
Samuel membeli parcel buah dan juga kue untuk dibawa ke rumah sakit mengunjungi Ayah Dimas yang masih terbaring lemah.
Dari arah berlawanan, Raja sengaja pura-pura tidak melihatnya dan menabrakan diri dengan Samuel. Untung tidak sampai mengenai parcel yang dibawanya.
"Aduh, maaf maaf aku gak sengaja," ujar Raja.
"Kalo jalan pake ma ... Kamu,"
Raja dan Samuel saling bertatap mata. Tidak ada kalimat dalam seperkian detik diantara mereka.
Raja memperhatikan Samuel dengan barang bawaannya. "Kamu masih inget aku gak?" tanya Raja seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu Raja kan, temannya Hana?" tanya Samuel tampak ragu.
Raja tersenyum dan merangkul pundak Samuel. "Ternyata kamu beneran hilang ingatan ya? Oke gak papa. Kita dulunya adalah teman. Dan hingga sekarang kita juga berteman. Ngomong-ngomong, kamu beli parcel buat siapa? Apa ada yang sakit?" tanya Raja.
Samuel tersenyum melihat sikap Raja kepadanya. "Ah ini ... I, iya ada orang tua temanku yang sedang sakit. Aku ingin datang menjenguknya,"
"Teman yang mana? Temanmu adalah temanku juga. Kamu tau kan kita dulu adalah geng,"
"Sial. Aku gak inget kalo aku pernah bilang tidak ingat semua teman-temanku. Apa yang harus aku katakan kali ini," gumam Samuel dalam hatinya.
"Iya, akhir-akhir ini aku dapat pesan dari seseorang yang mengaku sebagai teman dekatku. Namanya Dimas. Dia meminta bantuan kepadaku karena ayahnya dirawat di rumah sakit. Apa kamu kenal dengan dia juga?" jawab Samuel jujur.
"Apa! Ayah Dimas kecelakaan? Kenapa aku baru tau. Lalu, kenapa kamu mau menolongnya jika kamu lupa dengan semua temanmu? Apa kamu tidak takut ditipu?" tanya Raja pura-pura polos.
__ADS_1
"Apa maksud kalimatnya ingin menjebakku," batin Samuel lagi.
"Entah, aku merasa iba saja dengannya. Kalo kamu mau ikut denganku, boleh saja. Siapa tau kamu benar kalo Dimas yang meminta bantuanku, ternyata membohongiku," jawab Samuel.
"Baiklah, aku ikut denganmu. Aku rasa, Dimas itu adalah Dimas teman kita yang miskin itu," jawab Raja datar. "Ngomong-ngomong, kamu naik apa?"
"Aku bawa mobil. Mau ikut denganku?"
"Oke. Pulang dari rumah sakit, kamu antarkan aku kesini lagi yah. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Raja sambil menatap Samuel.
Samuel tersenyum lalu mengangguk.
"Kamu memang temanku yang pengertian. Karena aku yang menumpang, sebaiknya aku yang menyetir saja," Raja mengulurkan tangan menanti Samuel menyerahkan kunci kepadanya.
Samuel menghela nafas kemudian menyerahkan kunci kepada Raja.
Raja memperhatikan Samuel seraya menyunggingkan senyum.
Sesampainya di rumah sakit, Dimas kaget ketika melihat Samuel datang dengan Raja. Ia menelan ludah beberapa kali. Raja tersenyum menyeringai membuat Dimas ketakutan. Tanpa sadar keringat sudah membanjiri pelipisnya.
"Ra Ra Raja, Sam, kalian berdua ...."
Raja kemudian merangkul Dimas, "apa kabar? Sudah lama ya kita gak ketemu. Aku dengar, Ayahmu kecelakaan. Kamu meminta bantuan Samuel? Kenapa tidak minta bantuanku juga?" ucap Raja menatap tajam Dimas.
"Eh, aku aku sudah terbiasa meminta bantuan kepada Samuel, jadi ...."
__ADS_1
"Dimas, ini aku bawakan parcel untuk Ayahmu. Apakah aku boleh masuk?" tanya Samuel.
"Dokter bilang untuk tidak terus mengganggunya. Membiarkan dia istirahat. Mohon maaf, kalian tidak bisa masuk," jawab Dimas.
"Baiklah tidak apa-apa. Kita ngobrol di sini saja. Parcel ini sebaiknya kamu simpan dulu," ucap Samuel.
"Terimakasih, Sam." jawab Dimas sembari menerimanya.
Mereka bertiga duduk di ruang tunggu depan ruangan kamar pasien. Diantara mereka terlihat begitu canggung, meskipun dulu mereka adalah teman dekat. Namun, semenjak kejadian perkelahian di basecamp, hubungan mereka benar-benar renggang.
"Dimas, apa keadaan ayahmu parah?" tanya Samuel memecah keheningan.
"Iya lumayan parah. Kepalanya dijahit. Tulang kakinya patah. Tiga hari dia koma karena banyak kehilangan darah. Aku berterimakasih karena ...."
"Ah, hanya sebuah parcel dan menjenguk saja, jangan terlalu berlebihan," Samuel memotong kalimat Dimas, sambil mengedipkan mata.
"Aku harap ia tidak mengatakan kalo aku sudah memberinya uang. Atau, Raja akan semakin curiga padaku," batin Samuel.
"Iya, meskipun begitu aku tetap berterimakasih kepadamu. Oh iya, apa kamu ingat Raja. Dia teman kita yang paling kamu banggakan," Dimas menepuk Raja yang duduk disebelahnya.
"Maaf, aku tidak ingat apapun. Tapi, jika memang kita berteman, tidak ada salahnya untukku memulai dari awal." Jawab Samuel seraya tersenyum.
"Kalimat itu yang sedari tadi aku tunggu, Sam!" batin Raja, menyeringai.
"Kalo begitu, aku akan membantumu ingat semuanya, Sam. Aku akan sering bermain ke rumahmu, seperti dulu. Kita bisa menjadi teman yang akrab lagi. Bagaimana?" tanya Raja.
__ADS_1
Samuel dan Dimas saling menatap. Kemudian, dengan sedikit ragu, Samuel mengangguk tanda setuju.
"Akhirnya, Raja mau berteman denganku lagi. Entah nantinya ia akan menggangguku saat bersama Hana, atau tidak. Yang jelas, aku harus membuat ia percaya lagi padaku." Batin Samuel.