Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
68. Panik Mencarimu


__ADS_3

Raja kemudian mengajak Hana, untuk segera pergi dari sana, dan pergi menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam, hingga tak terasa sudah sampai di rumah sakit.


Hana masih menaruh rasa curiga kepada Raja, tentang sikapnya yang begitu marah saat melihat Samuel.


Sesekali, Hana melirik Raja sambil membatin.


"Kayaknya, ada sesuatu yang Raja sembunyiin. Aku harus cari tau. Gak mungkin kan, tiba-tiba aja dia liat Samuel, langsung mau mukul gitu. Terlebih lagi, dia bilang katanya, Samuel udah bikin aku ... Ah, kalimatnya menggantung,"


"Han, soal tawaran aku buat muncak gimana? Kamu udah ijin sama nyokap kamu belum?" tanya Raja sambil melirik Hana.


"Oh itu, aku belum minta ijin. Tapi, kalopun aku dapat ijin, aku harus pergi sama, Hasan. Orang tuaku percaya banget sama, Hasan. Jadi kalo ada apa-apa, Hasan harus tau,"


"Waw, pangkat Hasan tinggi juga ya di mata orangtua kamu. Aku bener-bener salut. Istimewanya apa, sampai-sampai, Hasan udah kayak jadi pengganti orang tua kamu?" ucap Raja sambil menyunggingkan senyum.


"Ah, aku gak tau soal itu. Yang jelas, Hasan itu orangnya baik, dia mandiri dan bertanggung jawab. Dia juga hebat dalam segala hal," jawab Hana sambil membayangkan wajah Hasan.


Raja memperhatikan raut wajah Hana, yang terlihat bahagia setiap menyebut nama Hasan.


"Kamu sepertinya suka sama dia. Kamu juga tau banyak tentang dia. Apa, Hasan itu pacar kamu?" tanya Raja menyelidik.


"Oh, bukan koq. Ngomong-ngomong dimana ruangan nenek kamu?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan.


"Masih lurus, belok kanan. Kamar nomor 5 VIP," jawab Raja sambil menunjuk arah jalan.


Hana mengangguk dan tersenyum mendengar penuturan Raja.


"Hasan udah bangun belom yah, semoga dia gak marah aku tinggal gitu aja," batin Hana.


***


Hasan terbangun ketika nada dering hapenya terus bergetar. Ia meraba hapenya dengan mata yang masih terpejam.


"Hallo ... Hah!"


Hasan seketika bangkit dari tidurnya, matanya mendadak membulat. Ia bersandar di papan tempat tidur.


"Serius? Kamu dimana sekarang, Bang?" tanya Hasan dengan suara sedikit seraknya.


"Hah? Siapa yang sakit? Rido? Sakit apa ... Oh, aku gak tau, aku belum bisa nengokin ... Iya, langsung ke rumah aja deh, oke ... Bye!"


Hasan memutus panggilannya. Ia menggerakan kepalanya dengan keras agar rasa kantuknya hilang.

__ADS_1


Tenggorokannya yang kering membuat ia bangun dan pergi ke dapur untuk mengambil air putih.


"Ahh segernya," ucap Hasan setelah satu gelas air putih mengglontor tenggorokannya.


Hasan mengecek jam di hapenya.


"Udah jam sepuluh," gumam Hasan.


Hasan celingukan kesana kemari mecari istrinya.


"Hana! Han, kamu dimana? Tidur ya?" seru Hasan sambil berjalan ke kamar Hana.


Hasan membuka pintu kamar Hana perlahan. Namun, ia sendiri kaget karena tidak menjumpai Hana, di kamarnya.


"Hana? Han, kamu dimana?"


Hasan mulai khawatir, ia mulai keluar rumah menuju halaman, ia tak menjumpai Hana juga.


Hasan segera menelpon nomor Hana, namun beberapa kali dihubungi tak kunjung diangkat oleh Hana.


"Kemana sih tuh anak, pergi gak bilang-bilang!"


Hasan terus berteriak memanggil Hana. Ia kemudian membuka gerbang dan mulai bertanya kepada tetangganya, tetapi tetangga dekat rumahnya juga tidak tau. Sampai di depan rumah Wawan. Hasan tanpa permisi langsung masuk halaman, dan mengetuk pintu.


Hasan terlihat sangat cemas. Takut jika terjadi sesuatu dengan Hana. Tak berapa lama pintu terbuka, dan kebetulan yang membuka pintu Wiwin, istri Wawan.


