
Kedua orangtua Hana dan Hasan pergi untuk makan siang bersama. Sedangkan Hasan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Hana memeluk pinggang, Hasan dengan erat.
"San, pelan-pelan aja dong, aku takut nih. Mataku aja gak bisa melek nih, gara-gara kamu kenceng banget. Ngomong aja aku susah, bertubrukan sama angin," ucap Hana dengan mata terpejam.
"Sory, Han! Aku di kejar deadline soalnya. Kamu peluk aku yang kenceng aja,"
"Udah dari tadi kali, emangnya gak kerasa?" tanya Hana manyun.
"Hihihi," Hasan terkekeh.
Hasan tampak senang karena Hana memeluknya dengan erat. Seletah setengah jam perjalanan, mereka berdua sampai di depan rumah dengan gerbang kayu jati berwarna cokelat.
"Eh, udah sampai ya!" gumam Hana kemudian membuka matanya perlahan.
Tanpa turun dari motor, Hasan membuka gerbangnya dengan suaranya, membuat Hana kaget.
"Buka gerbang," ucap Hasan.
Tiba-tiba gerbang tersebut terbuka dengan sendirinya. Dan menutup kembali secara otomatis. Hana terbelalak. Mulutnya sampai menganga saking takjubnya. Untunglah tidak ada lalat yang masuk.
"Waaaaaawwwww," gumam Hana dengan mata berbinar.
Hasan lalu masuk ke dalam garasi. Ia sesekali melihat Hana dengan raut wajah takjubnya yang tak kunjung selesai itu.
Rumah Hasan memang tidak besar, apalagi bertingkat. Rumahnya minimalis, cocok untuk pasangan yang baru menikah.
"Welcome to my sweet home, Hana! Ini rumah aku, dan sekarang akan menjadi rumah kita. Rumah aku kecil, tapi, aku jamin kamu bakal nyaman di sini," ucap Hasan sambil tersenyum melihat ekspresi Hana yang masih takjub.
Hana melihat secara detail bentuk rumah Hasan dari luar. Rumah minimalis yang berada di depannya kini adalah rumah yang ia impikan, ia dambakan dalam mimpinya selama ini. Hana tak henti-hentinya memuji rumah Hasan.
Kini, Hana percaya omongan Papanya yang mengatakan bahwa Hasan adalah anak yang mandiri.
"Wah, aku bener-bener kagum sama kamu, San! Aku gak nyangka kalo kamu udah mandiri. Dan tadi, aku kaget banget pas gerbang kamu bisa ke buka sendiri. Keren banget. Bisa gitu kenapa, San?" tanya Hana penasaran.
"Iya, aku sengaja memprogram gerbang dengan sensor suara otomatis, Han! Tapi, yang bisa buka hanya aku aja. Karena kamu sekarang tinggal di rumah ini, aku akan rekam suara kamu juga," ucap Hasan tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Hana terus memandang wajah tampan nan imut itu, ingin sekali rasanya ia memeluk tubuh tegap tersebut. Tatapan matanya begitu hangat memandang Hasan.
__ADS_1
"Makasih ya, San! aku boleh meluk kamu gak?"
Hasan mengernyitkan alisnya karena heran dengan permintaan Hana.
"Hah! Meluk aku? Bo–boleh ...." ucap Hasan terbata, kemudian Hana menghambur dalam pelukan Hasan dalam sekejap.
Hasan bahagia mendapat pelukan hangat dari Hana. Hana benar-benar tak menyangka, jika pria yang sekarang menjadi suaminya, benar-benar sudah mandiri. Omongan Papanya ternyata adalah fakta, bukan omong kosong belaka.
"Udah cukup bahagia?" tanya Hasan dengan senyuman terpancar di bibirnya.
"Iya, hari ini aku seneng banget karena fakta baru, Papa gak bohong, ternyata, kamu beneran sudah mandiri ... Terus masalah proyek yang kamu bilang tadi di masjid, emangnya ada proyek apa, San?" tanya Hana penasaran.
"Desain rumah, rumah ini juga aku yang desain," jawab Hasan.
"Serius, kamu desain sendiri?" jawab Hana dengan mata yang membulat.
Hasan mengangguk mendengar pertanyaan Hana.
Lagi-lagi, Hana dibuat kagum oleh sosok pria imut yang tengah berdiri menatapnya.
"Hal apa, San?" tanya Hana penasaran kembali.
"Kita masuk dulu yah! Emangnya kamu gak penasaran sama isi dalam rumahku?"
"Penasaran banget lah!" ujar Hana.
Hasan kemudian masuk melalui pintu depan garasi yang langsung menembus dengan dapur.
