
Hana tergesa-gesa membawa teh hangat yang sudah ia pindah ke plastik dan memberinya sedotan. Damar dan Hasan masih duduk di lantai teras kelas tanpa memperhatikan lantai itu kotor atau bersih.
"Damar, kamu udah baikan? Ini tehnya minum dulu," Hana memberikannya dengan penuh perhatian.
Damar menerimanya dan langsung menghabiskannya.
"Kamu haus apa doyan?" tanya Hasan sembari menyunggingkan senyum.
"Sini aku buangin plastiknya. Pindah ke bangku yuk duduknya," ucap Hana membantu Damar berdiri. Namun, Hasan segera menarik Hana dan menggantikan dirinya untuk membantu Damar.
"Biar aku aja yang bantuin. Lagian dia juga udah baikan kok," tutur Hasan.
Setelah membuang sampah, Hana ikut duduk dengan mereka berdua. Hari yang sudah semakin siang, para siswa mulai berdatangan memenuhi sekolah.
Dari arah tangga, Yusi berlari menghampiri teman-temannya. "Selamat pagi guys, tumben pada kumpul di sini. Ada apa? Nungguin aku ya?" sapa Yusi dengan sumringah.
"Iya aku nungguin kamu. Dari tadi cuman jadi obat nyamuk buat mereka. Ayo masuk!" Damar merangkul pundak Yusi, dan masuk ke dalam.
Yusi hanya bisa menuruti Damar sambil sesekali menengok ke belakang melihat Hasan dan Hana.
"San, tadi Damar kayak gitu kenapa? Terus, kamu kok bisa tau kalo Damar kena ...."
"Hasan!" Cantika berseru dari ujung anak tangga lalu berlari menghampiri Hasan.
Hana terpaksa memotong kalimatnya karena seruan Cantika.
"Kamu kemarin sakit apa? Masa gara-gara ...."
__ADS_1
"Aku cuman pusing biasa kok. Aku gak papa," jawab Hasan sembari tersenyum kepada Cantika yang duduk di sebelahnya.
"Beneran cuman pusing? Tapi kenapa bisa barengan sama Hana?" tanya Cantika dengan nada malas di akhir kalimatnya.
"Gak tau, dia kali ngikutin aku," ucap Hasan melirik Hana sekilas.
Hana memasang wajah kesal mendengar penuturan Hasan.
"Eh, aku ada cokelat nih, mau gak?" Cantika mengeluarkan sebatang cokelat dan memberikannya kepada Hasan. Hasan tersenyum dan menerima pemberian Cantika dengan senang hati. "Wah, makasih yah. Kamu selalu tau dimana aku butuh cokelat."
Cantika merasa tersanjung karena Hasan memujinya. "Iyalah, aku kan perhatian gak kaya cewek yang di sebelah kamu. Makanya, kamu pacaran sama aku aja," ucap Cantika.
Hana benar-benar kesal dengan kelakuan mereka berdua. Tanpa bicara sepatah kata, Hana masuk meninggalkan Hasan dan Cantika begitu saja.
"Gak bisa lah. Kamu kan sukanya sama Miki. Gak boleh naksir aku juga. Kalo suka sama Miki, kamu harus terus pedekate,"
"Cewek cantik banyak. Tapi yang benar-benar tulus dan apa adanya itu jarang. Kamu emangnya gak mau jadi temen aku? Kan aku mau bantuin kamu buat pedekate sama orang yang kamu suka,"
"Tapi kalo pedekate jarak jauh mah sama aja, San." jawab Cantika manyun.
"Kan masih bisa chattingan,"
"Chattingan aja jarang. Dia di sana pasti banyak ketemu cewek. Aku di sini mah bisa apa," ucap Cantika sedih.
Hasan mendengus kesal. Ia merasa kasihan kepada Cantika karena cintanya terbatas jarak. Tapi, dia juga tidak mau kehadiran Miki mengganggu rumah tangganya.
