
"aku ada urusan sebentar, kamu pulang aja dulu yah. Jangan mampir-mampir," ucap Hasan ketika mereka berada di kelas hanya berdua.
"Memangnya kamu ada urusan apa? Kenapa aku gak boleh ikut!"
"Urusan pekerjaan, tentu saja kamu gak boleh ikut. Kalo pekerjaanku sudah selesai, aku akan segera pulang ke rumah. Kamu mau dibelikan apa nanti?" tanya Hasan sembari mengusap puncak kepala Hana dengan lembut.
"Em... Nanti aku chat kamu deh. Aku pulang duluan kalo gitu,"
"Sudah ku pesankan taxi, kamu tunggu saja di depan." ucap Hasan.
Hana tersenyum lalu meninggalkan Hasan. Hasan kemudian mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Raja. "Tunggu aja di situ. Sebentar lagi aku datang ... tenang saja, kali ini aku tidak bohong ... Aku hanya sendiri. Hana itu pacarku, jangan harap kamu bisa memilikinya ... Kita bahas ini segera."
Hasan memutus panggilannya. Ia kemudian bergegas keluar memastikan jika Hana sudah masuk ke dalam taxi yang sudah ia pesankan.
Damar muncul dari balik pintu kelas. Diam-diam, dia bersembunyi di sana, menguping seluruh percakapan Hasan dan Hana. Damar masih tidak percaya dengan kalimat yang baru saja ia dengar. "Apa yang mereka berdua katakan? Pulang ke rumah? Tunggu aku? Mereka itu sebenarnya membicarakan hal apa!" Damar tampak kebingungan mencerna setiap kata yang sudah ia dengar. "Apa mereka tinggal satu rumah? Terus tadi, Hasan bilang kalo Hana pacarnya. Dia telponan sama siapa sih! Kalo Hana memang pacaran sama Hasan, terus kenapa kalimat mereka tadi seperti mengisyaratkan kalo mereka itu tinggal satu rumah!" Damar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar dibuat pusing.
***
"Jadi apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Raja kepada Hasan setelah mendengar ceritanya.
"Aku mau, kamu dekati Samuel lagi. Jadilah sahabatnya lagi untuk mengawasi mereka berdua."
Raja menyunggingkan senyum mendengar permintaan Hasan. "segitu cemburunya kamu?"
"Bukan masalah cemburu, Ja. Kamu tau sendiri bagaimana sikap Samuel dulu kepada Hana. Aku takut jika tiba-tiba Samuel melakukan hal yang tidak diinginkan. Sementara aku, aku tidak ada di dekat Hana ... Aku juga tidak mungkin untuk melarangnya lagi. Aku takut dia sakit kembali gara-gara aku,"
"Hana sakit? Sakit apa?" tanya Raja dengan panik. Hasan melirik Raja dengan tatapan smirk.
"Memangnya tidak boleh aku perhatian dengan Hana? Dia kan hanya pacarmu. Kalo saja dia istrimu, mungkin aku tidak akan berani perhatian lagi dengannya," ucap Raja sengaja memancing reaksi Hasan.
__ADS_1
"Terserah, yang penting dia sudah menjadi milikku. Ngomong-ngomong, kamu setuju dengan usulku tidak? Aku benar-benar tidak tenang jika harus meninggalkan Hana bersama dengan Samuel."
"Untuk masalah itu, aku akan pikirkan lagi. Tapi, aku memang curiga, jika Hana ingin dijodohkan dengan Samuel, sejak awal pasti sudah direncanakan dengan matang. Aku sendiri tidak percaya jika Samuel amnesia. Aku akan ikuti permainannya. Kamu bisa percayakan Hana padaku." Raja menepuk pundak Hasan memberi keyakinan.
Hasan tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, sepertinya sudah jelas. Aku akan pulang sekarang. Oh iya, hampir lupa. Kamu jangan terlalu sering menghubungi pacarku. Aku tidak nyaman dengan hal itu,"
"Sudah minta tolong masih coba untuk ingatkan aku. Tenang saja, aku hanya ingin memastikan keamanannya. Bagaimanapun juga, aku masih merasa bersalah dengan Hana."
