Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
21. Canggung


__ADS_3

"Han, ini untuk kedua kalinya aku nganterin kamu pulang. Dan mungkin, besok-besok kita akan selalu seperti ini. Kamu gak papa kan?" tanya Hasan sambil melihat Hana dari kaca spion.


Hasan merasa canggung dengan perasaannya sendiri terhadap Hana. Sebenarnya, tidak ada ruginya kalo mereka dijodohkan. Toh, mereka sama-sama orang yang baik. Secara fisik, mereka cocok. Tinggal menunggu rasa cinta tumbuh aja, dalam hati mereka.


"San, aku koq ngrasa aneh, tapi lucu yah," ucap Hana diiringi senyuman.


"Maksud kamu apa?" tanya Hasan yang tidak mengerti.


"Kita masih sekolah, kita satu kelas, dan kita akan jadi pasangan suami istri, dan ini semua hanya karna tradisi. Aneh dan lucu gak sih, menurut kamu?"


"iya juga sih. Memang terdengar gimanaaaa, gitu. Tapi mau gimana lagi, kita sendiri gak bisa nolak dengan tradisi ini," tutur Hasan.


"San, kalo boleh tau, perasaan kamu sekarang gimana?" tanya Hana.


"Em, perasaan aku .... gak tau deh, Han," jawab Hasan dengan ekspresi bingung.


"Kalo perasaan kamu, gimana?" tanya Hasan kepada Hana.


"Kalo aku ... Entah kenapa, saat aku tau orang yang dijodohin sama aku itu adalah kamu, hati aku kaya ngrasa aman, San. Ada rasa lega di hati aku," ucap Hana sambil tersenyum.


Hasan merasa senang mendengar jawaban dari mulut Hana. Ia tidak tau harus menjawab dengan kalimat apa.


Mereka terdiam sesaat sambil menikmati dinginnya angin malam itu.


"Hana, Mama sama Papa kamu, manggil kamu dengan sebutan, Ceri, ya?" tanya Hasan kembali membuka percakapan yang terjeda.


"Iya. Mama itu suka sama buah, Ceri. Makanya, pas tau kalo yang dilahirkan anak perempuan, Mama langsung bilang, kalo nama aku, harus ada kata Ceri nya. Begitu, San!" terang Hana diringi senyuman.


"Oh gitu, Mama kamu lucu juga ya,"


"San, besok kamu siap! Nikah siri sama aku, San?" tanya Hana dengan wajah serius.


"Siap gak siap, Han. Mungkin ini udah jadi takdir kita berdua," jawab Hasan datar.


"San, aku harap, hubungan kita sebagai temen gak ilang gara-gara ikatan ini ya, San! Biarpun nanti kita udah nikah. Semoga, hubungan ini gak mempengaruhi proses belajar kita di sekolah. Karena sejatinya, masa-masa ini bukanlah masa dimana kita sudah hidup berumah tangga dan memikirkan kebutuhan keluarga, apalagi soal mengurus anak, karena kita sendiri masih anak-anak yang harus menempuh ilmu setinggi mungkin," tutur Hana dengan halus.


"Kamu bener, Han. Aku setuju! Biarpun kita terikat dengan tradisi ini, tapi kita tidak boleh terganggu, dan kita harus tetep melanjutkan study kita ... Tapi, gimana kalo suatu saat nanti, salah satu diantara kita menyimpan rasa cinta, Han?" tanya Hasan.


"Aduh, kayaknya kejauhan deh, kita jalanin aja seperti air mengalir. Siapapun nantinya yang bakal jatuh cinta duluan, kamu atau aku, harus ungkapin perasaan itu!" jawab Hana.

__ADS_1


"Artinya kalo kita punya rasa yang sama, tradisi ini bakal berjalan lancar, Han! Tapi kalo kita tidak punya rasa itu, artinya tradisi ini akan gagal, dan berhenti begitu saja, Han," terang Hasan.


"Iya, San! Kamu benar ... Tapi ...."


"Eh, udah nyampe rumah kamu aja nih, Han!" ucap Hasan memotong kalimat Hana.


"Iya, kita sambil ngobrol jadi gak kerasa," jawab Hana.


Hasan berhenti, Hana kemudian turun dari jok motor.


"San, makasih ya udah dianterin lagi," kata Hana.