Hasan mengelus pundak Cantika sekedar menenangkan. "Sabar yah. Kalo Miki jodoh kamu, cepat atau lambat dia akan kembali kepadamu. Tapi jika bukan, kamu masih bisa dapatkan cowok lain yang lebih dari Miki. Kamu ingat Samuel?"
__ADS_1
"Samuel?" tanya Cantika mengernyitkan kening.
"Iya, cowok yang pernah kamu ceritakan kepadaku dulu. Kenapa kamu gak coba pedekate sama dia aja,"
"Ah dia yah. Setelah aku tau kabar kalo dia dikeluarkan akibat skandal mesumnya, aku jadi takut dan gak mau kenal sama dia." ujar Cantika sambil bergidik ngeri.
"Itu kan hanya masa lalunya. Siapa tau dia sudah berubah," ucap Hasan meyakinkan.
"Biarpun masa lalu tapi tetep aja ngeri," jawab Cantika.
Hana mengintip dari balik jendela dalam kelas, hatinya panas melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Apalagi itu di depan matanya sendiri. "Kenapa Hasan dan Cantika tiba-tiba jadi dekat. Apa mereka sengaja melakukan itu di depanku?" batin Hana. Matanya terasa panas, ingin sekali ia menangis dan memarahi Hasan saat itu juga. Tapi, apalah daya. Dia tidak bisa berbuat banyak selain melihat. "kenapa rasanya sesakit ini melihat Hasan dekat dengan wanita lain. Mereka terlihat sangat akrab. Diantara tidak ada apa-apa kan?" gumam Hana lagi.
****
"Udah aku atur. Tapi, kamu jangan libatin aku lagi ya, aku gak mau ikut campur lagi masalah Samuel. Aku mau fokus belajar. Minggu depan, aku sudah terbang ke Amerika. Sejak kejadian di basecamp, orang tuaku udah gak ngijinin aku buat ketemu sama Samuel bahkan dengan yang lainnya. Sory kalo aku ada salah sama kamu. Aku akuin, aku salah. Kalo ada waktu buat ketemu Hana, aku akan minta maaf sama dia," Bayu berkata dengan sepenuh hati sambil menepuk pundak Raja. Ia benar-benar telah menyadari kesalahannya.
"Makasih, Bay. Aku juga minta maaf kalo selama ini aku ada banyak salah sama kamu. Tapi, kamu benar-benar gak tau kalo Samuel amnesia?"
"Yang aku dengar seperti itu. Tapi tenang aja, aku gak bakal bilang sama siapapun kalo sebenarnya kamu dan Hasan yang udah mukulin kita bertiga di basecamp. Oh iya soal Rangga, dia udah gak ada kabar sama sekali. Terakhir info yang aku dapat, dia direkrut oleh suatu organisasi gelap. Entah seperti apa dia sekarang. Tapi kamu tenang aja, dia sama sekali soal kamu dan Hasan yang nyerang basecamp malam itu."
"Organisasi gelap?"
"Orang-orang dengan berpakaian serba hitam dengan masker berlambang elang hitam. Aku juga kurang tau tentang hal itu. Tapi mereka cukup berbahaya. Kamu bisa bertanya kepada orang yang lebih paham mengenai hal ini. Hanya informasi itu yang bisa aku dapatkan. Jangan lupa, nanti sore di mall terdekat, Samuel akan membeli sesuatu. Bersikaplah seperti biasa saat kita masih suka bersama,"
"Iya iya, aku tau apa yang harus aku lakukan. Kamu tidak usah khawatir. Aku rencananya akan kuliah daring saja. Semoga kamu sukses menimba ilmu di sana. Jangan sampai salah pergaulan yah. Ingat tujuanmu yang utama,"
Bayu dan Raja akhirnya berpelukan sebelum akhirnya mereka berpisah.
__ADS_1