Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
39. Kecurigaan Raja


__ADS_3

Yusi dan orangtua Damar datang, begitu melihat Damar sudah siuman, mereka sangat bahagia. Orangtua Damar langsung berlari dan memeluk Damar.


Yusi merasa terharu, ia mengusap air matanya yang masih menggenang di pelupuk matanya.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak! Mama bingung dan sedih sekali lihat kamu gak berdaya di sini," ucap Mama Damar diiringi Isak tangis.


"Iya, Mah! Maaf yah, udah buat kalian sedih. Damar sekarang udah baik-baik aja," jawab Damar.


"Siapa yang sudah bikin kamu begini, Nak?" tanya Papa Damar dengan wajah geram dan bahagia melihat Damar sudah sadar.


Damar melirik Hasan. Hasan menggelengkan kepalanya.


"Em, Damar gak tau, Pah! Mungkin preman atau apa," jawab Damar sekenanya.


"Kita harus lapor polisi," terang Papahnya.


"Udah lah, Pah! Tidak usah diperpanjang urusannya. Damar kan udah baik-baik aja. Lagian, Damar juga gak tau mereka, Damar malah udah gak inget dengan kejadian kemaren malem," ucap Damar.


"Tapi, Papah gak terima anak Papa di bikin begini, kaki kamu patah, Dam!" ucap Papahnya emosi.


"Nanti juga sembuh, Pah! Papah tenang aja," jawab Damar yang sudah melepas oksigen nya sedari tadi.


"Iya, Pah. Masalah ini tidak usah di perpanjang. Toh, Damar sudah sadar," ucap Mamah Damar tersenyum dan mengecup kening anaknya itu.


Orangtua Damar terdiam, Hasan kemudian berkata untuk menyalurkan suasana yang sedikit kaku.


"Yus, kamu suap-in tuh si Damar. Dia harus sarapan sebelum minum obat," seru Hasan kepada Yusi yang sedari tadi diam sambil memperhatikan Damar.


"Oh iya, aku hampir lupa. Kamu sama Hana, juga belum makan kan? Aku bawa-in sarapan juga buat kalian. Hana mana, San?" tanya Yusi celingukan.


"Di toilet ... Nah, itu dia muncul," jawab Hasan sambil menunjuk dengan kepalanya.


Yusi memandang ke arah Hana yang telah keluar dari toilet dan berjalan mendekati brankar Damar.


"Om, Tante, Yusi, udah dari tadi datengnya?" tanya Hana diiringi senyuman, kemudian salaman dengan orangtua Damar.


"Iya, makasih ya Hana, kamu sama Hasan, udah nungguin Damar di sini," kata Mamah Damar.

__ADS_1


"Iya, Tante, sama-sama," jawab Hana.


"San, karena Mama, Papa, dan Yusi udah di sini, kalian berdua mendingan pulang aja, gantian istirahat. Aku juga udah gak papa koq, tinggal mulihin kaki aja," kata Damar.


"Iya, Han, kamu sama Hasan pulang aja, biar kami yang jagain, Damar," ucap Mamah Damar.


"Oh, iya udah kalo gitu saya dan Hana pamit pulang ya, Tante, Om ... Yus, jangan lupa si Damar suapin, oke!" ucap Hasan sambil mengerlingkan mata ke arah Yusi.


Yusi tersipu mendengar kalimat yang dilontarkan Hasan.


"Iya, iya, San!" jawab Yusi.


Hasan dan Hana tersenyum melihat ekspresi Yusi yang tersipu malu. Damar ikut tersenyum, demikian juga dengan orangtua Damar.


"Jangan lupa bekel yang udah aku bawa di makan, San," kata Yusi.


"Iya, ini aku bawa," ucap Hasan.


Hasan dan Hana kemudian keluar dari ruang rawat Damar. Mereka berdua menuju kantin untuk makan bekal yang dibawakan oleh Yusi.


Ternyata di kantin tersebut ada Raja juga yang sedang ngopi. Raja juga menginap di rumah sakit untuk menjaga neneknya yang sedang sakit.


