Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
51. Raja Keras Kepala


__ADS_3

Semua peserta ulangan sudah duduk di bangkunya masing-masing dengan jarak terpisah. Masing-masing satu bangku satu meja satu peserta.


Kebetulan, Hana satu ruangan lagi bersama Yusi, Damar, dan Hasan. Seharusnya jika mereka berdua masuk.


Hana dan Yusi mengerjakan ulangan dengan khusyuk.


***


Samuel dilarikan ke rumah sakit oleh orangtuanya. Samuel masuk ke ICU. Tapi Alhamdulillah keadaannya sekarang sudah stabil. Samuel dipindahkan ke kamar rawat.


Di tangan kanan dan kirinya terpasang banyak infus. Ia juga dibantu dengan oksigen.


Samuel dijaga oleh Mamah dan Papahnya yang baru saja pulang dari kantor.


Samuel yang belum lama tersadar, merasa bingung dengan dirinya sendiri. Kepalanya masih terasa pening dan ngilu. Pandangannya masih kabur.


"Sekarang kamu kasih tau kami, siapa orang yang sudah membuat kamu babak belur begini, Sam! Untung saja kamu tidak mati," ucap Papahnya dengan berang.


"Kalian siapa?" tanya Samuel yang belum jelas melihat.


Bagaskara dan istrinya saling memandang ketika Samuel bertanya hal demikian.


"Kami orangtua kamu, Sam! Masa kamu tidak kenal!" tanya Bagaskara sedikit tercengang.


"Orangtua? Maaf, penglihatan aku masih kabur, Pah! Mah! Tapi, tapi aku ini siapa?" tanya Samuel yang kemudian terlihat bingung dengan dirinya sendiri.


Bagaskara dan istrinya kembali kaget mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Samuel. Mereka berdua mendadak panik dan langsung memanggil dokter untuk mengecek kondisi anaknya.


"Apa terjadi sesuatu dengan anak kami, Dok! Kenapa dia tidak mengenali dirinya sendiri?" tanya Bagaskara cemas.


Dokter menyenteri kedua mata Samuel bergantian.


"Apa masih pusing, nak Samuel?" tanya dokter.


"Apa nama saya , Samuel?" tanya Sam.


"Iya, nama kamu, Samuel. Mereka berdua orangtua kamu!" ucap Dokter sambil menunjuk Bagaskara dan istrinya yang mulai menangis melihat kondisi Samuel.


"Apa kamu masih merasakan sakit di kepala?"


"Iya, sakit banget, Dok! Pening, berat, pegal, dan ngilu rasanya!" jawab Samuel.


"Iya, iya! Jangan dipaksakan untuk berfikir berat dulu yah," ucap dokter kepada Samuel diringi senyuman.


"Dokter, apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya Bu Bagas sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Anak ibu dan bapak kemungkinan mengalami amnesia,"


"Amnesia?"


"Iya, tapi jangan khawatir. Ini hanya sementara koq. Kalian bisa membantunya untuk kembali mengingat kenangan-kenangan dirinya sebelum amnesia. Tapi, jangan terlalu dipaksakan jika anak bapak dan ibu sudah merasakan sakit di kepalanya. Karena jika dipaksakan, ia bisa drop lagi. Saya tinggal dulu ya, Pak, Bu!" ucap Dokter.


"Iya, terimakasih, Dok!" jawab Bagaskara.


Bagaskara merangkul pundak istrinya dan mengusapnya dengan lembut.


Dalam hatinya, ia benar-benar geram kepada orang yang sudah membuat anaknya terluka parah, bahkan amnesia.


"Samuel," ucap Bu Bagas sambil menangis.


"Mama, jangan nangis! Samuel tidak apa-apa," kata Samuel dengan pelan.


"Kamu tidak lupa dengan Mamah dan Papah, kan?" tanya Bu Bagas sambil mengusap air matanya.


"Ya nggak lah, Mah! Sekarang, penglihatan Samuel udah jelas. Wajah Mamah dan Papah sangat jelas di mata Samuel. Makasih yah udah nungguin Samuel di sini. Tapi, kenapa Samuel bisa berada di sini? Apa yang terjadi dengan Samuel, Mah?"


"Kamu kecelakaan, Nak!" jawab Bu Bagas sambil mengelus anaknya dengan kasih sayang.


Bagaskara merasa sangat kesal karena Samuel justru hilang ingatan. Padahal ia ingin menanyakan pelaku yang sudah membuat Samuel babak belur hampir mati.


Setelah selesai ulangan, Hana dengan cepat bersiap-siao untuk pulang. Yang ada dipikirannya kini hanya ada Hasan.


Hana memasukan alat tulisnya dengan cepat ke dalam tas.


