
Hana mengelus dadanya yang masih deg-degan. Ia pun menghampiri gelas yang terletak di meja. Niat ingin minum, akan tetapi air minumnya habis. Hana kemudian keluar untuk mengambil air. Terlihat Hasan masih sibuk dengan pekerjaannya. Hana mengatur nafas agar kegugupannya tidak terlihat.
Hasan melirik Hana yang melewatinya begitu saja. Ia memperhatikan Hana yang tengah menuangkan air ke dalam gelas. Lalu meminumnya hingga tandas. Setelahnya, Hana menuangkan air kembali ke dalam gelas kosongnya, lalu kembali berjalan.
"Kehausan?" tanya Hasan yang mampu menghentikan langkah Hana.
"I-iya," jawab Hana gugup. Ia kemudian segera berjalan menuju kamarnya. Menutup pintu dengan cepat.
"Kenapa tuh anak? Aneh banget. Pasti ada sesuatu. Biarin aja deh, nanti juga cerita sendiri. Lebih baik aku selesaikan pekerjaanku. Setelah ini langsung istirahat," gumam Hasan.
***
Hana dan Hasan tiba di sekolah. Seperti biasa, sekolah masih dalam keadaan yang sangat sepi. Bahkan kabut tipis masih menyelimuti. Mereka langsung menuju kelas. Hasan berniat untuk istirahat sebentar karena pekerjaannya yang banyak, akhir-akhir ini dia terlihat lelah.
"Mumpung masih sepi, sini aku pijit kepala kamu. Kamu sudah bekerja dengan keras." ucap Hana sembari berjalan ke arah kursi Hasan.
Hasan tersenyum sumringah kemudian menata bangku untuk tempat ia tiduran. Hana duduk di ujung kursi. Hasan merebahkan kepalanya dipangkuan Hana. Hana mulai memijit kepala Hasan dengan penuh kasih sayang. Hasan yang keenakan memejamkan matanya tanpa melepas senyuman di wajah.
"Minggu besok kita nonton bisokop mau nggak?" tanya Hasan.
"Emangnya kamu gak capek? Setiap hari kamu meluangkan waktu untuk bekerja sehabis sekolah. Tapi, aku salut sama kamu. Meskipun tidur kurang dengan aktifitas yang banyak, daya tahan tubuh kamu kuat. Tapi kalo habis berkelahi dan terluka, kenapa bisa langsung sakit? Aneh!" tutur Hana seraya memperhatikan raut wajah Hasan yang begitu mempesona.
"Tergantung masalah perkelahiannya apa. Kalo bukan menyangkut orang yang aku sayangi, mana mungkin aku bisa sampai sakit,"
"Kalo begitu, dulu waktu kamu suka berkelahi dan sakit, kamu sedang membela siapa? Kamu bilang kamu belum pernah pacaran," tutur Hana yang kini merubah wajahnya cemberut.
__ADS_1
"Oh itu, aku pernah dekat dengan seorang wanita dan ...."
"Wanita itu spesial buat kamu? Kamu suka sama dia?"
Hasan membuka matanya lalu melihat ekspresi Hana yang semakin ditekuk wajahnya. Hasan menahan senyum. "Iya, aku pernah ada rasa sama dia. Dia itu ...."
"Kamu ternyata bohongin aku. Kamu bilang gak pernah suka sama orang."
"Kapan aku pernah bilang seperti itu? Aku hanya bilang tidak pernah pacaran, itu saja. Kamu cemburu?" Hasan kemudian merubah posisinya untuk duduk dengan benar. Ia mencubit pipi Hana yang begitu menggemaskan ketika sedang cemberut.
"Kenapa mesti cemburu, yang sekarang jadi pacar aku kan kamu. Bahkan kamu udah jadi istri aku. Gak akan ada wanita lain lagi yang aku suka," Hasan mencium pipi Hana sekilas.
Krasak.