Disebelah garasi sebenarnya ada teras, dan di situlah pintu utamanya. Tapi, itu hanya untuk tamu. Kalo Hasan sendiri jarang masuk lewat pintu tersebut.
Denah rumah Hasan seperti ini, kalo dari depan pintu utama, begitu masuk akan dijumpai ruang tamu.
Lalu depan ruang tamu ada ruang keluarga, yang berdekatan, tanpa sekat. Lalu sebelah kiri ruang keluarga ada dua buah undakan anak tangga ke dapur dan ruang makan. Di belakang ruang makan ada pintu untuk menuju gazebo belakang dan ruang loundry.
Kembali dari ruang keluarga. Di sebelah kanan ruang keluarga, ada jalan seperti lorong, sebelah kanan lorong ada satu kamar, sebelah kiri ada satu kamar juga. Mentok di depan lorong tersebut ada kamar mandi dan toilet.
Seluruh desain interior maupun eksterior di kerjakan oleh Hasan sendiri. Sementara untuk pembangunannya di kerjakan oleh perusahaan Pak Praja.
__ADS_1
Simple minimalis, elegan, dan nyaman.
Hasan adalah seorang arsitek muda dan juga IT handal. Bakat menjadi arsitek sudah ada sejak ia sekolah di bangku SD.
Hana terpesona dengan semua detail interior rumah Hasan. Hasan membiarkan Hana menelusuri ruangan demi ruangan sendirian.
Hasan kemudian mengambil laptopnya dari kamar dan membawanya ke ruang keluarga. Ia membukanya dan mulai mendesain project baru. Sore harinya ia harus mempresentasikan hasilnya untuk sebuah pembangunan perumahan baru.
"Bagus banget, San! Simple. Oh iya, ngomong-ngomong, kamar aku nanti dimana?" tanya Hana yang tengah berdiri di lorong sambil melihat kedua pintu di lorong tersebut.
"Sebelah kiri itu kamar kamu, kamu boleh masuk dan lihat-lihat. Aku khusus mendesain kamar itu buat istriku nantinya, eh ternyata, istriku itu kamu," jawab Hasan masih fokus dengan pekerjaannya.
Hana tersenyum mendengar kalimat Hasan. Meskipun menikah tanpa rasa cinta, ia bisa merasakan bahagia berada di dekat Hasan. Jika hanya melihat penampilannya saja sudah bisa membuat orang jatuh cinta, apalagi dengan kepribadian Hasan sendiri!
Semua orang pasti akan merasa sangat beruntung jika bersanding dengan Hasan. Muda, berbakat, pintar, mandiri, mapan, dan tampan. Wanita mana yang akan menolak laki-laki seperti itu. Perangainya baik pula. Jago bela diri.
"Aku boleh masuk kan, San?" tanya Hana malu-malu.
"Boleh dong, itu kan udah jadi kamar kamu. Pokoknya, kami itu bebas mau ngapain aja di sini. Udah ya, jangan banyak nanya, aku mau fokus kerja dulu," ucap Hasan tanpa melihat Hana.
Hana lalu masuk ke dalam kamarnya. Begitu membuka kamar, matanya membulat, ia menutup mulutnya, saking kagumnya dengan kamar tersebut.
Di dalam kamar itu ternyata lumayan lega, ada satu tempat tidur, meja rias, lemari besar. Di depan Bed, dengan jarak dua meter, ada sebuah aquarium besar, di sana ada banyak ikan hias dengan air mancur di atasnya. Itu lah yang membuat Hana takjub dengan kamar yang di desain Hasan untuk dirinya.
Hana mendekati aquarium tesebut. Ia meraba setiap kaca tebal itu dengan perasaan senang bercampur haru. Butir-butir air mata menggenang di pelupuknya.
"Hasan, apakah aku pantas menjadi istrinya? Dia terlalu sempurna," gumam Hana saat melihat kenyataan dan keindahan yang nampak di matanya.
Di samping aquarium tersebut, ada sebuah pintu yang ternyata mengarah ke gazebo di halaman belakang.
"Masya Alloh, ini benar-benar indah. Kalo saja aku tidak jadi istrinya, aku pasti akan membeli rumah ini, berapapun harganya," batin Hana yang merasa takjub.
"Kalo begini mah, aku bakal betah tinggal di rumah Hasan. Ini rumah impian aku banget, ya Alloh," ucapnya sambil mengusap dua butir air mata yang membasahi pipinya.
Saat sedang asyik menikmati interior kamarnya, tiba-tiba perutnya berbunyi. Hana mengusapnya perlahan.
"Aduh, laper nih ... Kira-kira, Hasan punya bahan buat di masak gak yah! Oh iya, Hasan kan juga belum makan, kalo gitu, aku masak sekarang aja kali ya," ucap Hana kemudian menyudahi kekagumannya.
__ADS_1