"Yus, aku duluan yah!" ucap Hana sambil memakai tas di punggungnya.


"Koq buru-buru sih, Han! Kita duduk dulu lah, bahas soal-soal ulangan tadi," ucap Yusi heran.


"Maaf Yus, aku gak bisa. Aku harus cepet-cepet pulang. Aku duluan yah, bye!" Hana berlari dan melambaikan tangan ke arah Yusi.


"Ada apa sih sama tuh anak! Gak kayak biasanya deh! Kalo gitu, aku juga pulang aja deh, nengokin Damar, di rumah sakit," gumam Yusi sambil memasukan soal tadi dan alat tulisnya ke dalam tas.


Hana sudah sampai di depan sekolah. Alangkah terkejutnya dia, ketika melihat Raja yang sudah stand by di atas motornya, dan tersenyum kepada dirinya.


"Raja!" ucap Hana sambil menunjuk ke arah Raja.


"Hay cewek! Mau pulang bareng?" tanya Raja sambil tersenyum.


"Nggak, nggak! Kamu kesini ngapain?"


"Mau jemput kamu lah!"

__ADS_1


"Hah! Aku bisa pulang sendiri koq. Mendingan kamu pulang aja sekarang!"


"Kita bareng aja deh. Arah rumah kita kan sama. Mumpung aku free nih, udah gak ada tugas, aku anterin kamu sekalian main, boleh kan?" tanya Raja diiringi senyuman.


"Gak bisa! Aku mau pulang sendiri aja! Kamu mendingan cabut sekarang deh!" perintah Hana.


Hana kemudian berjalan melewati Raja. Raja tak menyangka jika Hana akan menolak ajakannya. Raja pikir, Hana akan senang jika ia menawari tumpangan lagi.


Raja memutar sepeda motornya dan menjajari langkah Hana yang berjalan dengan langkah cepat.


Sedikit sulit bagi Raja untuk berjalan sambil membawa sepeda motor yang ja naiki.


Dari atas gedung sekolah, ternyata ada Cantika yang melihat Hana dan Raja tengah berjalan bersama.


Cantika seketika kaget ketika tau bahwa cowok yang bersama dengan Hana adalah Raja. Sepupunya sendiri.


"Itu kan, Raja! Ngapain dia sama Hana?" ucap Cantika heran.


Hana merasa kesal karena Raja tak kunjung pergi. "Kamu ngapain ngikutin aku sih, Ja! Udah lah pulang dulu sana!"


"Niat aku kan baik, Han! Nawarin kamu tumpangan, kan lumayan bisa hemat duit. Tadi pagi aja kamu seneng banget, kenapa sekarang malah jutek gitu sih!" tanya Raja sambil memperhatikan raut wajah Hana.


"Kalo tadi pagi beda ceritanya, Ja! Itu kepepet! Udah kamu pulang dulu sana. Aku gak mau dianterin,"


"Ya udah gak papa kalo kamu gak mau dianterin. Aku mau nemenin kamu jalan aja,"


"Aku gak butuh ditemenin, aku berani jalan sendiri koq," jawab Hana dengan jutek.


"Kenapa sih nih cewek! Beruntung loh dia karena aku tawarin tumpangan. Biasanya, cewek-cewek lain bakal seneng banget. Koq dia nggak sih!" Raja berkata dalam hatinya.


Raja tidak mengindahkan kalimat Hana. Ia terus berjalan mengiringi langkah Hana. Meskipun kesusahan karena ia membawa serta motor ninjanya.


"Ja, aku tuh mau naik angkot. Angkot itu biasanya ngetime lama banget. Kalo udah penuh, baru tuh berangkat angkotnya," ucap Hana berharap Raja akan berhenti mengikutinya.


"Gak papa, aku setia menunggu koq," jawab Raja dengan enteng.


Hana merasa geram. Ia meremas roknya sendiri mendengar kalimat dari Raja.


Hana merasa bingung karena kalo Raja mengikutinya sampai di rumah, rahasianya akan terbongkar.


Hana juga menjadi bimbang. Ia sebaiknya pulang ke rumahnya sendiri, atau pulang ke rumah orangtuanya.


"Ini anak rupanya keras kepala. Bersikekeuh banget pengin nganterin aku pulang. Kalo gini caranya, aku harus pulang ke rumah mamah deh. Masalah arah, aku bisa alasan nanti aja," ucap Hana dalam hatinya.


Begitu sampai di pangkalan, Hana mencari angkot berwarna ping yang sudah penuh. Hana duduk di depan di samping pak sopir. Kebetulan hanya tempat duduk itu yang masih kosong.

__ADS_1


__ADS_2