Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Ya Ampun, Bertengkar lagi!


__ADS_3

Mereka akhirnya sampai di cafe 99 dan segera memesan makanan.


"Aku mau nachos dan american coffe aja, kamu mau apa?" tanya Hasan sambil menyerahkan daftar menu kepada Hana.


"Em, aku nasi goreng aja. Sama coffe latte,"


Hasan memanggil waiters. Setelah pesanan mereka dicatat, waiters pergi memberitahu koki dan barista untuk segera membuatkan pesanan Hasan.


Cafe masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang di tempat duduk yang tengah sibuk dengan gadget dan makanan mereka.


Satu pelanggan masuk kembali, yang membuat Hasan dan Hana tercengang. Mata mereka saling bertemu.


Raja, dia berjalan menuju bangku yang di tempati Hana dan Hasan. Ia ikut bergabung bersama mereka.


"Waw, ternyata ada yang lagi kencan nih," tutur Raja diringi senyuman.


Raja memandang Hana dan Hasan bergantian. Hana tersenyum ke arah Raja.


"Kamu ngapain di sini! Cari tempat duduk lain sana," tegur Hasan merasa tidak senang.


"Apa aku mengganggu? Kalian berdua tidak benar-benar sedang berkencan kan?" tanya Raja kembali.


"Ah, tidak koq. Kamu boleh bergabung di sini. Kamu habis darimana, Ja?" tanya Hana.


"Oh, aku dari rumah sengaja kesini, dan mau ke rumah sakit. Kamu mau kemana? Sa ... Ma ... Dia!" ucap Raja sambil melirik Hasan dengan pandangan tak suka.


Hasan mengalihkan pandangan karena merasa kesal. Melihat Hana yang tampak akrab dengan Raja.


"Oh, aku mau ke rumah, Damar. Nengokin dia, tapi mampir kesini dulu. Salam yah buat nenek kamu," ucap Hana sambil tersenyum.


"Iya, nanti aku sampein. Kemarin, nenek juga nanyain kamu. Dia suka ditemenin sama kamu katanya. Kalo ada waktu senggang, kamu mau kan jenguk nenek aku lagi," ucap Raja.


"I-iya, Ja!" jawab Hana masih tersenyum sambil sesekali melirik Hasan.


"Oh iya, gimana soal muncak kita! Kamu udah minta ijin sama mama kamu?" tanya Raja.


"Oh anu itu ...."


"Boleh, asal sama aku!" sambung Hasan sambil menatap Raja kesal.

__ADS_1


Raja menyunggingkan senyum ke arah Hasan. "Sudah ku duga! Hasan pasti akan ikut. Aku jadi penasaran, kenapa Hasan begitu dipercaya sama orang tua, Hana. Apa ada sesuatu yang mereka sembunyiin dari aku?"


Raja berkata dalam hatinya. Tak berapa lama, pesanan Hasan dan Hana datang. Mereka makan terlebih dahulu. Sementara Raja, menunggu pesanannya datang.


"Sory, Ja! Kita makan duluan yah," tutur Hana.


"Iya, eh boleh minta satu suap gak?" tanya Raja ketika Hana baru saja menyuapkan satu suap nasi goreng ke dalam mulutnya.


Hana melirik Hasan sekilas yang memasang wajah jutek kepadanya. Hasan menggelengkan kepalanya.


Hana yang merasa tidak enak akhirnya mengangguk saja menyetujui permintaan Raja.


"Iya, boleh!" Hana menyendok nasi goreng untuk Raja.


Sebelum sendok itu masuk ke dalam mulut Raja yang sudah menganga, Hasan mencegahnya.


"Tunggu, kamu minta sendok baru sama waiters," ucap Hasan kepada Hana dengan kesal.


Raja lagi-lagi menyunggingkan senyum.


"I-iya. Ja, tunggu ya, aku ...."