"Hasan, ada apa? Koq panik begitu!"


"Mbak, Hana ada di sini gak?" tanya Hasan gugup.


"Nggak. Tapi tadi pagi, dia emang pergi ke depan,"


"Pergi? Sama siapa, Mbak?"


"Sendirian. Pas aku tanya, katanya dia mau pergi sebentar gitu. Aku tanya lagi, koq gak bareng Hasan, dia jawab, kamu baru aja tidur, kasian mau bangunin. Gitu! Kamu gak lagi ada masalah sama dia kan?"


"Ah nggak koq, Mbak! Hubungan kami baik-baik aja. Tapi, Mbak Wiwin beneran lihat Hana, tadi pagi kan?" tanya Hasan memastikan.


"Liat, aku lagi nyiram taneman pagi tadi. Kalo gak ada masalah, kamu tunggu aja di rumah. Nanti juga balik koq. Kalo nggak, kamu hubungin hapenya, tanya dia dimana,"


"Iya Mbak, tadi sih udah di telepon tapi gak diangkat,"


"Di silent kali hapenya, jadi gak denger,"

__ADS_1


"Hana gak bilang mau kemana, Mbak?"


"Nggak, aku tanya ya gitu, mau pergi keluar sebentar katanya. Udah kamu gak usah panik gitu. Bentar lagi juga balik. Kamu tunggu di rumah aja,"


"Iya Mbak, makasih ya infonya. Wawan gak di rumah?"


"Ada, dia lagi live streaming,"


"Oh, ya udah deh. Maaf ya Mbak, aku dah ganggu,"


"Ah gak ganggu koq," jawab Wiwin diiringi senyuman.


"Kalo gitu, aku pulang dulu, Mbak! Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam,"


Hasan menghela nafasnya, ia kemudian berjalan ke rumahnya kembali.


"Pergi kemana sih, kenapa gak bilang dulu sama aku. Telpon juga gak diangkat angkat," gerutu Hasan.


Setelah sampai di rumah, Hasan memutuskan untuk mengirim pesan untuk Hana.


"KAMU DIMANA? CEPETAN PULANG! ADA HAL PENTING!" send.


Pesan yang ditulis Hasan kepada Hana terlihat kesal. Hasan kemudian membuka kulkas, berharap masih ada aneka buah dan susu.


"Buahnya udah gak ada? Duh, pengin yang seger-seger nih, besok harus belanja lagi kebutuhan dapur udah mulai pada abis," gumam Hasan kemudian menutup pintu.


Mata Hasan tertuju pada notice berwarna kuning yang di tempel di pintu kulkas, ia segera mencabut notice itu dan membacanya.


"San, aku pergi sebentar. Jangan cariin aku, ntar aku pulang cepet, Hana,"


"Pergi sebentar? Udah jam sepuluh ini, Han! Gak ngasih tau pergi kemana lagi. Awas aja kalo pulang, aku cubit tuh hidung sama pipinya," ucap Hasan geram sambil meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.


"Aku cari cemilan dan buah sebentar deh, sambil nunggu Miki dateng. Oh iya, sensor pagarnya aku matiin dulu, biar nanti kalo, Miki udah nyampe, dia bisa langsung masuk, gak nunggu di luar," ucap Hasan kemudian mengambil laptopnya dan mulai mengatur sensor di pagar rumahnya.


Hasan pergi keluar dengan sepeda motornya. Sebelumnya ia sudah membuka pagar rumahnya dengan lebar setengah meter saja.


***


Hana dan Raja berjalan melewati koridor rumah sakit. Mereka sudah selesai menjenguk nenek Raja, dan sekarang mau pulang. Hana kemudian mengambil hape dari dalam tasnya untuk mengecek apakah ada panggilan dari Hasan, karena semenjak masuk ruangan neneknya Raja, Hana langsung mensenyapkan nada deringnya.


"Wah, beneran nyariin aku nih si, Hasan!" ujar Hana dalam hatinya ketika melihat daftar panggilan di hapenya.

__ADS_1


Hana kemudian membaca chat yang dikirimkan Hasan kepadanya sambil berjalan. Dari arah berlawanan, Miki berjalan juga menuju parkiran, mereka sama-sama berjalan sambil memandangi hape masing-masing. Hingga tiba di lobi dan keluar pintu bersama, antara Miki, dan Hana tidak saling melihat sedikitpun.


__ADS_2