Hasan mengernyitkan kening, "tentang apa?"
"Bukan apa-apa. Hanya saja, aku dulu ada di pihak Samuel. Sudah, kamu pulang saja. Ibumu sendirian kan? Jika kamu izinkan, aku akan datang menjenguk,"
"Tidak perlu. Ibuku sudah sehat kembali. Aku pulang dulu. Kabari aku jika ada apa-apa," Hasan mengenakan helm dan meninggalkan alun-alun.
Raja hanya menyunggingkan senyum melihat sikap Hasan. "Ibumu yah?"
***
"Kalo dipikir-pikir, Hana sekarang tidak pernah naik angkot. Dia juga lebih suka pulang dalam kondisi sekolah yang sudah sepi. Berangkat sekolah juga dalam keadaan yang masih pagi sekali. Yang baru aku sadari, arah dia datang bukanlah dari arah timur lagi. Tapi dari sebelah barat. Pulang juga ke arah barat. Apa mungkin, mereka menyembunyikan sesuatu selain status pacaran? Apa aku tanyakan langsung sama Hana, yah?"
Damar mengacak rambutnya. Ia tampak kacau dengan pikirannya sendiri. "Aku coba hubungin Hana deh,"
Damar mulai menekan tombol call dan menanti telpon tersambung.
Hana baru saja selesai makan malam. Sebelum ia benar-benar tidur, Hana melihat ponselnya yang terus berdering. Ia tersenyum ketika melihat nama yang tertera. "Hay, tumben banget nelpon, ada apa?" tanya Hana sembari melihat ikan.
"Belum tidur kan?" tanya Damar dari seberang sana.
"Kalo udah tidur mana mungkin aku jawab telpon kamu. Ada apa?"
__ADS_1
"Hehehe, iya juga sih. Em, kamu lagi ngapain?" tanya Damar sembari menggigit bibir bawahnya. "Pertanyaan aku basi gak sih!" batin Damar.
"Lagi ngobrol sama kamu ini. Kamu sendiri lagi apa? Gak telponan sama, Yusi?"
"Yusi udah tidur. Em, ngomong-ngomong aku mau main ke rumah kamu malam ini, boleh gak?"
"Hah! Mau ngapain?" tanya Hana kaget.
"Ya mau main aja lah."
"Kok mendadak banget sih. Ada apa? Kalo mau curhat besok aja di sekolah. Pasti kamu ada masalah ya sama, Yusi?" tanya Hana dengan perasaan gugup.
Hana terlihat mondar mandir sambil menggigit jari kukunya.
"Kalo sekarang gak boleh emangnya? Ya udah deh, takut ganggu kamu,"
"Bukanya gak boleh. Cuman ini kan udah malem. Terus gak biasanya juga kamu ...."
"Baru jam delapan ini, Han. Cuman bentar aja gak papa kali," desak Damar.
"Nggak bisa! Eh maksud aku, besok aja lah. Pulang sekolah kalo mau main. Kasian kan jauh-jauh, ini udah malem juga. Maaf yah, bukanya," ujar Hana sambil mengatur nafasnya.
"Dari nada bicaranya, sudah dipastikan kalo dia gugup," batin Damar. "Ya udah deh kalo gitu. Met istirahat ya, Han. Salam buat Hasan,"
"Iya, nanti aku sampe-in ...."
"Emangnya kamu tinggal satu rumah sama Hasan, sekarang?" tanya Damar tiba-tiba, yang mendengar jawaban Hana.
"Apa! Ya nggak lah," jawab Hana gugup. "Maksud aku ya karena kamu nitip salam, nanti aku sampe-in pas ketemu. Kalo nggak pas aku sama dia chat-an. Lagian kamu ini aneh deh, masa ngasih salam segala. Kita kan tiap hari ketemu,"
__ADS_1
"Hehehe, iseng aja. Ya udah deh, good night ya," Damar memutus panggilannya. Damar memainkan hape sembari menyunggingkan senyum. "Kamu gak bisa bohongin aku, Han. Besok kamu yang jujur, atau aku cari sendiri kebenarannya," gumam Damar.