mau ambil air minum," jawab Hana.


"Terus, mana air minumnya?" tanya Hasan sambil melipat tangan.


"Oh, aku tadi langsung minum di dapur, hehehe," jawab Hana sambil tertawa. "Kamu mau kemana?"


"Aku mau bangunin Abang, aku masak mie kebanyakan, takut gak habis jadi mau ajak dia makan bareng," ucap Hasan sambil tersenyum.


"Terus, aku harus gimana sama mie ini? Tadi aku masak semua soalnya," ujar Hasan sambil menggaruk tengkuknya.


Hana tersenyum senang. Akhirnya, dia tidak jadi kelaparan.


"Sebenernya aku gak laper, tapi sayang kalo gak habis. Mubazir," ucap Hana sambil melirik mie dalam mangkok. "Tunggu, aku ambil mangkok. Mie nya dibagi dua aja yah," ucap Hana kemudian berlari mengambil mangkok dan sendok.


Tak lupa, Hana mengambil satu gelas air putih hangat. Dengan wajah bahagia, Hana segera berlari menghampiri Hasan.


Hasan menahan senyum melihat ekspresi Hana yang teramat bahagia, seperti habis menang undian.


Hana duduk di karpet, dan menuangkan separuh mie dari mangkok Hasan ke mangkok miliknya.


Hana mengaduk-aduk mienya sebentar, lalu menyantapnya dengan penuh rasa syukur.


"Alhamdulillah, habis ini aku pasti bisa tidur," gumam Hana sambil menikmati mie instannya.


Hasan tersenyum melihat Hana yang tengah mengunyah sambil memejamkan mata menikmati semangkuk mie instan yang terasa nikmat di lidah.


Hasan melanjutkan mengerjakan desainnya sambil menyantap mienya juga.


"San, kamu ngerjain apa?" tanya Hana.

__ADS_1


"Seperti biasa," jawab Hasan masih fokus di depan laptopnya.


"Ada berapa project?" tanya Hana, lalu minum air putihnya.


"Satu aja, lumayan buat nambah uang jajan kamu," jawab Hasan diiringi senyuman.


Hana seketika berhenti sejenak menyantap mie instannya. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba merasa trenyuh ketika Hasan mengucapkan kalimat itu. Hasan yang masih muda terpaut satu tahun dengannya, dipaksa dewasa dan mencari nafkah untuk dirinya. Meski sudah menjadi kewajiban Hasan, tapi tetap saja, Hana merasa tidak enak. Apalagi kala Hana ingat, ia sering pergi bersama laki-laki lain, dan juga Hana menyembunyikan hubungannya dulu dengan Miki, kakak Hasan sendiri. Hana menjadi merasa bersalah. Ia merasa sedih atas sikapnya terhadap Hasan.


Hasan yang menyadari kediaman Hana, ia meliriknya sekilas.


"Hey, kenapa? Koq kamu mendadak diem! Mienya melar tuh, cepet abisin," ucap Hasan yang sudah lebih dulu menghabiskan mienya.


Hana mencoba menyembunyikan perasaan sedihnya itu. Dia tersenyum lalu segera menghabiskan mienya.


Setelah habis, Hana membawa mangkok miliknya beserta punya Hasan ke dalam wastafel. Hana mencucinya langsung agar tidak menumpuk.


Hana masih terngiang dengan kalimat yang Hasan lontarkan. Ia merasa bersalah dan tidak enak kepada Hasan. Hasan memberinya ATM, yang nominalnya selalu bertambah setiap bulan. Tapi, Hana belum sepenuhnya menurut kepada Hasan.


"Maafin aku, San! Belum bisa jadi istri yang baik buat kamu," gumam Hana.


Hasan memperhatikan Hana yang berlama-lama di depan wastafel. Ia kemudian memanggil Hana.


"Hana? Kamu ngapain di situ terus? Nyuci dua mangkok gak perlu waktu sepuluh menit!" Seru Hasan sambil memandang Hana.


Hana tersadar. Ia kemudian mengelap kedua tangannya dan segera berbalik, berjalan kembali ke arah Hasan sambil tersenyum.


Hasan memandangnya dengan penuh kecurigaan.


"Kamu kenapa? Apa yang kamu pikirin?" tanya Hasan menatap curiga.


"Apa? Aku gak kenapa-napa. Kamu udah selesai belom sama projectnya?" tanya Hana.


"Sebentar lagi. Kenapa?" tanya Hasan balik.


"Kalo udah ya buruan istirahat, udah jam setengah dua nih," jawab Hana sambil memandang jam dinding.


"Aku sekalian tidur di sini aja,"


"Loh, jangan dong! Dingin tau!"


"Terus tidur dimana? Aku kan gak boleh tidur sama kamu," jawab Hasan sekenanya.


Mendengar jawaban Hasan, Hana merasa merinding.


"Kan kamu bisa tidur sama Kakak," ujar Hana.


"Aku maunya tidur sama kamu koq," jawab Hasan sambil menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


Hana menelan ludahnya sendiri. Jujur ia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, ia tidak mau jika tidur bersama Hasan karena takut jika Hasan khilaf. Tapi di satu sisi, ia juga merasa bersalah jika tidak menuruti keinginan Hasan sebagai suaminya.


__ADS_2