Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Deg-degan


__ADS_3

Hasan berbalik menuju parkiran untuk mengambil sepeda motornya. Raut wajahnya tampak tidak senang setelah melihat kepergian Hana bersama dengan Samuel.


~~


"Tadi itu pacarmu ya? Namanya siapa?" tanya Samuel seraya melirik Hana.


"Iya, dia pacarku. Namanya Hasan," jawab Hana singkat. Pikiran Hana tampak tidak tenang memikirkan sikap Hasan tadi.


"Pantes aja kamu gak mau sama aku. Ternyata kamu udah punya pacar ya. Tapi ngomong-ngomong makasih banget loh kamu udah mau bantuin aku," ucap Samuel berbinar.


"Iya aku cuman berharap kamu bisa menjadi pribadi yang baik. Bertanggung jawab, perhatian, penyayang, dan yang pastinya jangan gampang marah. Jangan mudah kepancing omongan orang," tutur Hana tanpa memandang Samuel.


Samuel terdiam sejenak.


"Cih, bukanya dulu kamu yang terlalu sombong Han. Sok jual mahal sama aku. Pura-pura baik lagi," batin Samuel.


"Aku pasti dulunya bukan orang yang baik ya?" tanya Samuel.


"Nggak juga ... Sam, kamu ingat pernah melakukan dosa besar gak?" tanya Hana sedikit ragu.


"Dosa? Apa?" tanya Samuel dengan polos.


"Maksud aku, mungkin kamu dulu pernah pacaran sama banyak cewek terus kelewat batas gitu. Eh maaf ya, aku cuman nanya aja kok. Barangkali kamu merasa," ujar Hana.


"Sial! Hana pasti udah tau tentang video mesum aku," batin Samuel.


"Em, aku gak ingat. Emangnya dosa apa sih?" tanya Samuel dengan mimik wajah penasaran.


"Lupakan saja. Ngomong-ngomong kamu mau meneruskan kuliah dimana?" tanya Hana mengalihkan pembicaraan.


"Em, belum tau. Tapi aku mau daring aja sih. Han, menurut kamu aku ini orangnya seperti apa?" tanya Samuel seraya tersenyum.


Hana mengernyit mendengar pertanyaan Samuel. "Seperti apa? Kamu ya seperti kamu. Kamu tidak sama dengan siapapun." Jawab Hana singkat.


Samuel terdiam. Hatinya sedikit tersentuh ketika Hana mengucapkan kalimat singkat itu.


Samuel mendadak diam dan fokus menyetir, membuat Hana menjadi sedikit canggung.


"Kenapa dia tiba-tiba diam. Apa jawabanku salah, atau tidak cocok buatnya?" batin Hana.

__ADS_1


Hana sesekali melirik Samuel. Terlihat di wajahnya ada sedikit kesedihan.


"Sam, kamu gak papa?" tanya Hana seraya memegang lengan Samuel sebentar.


"Gak papa," jawab Samuel sambil tersenyum.


"Kata-kataku ada yang salah tadi?" tanya Hana lagi.


Samuel diam kembali, lalu memilih menepikan mobilnya. Hana pun merasa deg-degan karena Samuel tiba-tiba saja menghentikan mobil dipinggir jalan.


Pikiran Hana melayang kemana-mana. Takut kalau kejadian dulu terulang.


"Sam, kenapa kita berhenti di sini?" tanya Hana sambil memegang kuat baju seragamnya. Jantungnya berdebar tak karuan.


Samuel belum menjawab pertanyaan dari Hana. Dan tiba-tiba saja ia memegang tangan Hana seraya menatapnya dengan lekat.


Jantung Hana semakin berdebar kencang. Ia teringat sesuatu buruk yang menimpa dirinya.


"Sam, kamu mau ngapain?" tanya Hana mencoba melepaskan tangan dari genggaman tangan Samuel.


Samuel masih terdiam sementara keringat Hana sudah bercucuran. Dadanya naik turun menahan takut.


Samuel yang melihat ekspresi Hana, tiba-tiba menjadi khawatir. Samuel memegang kening Hana, "kamu gak papa, Han?" tanya Samuel.


