Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Masih Tersimpan Rapih


__ADS_3

Hasan membiarkan Hana membawa Bu Darma pergi dari ruang tamu. Karena bosan dan mengantuk, Hasan memutuskan untuk pergi ke kamar Hana yang berada di lantai dua.


Hasan mengamati kamar bernuansa pink yang begitu rapih. Mata Hasan kemudian tertuju pada suatu bingkai foto yang ia kenal. Hasan menghampiri meja belajar Hana dan mengambil bingkai dengan sketsa wajah Miki.


"Ternyata, kamu masih menyimpan foto Abang dengan begitu rapih, Han. Bahkan, foto Abang selalu menemani kamu selama ini?" gumam Hasan dengan perasaan sakit.


Sementara Hana yang sudah menceritakan semua tentang Miki kepada Bu Darma, Bu Darma kaget setengah mati. Bu Darma tidak menyangka jika Kakaknya Hasan adalah Miki, cowok yang ia larang untuk dekat dengan Hana waktu SMP.


"Ya ampun, Mamah masih gak percaya, Ceri. Terus gimana sekarang hubungan kalian? Leo udah tau, kalo kalian berdua ada hubungan dulu?" tanya Bu Darma.


"Hasan udah tau, Mah. Makanya dia nyuruh aku buat gak deket-deket sama Kak Miki. Mamah jangan nanya-nanya lagi ntar yah. Aku gak enak sama Hasan. Aku gak mau dia marah lagi," tutur Hana dengan perasaan bersalah saat ingat kejadian dimana Hasan yang diam-diam memergoki dirinya tengah dipeluk Miki dari belakang.


"Ya, Mamah jadi ngerasa bersalah sama mereka berdua. Apalagi sama Miki. Dulu, Mamah kan marah-marah sama dia. Ah, Mamah gak usah ketemu aja kalo gitu. Malu dan gak enak," ujar Bu Darma.


"Yee giliran udah tau bilang begitu. Dulu aja nglarang Hana sampai Hana nangis, tetep gak digubris. Ya udah deh, Hana mau nemenin Hasan lagi. Kita udah kelamaan di sini," Hana beranjak dari kursi dan menghampiri Hasan. Namun, ia tak menemui Hasan di ruang tamu.

__ADS_1


"Loh, Hasan kemana? San ... Hasan ... San!"


Hana keluar rumah, namun tak ada juga Hasan di teras. "Kemana sih dia. Apa dia ada di kamar ya? Kalo iya ...."


Hana berlari menaiki anak tangga. Ia teringat bahwa sketsa wajah Miki masih terpampang jelas di meja belajarnya. Kalo Hasan bener ada di kamar, itu artinya Hasan sudah melihat sketsa Miki.


Hana membuka gagang pintu dan mendapati Hasan yang sudah terbaring di atas tempat tidur. Dengan pelan, Hana menutup pintu kamarnya kembali. Hana melirik ke arah meja belajarnya. Foto Miki masih bertengger di sana.


"Sepertinya, Hasan belum liat foto Kak Miki. Aku harus cepat-cepat umpetin," Hana mengambil figura tersebut dan menaruhnya di dalam laci meja belajarnya.


"San, San," Hana menggoyangkan tubuh Hasan pelan untuk memastikan bahwa Hasan sudah tidur.


"Syukurlah, dia udah tidur. Artinya, Hasan gak liat foto Kakak," gumam Hana sambil mengelus dadanya.


Hasan yang ternyata pura-pura tertidur kemudian menarik tubuh Hana dan membalikan posisinya. Hana kaget bukan kepalang. Dadanya berdebar kencang dengan matanya yang membulat. Kini, posisinya berada di bawah tubuh Hasan.

__ADS_1


"Ha-Hasan, ka-kamu kamu belum tidur? Kamu denger aku ...."


"Aku denger! Dan aku udah liat foto Abang. Ternyata kamu masih menyisihkan ruang buat Abang!" Hasan berkata dengan sorot mata tajam membuat Hana menelan ludahnya berkali-kali. Wajah Hasan begitu dekat dengan wajahnya hingga deru nafasnya begitu terasa.


"Nggak, San. Aku gak tau kalo foto itu masih ada di sana. Aku kan jarang pulang ke rumah juga. Gak ngecek kamar. Maaf yah," ucap Hana yang ketakutan.


"Kamu suka banget buat aku marah yah!"


"Aku gak ada maksud buat ...."


Belum selesai bicara, Hasan ******* bibir Hana dengan ganas. Ia memainkan lidahnya di dalam mulut Hana. Menghisap bibirnya dengan kencang. Hana hampir saja kehabisan nafas karena Hasan begitu brutal menciumnya.


"Aku tidak tau, entah kamu emang suka bikin aku cemburu, sengaja nakal, atau karena kamu suka aku cium," ujar Hasan menatap lekat mata Hana yang terus menatapnya dengan nafas tersengal.


Belum sempat menjawab, Hasan kembali ******* bibir Hana dengan lembut. Kali ini, lidah mereka saling beradu di dalam mulut. Hana yang sudah mulai terbiasa dengan ciuman dari Hasan, kini bisa mengimbangi pergulatan lidahnya. Mereka berdua sama-sama menikmati moment tersebut yang terjadi pada pagi menjelang siang itu hingga keduanya tertidur bersama saling berpelukan karena lelah setelah pulang dari mendaki mereka belum sempat istirahat.

__ADS_1


__ADS_2