Hasan dan Hana kaget dengan tindakan Raja. Raja terlihat asyik mengunyah sementara, Hasan marah melihat sikap Raja. Hana takut jika Hasan akan marah, dan malah bertengkar dengan Raja.


"Kamu gak sopan banget sih! Udah minta, sendoknya bekas Hana makan lagi. Gak tau malu," ucap Hasan.


"Emangnya kenapa? Aku lebih suka pake sendok Hana. Aku bisa merasakan nikmatnya dua kali lipat," ucap Raja menggoda Hasan.


Hasan mengepalkan tangannya. Ia benar-benar berang mendengar jawaban Raja.


Hasan menatap Raja tajam. Rasanya, ia ingin sekali menerkam Raja sekarang juga.


Hana menggigit bibir bawahnya, ia berharap, Hasan tidak marah atas sikap Raja.


Hasan kemudian mengambil sendok yang dipegang Hana. Ia membawanya kepada waiters dan memintanya yang baru. Raja dan Hana hanya memandangnya tanpa berkata.


Setelah mendapatkan sendok baru, Hasan kembali ke tempat duduknya. Ia menggeser tempat duduk Hana agar menjauh dari Raja.


"Cepat kamu makan!" ucap Hasan kepada Hana.

__ADS_1


Hana hanya mengangguk dan menurut. Sementara Raja, melihat ada hal lain dalam diro Hana dan Hasan.


"Kenapa sih, kamu harus nurut sama dia, Han? Dia kan bukan siapa-siapa kamu!" ucap Raja.


"Lalu kamu siapa? Aku orang yang sudah diberi amanah oleh orang tua Hana. Sementara kamu, kamu hanya pengganggu yang harus dimusnahkan segera!" ucap Hasan.


Raja hendak menjawab, namun, pesanannya keburu datang. Sehingga ia menahannya sementara.


"Pengganggu? Pengganggu apa? Apa kalian sepasang kekasih? Apa kalian sudah ada ikatan?" tanya Raja menatap tajam Hasan.


"Udah-udah, lebih baik kita makan aja! Hasan, kamu makan. Raja, kamu juga," ucap Hana.


"Kalo dia diem, aku juga ikut diem, Han!" jawab Raja.


"Siapa kamu nyuruh-nyuruh aku buat diem! Kamu mau nantangin aku?" ujar Hasan sambil menyondongkan wajahnya kepada Raja.


"Aku gak takut sama kamu! Apa kita perlu adu balap lagi!" jawab Raja menyeringai.


"Raja, Hasan! Udah, jangan berantem. Makan aja makan," kata Hana sambil menarik baju Hasan agar ia duduk dengan benar.


"Cih, sekarang juga kalo kamu mau, aku tantangin," ucap Hasan menyeringai.


"Oke, kita bisa keluar sekarang!" ucap Raja sambil mendorong bangkunya mundur.


"Raja! Kamu duduk!" seru Hana.


Raja memandang Hana. Hana melototinya dan mengisyaratkan agar dirinya duduk. Raja ingat, ia harus menuruti perintah Hana karena sudah berhasil mendapatkan nomor hape Hana.


"Tapi dia nantangin aku, Han!" ucap Raja.


"Raja, duduk! Cepat abisin makanan kamu!" ucap Hana mulai kesal.


Raja kemudian menarik bangkunya lagi dan duduk dengan baik. Ia mulai makan. Hasan sedikit keheranan.


"Kenapa, Raja begitu mudahnya menurut sama Hana? Apa mereka beneran pacaran?" Hasan bertanya-tanya dalam hatinya.


"Hasan, kamu juga makan. Abis ini kita ke rumah Damar, loh," ucap Hana.


Hasan tidak menjawab. Selera makannya sudah habis. Tapi, ia memaksakan dirinya untuk menghabiskan makanannya. Hasan dan Raja makan sambil beradu pandang sengit.

__ADS_1


__ADS_2