"Ada apa?" tanya Samuel panik.


Hana lalu menepis tangan Samuel dengan kasar. Samuel cukup kaget dengan sikap Hana barusan.


"Tenang, Hana. Samuel gak mungkin nglakuin hal seperti dulu. Dia sudah berubah," batin Hana dengan nafas yang masih tersengal.


"Tarik nafas dulu lalu buang, ayo tarik nafas lagi lalu buang," ucap Samuel sambil memperagakannya di depan Hana.


Hana yang tersugesti pun akhirnya melakukan hal yang diperintahkan Samuel.


"Ayo lakukan lagi biar kamu merasa enak," ucap Samuel.


"Fiuhhh,"


"Gimana? Udah merasa enak belum?" tanya Samuel seraya memegang kedua pundak Hana.

__ADS_1


Hana mengangguk dengan pelan.


"Aku gak tau kenapa kamu tiba-tiba seperti ini. Apa aku buat kamu takut, Han?" tanya Samuel.


Hana masih belum bisa menjawab, ia merasa lega karena Samuel tidak melakukan hal yang buruk. Hana semakin yakin kalau Samuel memang sudah berubah.


"Aku minta maaf kalo aku buat kamu takut. Aku berhenti di sini karena aku pengin tanya sesuatu sama kamu. Ini berkaitan dengan kalimat yang kamu bilang dosa itu. Apa ... aku pernah berbuat dosa juga sama kamu, Han?" tanya Samuel seraya menatap kedua mata Hana.


Hana menelan ludahnya sendiri. Ia bingung, haruskah ia jujur atau berbohong.


"Please jawab jujur, Han." Ucap Samuel seraya memegang kedua pundak Hana dengan kuat.


"Aku pengin tau jawaban kamu, Han. Please ungkapin seluruh unek-unek kamu sama aku. Tiba-tiba saja aku merasa bersalah sama kamu. Dan aku gak tau kenapa!" Ucap Samuel dengan jujur. Sebenarnya dia memang ingin mengatakan hal itu, dan ia juga berniat ingin memberitahu Hana jika dirinya tidak amnesia.


Samuel ingin menjadi dirinya sendiri. Tak perlu berpura-pura menjadi orang baik untuk mencintai Hana. Toh mau dia pura-pura atau tidak, semuanya tidak akan bisa merubah kenyataan bahwa Hana sudah punya pacar.


Dari arah yang sama, sebuah moge berhenti di samping mobil Samuel. Dengan beringas turun dari motor, lalu membuka pintu depan mobil Samuel, dan langsung menarik tubuh Samuel keluar dengan kasar. Lalu menghajarnya dengan brutal.


"Mau kamu apakan, Hana! Brengsek!"


Hana segera turun dari dalam mobil dan melerai perkelahian itu.


"Raja stop, Raja! Raja!" Hana menarik tangan Raja dengan sekuat tenaga.


"Kamu sudah apakan, Hana?! Brengsek!" Umpat Raja dengan sarkas.


Samuel menyunggingkan senyum. Ia nampak pasrah menerima pukulan demi pukulan yang dilayangkan oleh Raja.


"Raja hentikan!" Seru Hana.


Raja kini melepaskan Samuel dan berganti mengecek setiap jengkal tubuh Hana. Wajahnya begitu khawatir.


"Kamu gak papa kan, gak ada yang luka?"


Hana menggeleng perlahan seraya memperhatikan raut wajah Raja yang begitu khawatir.


Reflek, Raja memeluk Hana dengan erat. "Syukurlah, aku khawatir banget sama kamu, Han!" ucap Raja.


Hana membulat ketika Raja memeluknya. Ada rasa tenang dalam hati Hana. Namun, Hana segera tersadar dan melepaskan pelukan Raja.

__ADS_1


Sementara Samuel memandangnya dengan tidak suka dan menyunggingkan senyum. "Cih, rupanya kamu juga suka sama, Hana." Batin Samuel dalam hatinya.


"Aku gak papa kok." Ucap Hana.


__ADS_2