Hasan dan Hana mulai menikmati nasi goreng dari Yusi


"Enak juga nih nasi goreng dari, Yusi. Dia masak sendiri apa beli ya?" tanya Hasan.


"Udah, tinggal makan aja koq," jawab Hana.


Mereka berdua terdiam sesaat.


"Kasian banget ya si Damar. Padahal dia gak pernah punya musuh dari dulu, San! Siapa ya yang tega mukulin Damar, abis-abisan gitu? K


Aku tadinya mau nanya sama, Damar. Tapi keburu nyokap bokapnya dateng," kata Hana lalu menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Aku tadi udah nanya koq siapa yang mukulin dia," jawab Hasan.


"Terus, siapa orangnya, San!" tanya Hana antusias.

__ADS_1


"Kalo dari suaranya, katanya Samuel, Han," jawab Hasan.


"Apa? Samuel? Koq bisa, Samuel yang mukulin Damar, San! Damar kan gak pernah bikin masalah sama dia!" kata Hana sedikit kaget.


"Apa karena dia dendam sama aku, dan dia tau kalo aku deket sama Damar, terus, Samuel mukulin Damar, gitu?" ucap Hana lagi.


"Udah, udah. Intinya semua ini gak ada hubunganya koq sama kamu, Han," jawab Hasan.


"Pasti ada, San! awal masalah ini kan emang dari aku. Sebelum kamu masuk sekolah di TAMA ini, aku kemana-mana udah sama Damar, dan Samuel tau itu. Sebelum kejadian itu, Samuel kan gak tau kamu, San. Dia hanya tau kamu sekali," ucap Hana.


"Udah, udah, lanjutin makan dulu. Ntar aku cari tau deh," ucap Hasan berpura-pura.


"Aku jadi kepikiran terus, San! Apa Samuel pikir, dia dikeluarin sekolah gara-gara Damar? Samuel pasti salah paham, San! Padahal, Sam dikeluarin karena skandal video mesumnya yang dia kirim ke guru BK," ucap Hana sedikit emosi.


"Koq Hana tau soal itu sih," Hasan berkata dalam hatinya.


"San, aku berasumsi kalo, kalo ...."


"Udah lah, Han. Mendingan kamu sekarang makan dulu, jangan banyak omong dan mikir yang macem-macem. Masalah itu biar aku yang pikirin, kamu tenang aja," ucap Hasan.


Raja kaget begitu mendengar penuturan dari Hana. Ia memasang wajah marah, kedua tangannya ia kepalkan.


"Hasan, aku gak mau kamu ikut terlibat dalam masalah ini. Kamu cukup ikut sekali aja waktu nolongin aku waktu itu. Aku gak pengin kamu punya musuh, San," kata Hana sambil menatap Hasan dengan khawatir.


"Kamu tenang aja, Han. Aku gak bakal kenapa-napa koq. Aku juga gak ngrasa punya musuh. Aku cuman ngebela-in temen-temen aku yang bener, aja!"


"Iya tapi aku gak mau kalo kamu ikut campur dalam masalah ini,"


"Kamu sekarang tanggung jawab aku, Han. Aku gak mau sampe terjadi apa-apa sama kamu," ucap Hasan menatap Hana dalam-dalam.


Raja begitu jelas mendengar semua percakapan antara Hana dan Hasan. Ia kemudian pergi dari kantin dan segera mengambil motornya di parkiran.


"Samuel dan yang lainnya bilang, kalo Sam, dikeluarin sekolah gara-gara di fitnah dan cewek tadi. Tapi, cewek tadi bilang, kalo Samuel dikeluarin karena skandal video mesum! Aku harus cari tau kebenarannya," ucap Raja dalam hatinya.


Raja pergi dari rumah sakit dengan perasaan yang tak menentu. Antara penasaran, merasa bersalah, dan amarah.


Raja mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Mana yang bener! Aku harus cari buktinya sendiri. Kalo terbukti, Samuel bohongin aku, aku bakal bikin perhitungan sama dia, dan aku, aku akan merasa bersalah banget sama cewek tadi dan si Damar itu," Raja berkata dalam hatinya.


__ADS_2