
Pagi pun menjelang, Pak Praja sudah menyiapkan Masjid khusus yang ia sewa untuk acara ijab qobul anaknya. Dan, Pak Praja pun sudah menjelaskan kepada Pak Kyai dan juga saksi selain keluarga yang bersangkutan, mengenai maksud pernikahan siri tersebut. Dan Pak Kyai pun menyetujuinya dengan senang hati, mengingat pergaulan anak jaman sekarang yang sangat bebas.
Pak Praja sudah meng–share lokasi kepada Pak Darma. Pak Darma tengah bersiap-siap untuk keberangkatan ke lokasi tersebut.
Hana sudah di make up dari rumah oleh Bu Darma sendiri sebagai MUA. Sehingga, begitu sampai di masjid, Hana hanya perlu mengganti pakaiannya dengan kebaya.
Harumnya bunga melati yang menghiasi rambut Hana, begitu menyeruak di dalam mobil.
Hasan dan keluarganya sudah lebih dulu sampai. Tak berapa lama, keluarga Hana pun tiba. Hana menutup kepalanya begitu keluar dari dalam mobil.
Tidak ada yang tau pernikahan ini kecuali orang yang terlibat. Dengan ditemani mamanya, Hana berganti pakaian di toilet. Hatinya terus menerus berdebar, mengingat hari ini adalah hari pernikahannya.
Setelah selesai berganti pakaian, Hana dan Bu Darma masuk ke dalam masjid. Disana sudah ada keluarga Hasan, penghulu, saksi, dan juga papanya sendiri.
POV Hasan.
Setelah menunaikan sholat subuh, aku terus berdo'a kepada sang pencipta, semoga, acara hari ini berlangsung dengan lancar. Hatiku sebenarnya masih ragu, namun, ketika aku tau, bahwa Hana yang menjadi calon istriku, ada rasa lega tersendiri di sudut sana.
Pagi ini, aku melihat Hana duduk di sebelah calon ibu mertuaku. Dia sangat menawan dalam balutan kebaya berwarna putih. Rambutnya digelung tanpa sanggul. Hanya di dihiasi oleh bunga melati, dan juga ada beberapa jepit rambut di sana.
Dandanannya yang sederhana, menjadi begitu mewah. Mataku tak bisa berhenti untuk tidak menatapnya. Tapi, aku buru-buru menundukan kepalaku, ketika matanya menangkap mataku.
Jantungku berdebar tak karuan. Hari ini aku akan mengucapkan ijab qobul. Artinya, Hana akan menjadi istriku, meskipun belum sah secara negara. Tanganku gemetar, keringat dingin mulai membasahi peluhku, saat ijab tersebut aku ikrarkan.
"Saya terima, nikah dan kawin–nya, Hana Ceriana Darmawan binti Darmawan dengan uang seratus ribu rupiah, dibayar tunai,"
"Sah?" tanya penghulu.
"Sahhhhhh," jawab semua orang yang hadir di sini.
"Alhamdulillah," ucap penghulu kemudian berdo'a untuk mengakhiri acara pernikahanku.
Aku sudah resmi menjadi suami Hana secara agama. Perasaanku tidak bisa aku ungkapkan. Entah sedih, bahagia, marah, kecewa, atau perasaan yang lainnya. Aku hanya bingung harus berbuat apa setelah ini.
Di usiaku yang masih muda, aku sudah mengemban amanah. Membimbing anak orang, yang kini menjadi tanggung jawabku.
__ADS_1
POV Hana
Pagi ini, aku tidak bisa menutupi rasa gugupku. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari dimana, aku akan berganti status menjadi istri orang. Aku bukan lagi tanggung jawab orangtuaku, melainkan tanggung jawab orang lain, yang akan menjadi suamiku.
Sebenarnya, aku ingin sekali lari dari kenyataan ini, bagaimana tidak! Aku yang masih gadis, baru beranjak dewasa, baru saja menduduki bangku SMK, dihadapkan pada perjodohan dini dengan cepat.
Anak seumuranku, harusnya fokus belajar, bukan malah memikirkan hal lain. Tapi, mau tidak mau, aku harus menjalani tradisi keluargaku, yang sudah turun temurun dijalani. Aku tak mau menyakiti hati kedua orangtuaku, yang sudah merawat dan membesarkan ku dengan baik hingga detik ini. Tak mungkin aku bisa membantah keinginan mereka berdua.
Mama, mendandaniku dengan begitu apik. Aku suka dengan riasan nya yang terlihat natural.
Sepanjang perjalanan, hatiku tak bisa berhenti untuk berdo'a, berharap semuanya tidak akan pernah terjadi, tapi, itu hal yang tidak akan mungkin terjadi karena semuanya sudah disiapkan dengan matang.
Setelah berganti pakaian, aku segera masuk ke dalam masjid. Aku melihat calon suamiku sekilas, betapa tampannya dia, dengan balutan Jaz berwarna putih dan memakai peci di kepalanya. Sekilas, wajahnya mirip dengan orang yang pernah aku cintai.