Tiba-tiba terdengar suara botol plastik diinjak. Hasan dan Hana kaget dan langsung berdiri mencari sumber suara tersebut.
"Siapa di sana?" tanya Hasan memicingkan mata. Ia berlari keluar dan dengan cepat mendapati Damar yang masih terpaku seperti patung dengan tubuhnya yang bergetar. Hasan tampak shock melihat Damar yang kini menatapnya dengan wajah pucat. Beberapa kali Hasan menelan salivanya sendiri. Hana menyusul Hasan yang kini berada di luar. Hana tak kalah terkejut mendapati posisi Damar yang siap untuk berlari, namun diam seperti patung. Hana bergegas menghampiri Damar dan berjongkok di depannya. "Damar, kamu gak papa? Ya ampun, badan kamu dingin banget. Kenapa bergetar gini! San, bantuin dong, kenapa malah diem aja?" Hana berteriak. Badan Damar begitu kaku.
Hasan yang sadar dengan situasi tersebut akhirnya ikut mendekat dan mengecek Damar.
"Dam, kamu gak papa?"
Damar hanya mampu menggerakan bola matanya dengan bibir yang bergetar, ia hendak bicara namun tidak sanggup. Wajahnya pucat dan tubuhnya dingin.
"San, telpon dokter atau apa kek. Keadaan Damar sangat gawat ini," tutur Hana terlihat panik.
__ADS_1
Hasan hanya diam dan berkata dalam hati. "Damar seperti ini karena dapet serangan yang membuat dirinya sangat kaget. Sehingga seluruh tubuhnya terasa kaku, gemetar dan sedikit dingin. Dia begitu panik sehingga reaksi tubuhnya sampai seperti ini. Dalam beberapa menit, tubuhnya akan normal kembali,"
"Kamu kok diem aja sih," Hana memukul lengan Hasan.
"Aw, sakit tau," pekik Hasan.
"Kamu lihat Damar kayak gini kenapa massih sempat melamun!" ucap Hana yang panik.
"Ah nanti dia bakal sembuh. Mendingan kamu pergi ke dapur bikinin Damar teh anget," jawab Hasan dengan enteng.
"Hasan, aku gak bercanda nih. Kenapa kamu malah ...."
"Aku juga gak bercanda, dia terkena panic attack. Hanya beberapa menit saja tubuhnya akan kembali seperti semula. Kamu tidak perlu khawatir cepat buatkan teh manis untuknya," Hasan mendorong tubuh Hana dengan lembut agar ia segera pergi dari sana.
"Apa benar seperti itu?" tanya Hana memastikan.
"Iya, percaya deh sama aku," ucap Hasan sembari tersenyum.
Dengan perasaan yang masih khawatir, Hana melakukan perintah dari Hasan. Kini, hanya ada Hasan dan Damar di sana. Hasan tersenyum ke arah Damar sambil menekan beberapa titik tubuh Damar. "Kamu diam-diam nguping obrolan kami? Kamu dengar semuanya? Damar, apa yang kamu dengar belum tentu benar. Jangan panik seperti ini."
Damar menghirup nafas dalam-dalam. Ada beberapa bagian yang terasa sakit saat Hasan menekannya. Tapi kemudian tubuh Damar kembali normal dan ia terduduk sambil bersandar tembok. Damar menarik nafas dan membuangnya berkali-kali.
"Sudah merasa lebih nyaman?" tanya Hasan masih dengan senyumannya yang dingin.
"Apa sebenarnya hubungan kalian berdua?" tanya Damar tanpa basa-basi.
__ADS_1
Hasan tersenyum dan menepuk pundak Damar. "Sepertinya, kita perlu membicarakan ini di tempat lain. Untuk hari ini kamu bisa merahasiakannya?" tanya Hasan sambil menatap tajam ke arah Damar.
Damar merinding ketika melihat ekspresi Hasan yang tidak seperti biasanya. Benar-benar macam singa yang hendak menerkam mangsa. Keringat sampai keluar dari pori-pori tubuh Damar.