"Iya, sama-sama, Han!"


"Aku masuk dulu yah," ucap Hana diiringi senyuman.


"Eh tunggu, tunggu!" cegah Hasan.


"Ada apa, San?"


"Itu, Jaz aku," ucap Hasan tersenyum sambil memandang Jaz yang di kenakan Hana.


"Oh, kirain apa ... Nih, makasih ya," ucap Hana sambil memberikan Jaz tersebut kepada Hasan.


"Aku masuk ya, kamu hati-hati di jalan,"


"Eh, tunggu!"


"Ada apa lagi, San?" tanya Hana sudah mulai kesal.


"Itu, anu, em, aku mau jujur sama kamu,"


Hana mengernyitkan alis, "jujur soal apa?"


"Aku mau bilang, kalo kamu ... Malam ini, cantik banget. Pake banget! Hehehe!" ucap Hasan terkekeh.


Hana tersipu malu di puji oleh Hasan. Ia tersenyum sambil membenarkan rambutnya.


"Makasih, San!" ucap Hana diiringi senyuman.

__ADS_1


"Eh, maksud aku, gaunnya," terang Hasan kembali.


Hana mendadak cemberut mendengar penuturan Hasan.


"Ya udah deh, aku masuk aja!" ucap Hana kemudian segera berbalik dan meninggalkan Hasan yang masih terpaku di depan pagar rumahnya.


Hasan tersenyum jail melihat ekspresi Hana yang cemberut.


"Nah, kalo cemberut kamu lebih imut dan cantik, Han!" batin Hasan.


Hana lalu membuka pagar dan masuk ke dalam rumah. Sesekali Hana menengok ke arah Hasan yang masih terpaku sambil tersenyum menatapnya.Hasan kemudian melambaikan tangan.


Setelah Hana masuk ke dalam rumahnya, Hasan menyalakan motornya lagi, dan siap untuk pulang ke rumahnya sendiri.


Bu Darma ternyata mengintip Hana dan Hasan sedari tadi, lewat jendela. Begitu Hana masuk, Bu Darma langsung meledeknya.


"Cie, cie, ada yang lagi kasmaran nih," ledek Bu Darma diirngi senyuman.


"Mama! Mama ngintip ya tadi?"


Bu Darma tersenyum dan merangkul Hana.


"Jatuh cintanya kamu kecepetan, Cer! Dulu, Mama sampe tiga taun loh baru ada rasa sama Papa kamu. Kamu baru sekali ketemu eh langsung cocok,"


"Aku sama Hasan, kan emang udah kenal, Mah! kalo Mama dulu kan emang belom pernah ketemu sama sekali. Lagi pula, Ceri juga gak ngerti tuh sama yang namanya C-I-N-T-A, jadi gak mau ambil pusing deh," jawab Ceri cuek.


"Bohong! Ya udah deh kamu bersih-bersih sana, ganti baju, cuci muka, kaki, tangan. Terus lanjut tidur ya. Inget! besok hal terpenting juga dalam hidup kamu loh ... oh iya, mama udah kirim poto-poto yang tadi loh. Coba kamu liat, pasti gemes banget. Mama juga udah kirim ke nomornya Leo juga. Jangan lupa buat di save," ucap Bu Darma sambil mengerlingkan mata.


"Iya, Mamaku sayang," jawab Hana sambil mencium pipi Bu Darma, kemdian pergi menuju kamarnya.


Setelah selesai membersihkan badan, Hana mengambil hapenya. Ia iseng melihat poto-poto yang dikirimkan oleh Mamanya.


"Subhanalloh! gemes banget poto-potonya ... Kalo aku lihat-lihat, ternyata aku cantik juga ya, hihihi," ucap Hana sambil terkekeh.


"Kalo di cetak dibesarin, bagus banget nih," gumam Hana.


Disisi lain, Hasan pun tengah memandangi poto yang di kirim oleh Bu Darma via Wa.


Ia tersenyum sendiri melihat dirinya yang disandingkan dengan Hana.

__ADS_1


"Serasi juga ya, aku sama, Hana,"


Semakin lama, matanya semakin sayu melihat layar hapenya yang terang. Tak berapa lama, Hasan pun tertidur dengan hape yang masih dalam genggamannya.


__ADS_2