Ketika aku menatapnya, dia tengah menatapku. Aku bisa merasakan, betapa gugupnya dia. Aku meremas jari jemariku sendiri untuk menguatkan diriku sendiri.
Saat ijab qobul diucapkan, rasanya aku mau pingsan, semua orang menangis bahagia atas pernikahan ini. Mereka mencium dan memelukku secara bergantian. Aku pun ikut menangis. Entah tangisan apa yang aku ratapi, aku sendiri bingung. Harus bahagia, atau bersedih. Atau justru, biasa saja. Entahlah, apapun yang aku rasakan, kenyataan telah menyadarkan ku, bahwa mulai detik ini, aku telah sah menjadi istri orang.
POV author
Hana dan Hasan berganti pakaian. Hana menghapus make up yang menempel di wajahnya. Meskipun make up telah di hapus, akan tetapi, tidak mengurangi aura cantik dari wajah Hana.
Mereka membereskan semua peralatan sembari menunggu adzan Dzuhur dikumandangkan.
"Ceri, mulai sekarang kamu panggil Tante, Mama yah," ucap Bu Praja sambil mengelus pundak Ceri.
"Iya Tante, eh, Mama," jawab Hana tergagap.
Bu Praja tersenyum kemudian memeluk mantunya itu, "Makasih ya, Ceri."
Rasa bahagia tidak dapat mereka tepis begitu saja. Bu Darma memeluk Hana beberapa kali. Anak gadisnya sekarang sudah bukan tanggung jawabnya.
Setelah sholat Dzuhur, mereka berniat untuk makan siang bersama, namun, Hasan tidak bisa karena ada proyek yang harus ia kerjakan hari itu juga. Sore harinya, ia harus presentasi.
"Maaf banget ya, Mah, semuanya, Hasan gak bisa ikut bergabung, ada pekerjaan yang harus Hasan kerjain," ucap Hasan sambil mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Iya sayang banget, berarti, Ceri juga gak bisa ikut makan siang dong?" tanya Bu Praja.
"Kalo kamu mau ikut, gak papa, Han! Aku pulang duluan, soalnya proyek ini harus selesai hari ini juga," terang Hasan.
"Iya, itu project dari klien baru Papa, Le! Semoga klien baru Papa, suka sama hasilnya," ucap Pak Praja kepada anaknya.
"Amin," jawab Hasan.
"Project apa yang akan dikerjakan, Hasan? Terus, pulang ke rumah itu, maksudnya ke rumah orangtuanya, atau ke rumahnya sendiri?" Hana bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ceri, kamu mau ikut makan siang gak?" tanya Mamanya.
"Em, kayaknya, aku ikut, Hasan pulang aja deh, Mah! Nanti biar, Ceri makan sama Hasan di rumah aja," jawab Hana yang sebenarnya penasaran dengan rumah yang di maksud oleh Hasan, dan tentunya karena ia sendiri ingin membuktikan omongan Papanya, tentang Hasan yang sudah mandiri.
"Loh, kalo kamu mau ikut juga gak papa, Han! Ntar pulang ke rumah Mama aja dulu. Ntar aku jemput deh," sambung Hasan.
"Emangnya, kita nanti tinggal dimana?" tanya Ceri penasaran.
"Ceri, kan Papa udah pernah bilang, Leo itu, sudah punya rumah sendiri. Setelah pernikahan ini, kamu bakalan tinggal di rumah, Leo. Tapi, kalo kamu mau berkunjung ke rumah Papa, boleh saja. Asal, sama, Leo. Inget, sekarang, kalo kamu mau pergi kemana-mana, harus ijin dulu sama, Leo. Paham!" ucap Pak Darmawan.
"Betul! Dan satu hal lagi, meskipun kalian sudah menikah, kalian gak boleh kontak intim yah, kalian masih sekolah, harus belajar setinggi mungkin. Terutama buat kamu, Leo," Bu Praja mengingatkan.
"Iya, Mah! Kalo gitu, Leo pulang dulu ya, kalian hati-hati nanti," ucap Hasan kepada ke empat orangtuanya.
"Iya, kamu hati-hati di jalan ya," jawab Bu Praja.
Hasan sudah bersiap diatas motornya, tak lupa ia mengenakan helm.
"Aku ikut, San!" seru Hana.
"Iya udah naek, kalo mau ikut," jawab Hasan yang sudah siap mengegas motornya.
Tanpa basa basi lagi, Hana langsung naik di jok motor Hasan. Mereka kemudian meninggalkan masjid tersebut.
"Alhamdulillah ya, Bu Darma, pernikahan ini berjalan dengan lancar. Alhamdulillah, anak-anak saling setuju,"
__ADS_1
"Iya, Bu, Alhamdulillah banget," jawab Bu Darma diiringi senyuman.