
"Memang terdengar konyol, Bang! Tapi gak seburuk yang kamu pikirin," jawab Hasan sambil memainkan kuku.
"Eh, kayaknya istrimu lebih dari Madona, nih. Kamu udah suka sama istrimu? Cepet banget!"
"Sok tau!" jawab Hasan kesal namun ia tak menampik, bayangan wajah Hana terus ada dipikirannya.
"Udah bisa ditebak, pasti kamu suka sama istrimu. Orangnya seperti apa, Le? Pasti lebih cantik dari Madona, ya?"
"Em, aku gak tau karena cantik itu adalah bonus. Tapi, kalo kamu ada diposisi aku sekarang, kamu gak akan nyesel, Bang!" terang Hasan sambil tersenyum.
"Hem, aku jadi penasaran. Boleh minta fotonya gak?"
"Ogah banget. Ntar kamu naksir lagi! Kalo kamu pengin tau, pulang ke indo dong kenalan sendiri,"
"Yah, pengin banget sih. Pengin lihat adik ipar aku hihihi. Tapi nanti aja kalo hasil ujian udah turun biar aku tenang,"
"Terserah kamu aja deh, Bang! Eh aku mau tanya sesuatu dong!"
"Tanya apa?"
"Cewek yang kamu suka saat masih sekolah, apa hal itu yang mendasari kamu untuk tidak ikut tradisi ini? Kamu masih menunggu gadis itu?"
"Eh, tau darimana soal cewek yang aku suka? Koq sok tau banget kamu!"
"Aku nebak aja! Tapi bener kan? Kamu dulu pernah suka sama cewek. Harusnya kamu lulus SMP langsung nikah loh,"
Kakak Hasan terdiam sejenak. Ia tersenyum sambil membayangkan wajah gadis yang ia sukai dulu.
"Aku emang pernah suka sama cewek. Tapi itu udah masa lalu. Mungkin sekarang cewek yang aku suka itu udah berubah. Dan bisa jadi udah punya pacar!"
"Wah, jadi bener kamu pernah naksir sama cewek? Ciri-cirinya seperti apa, Bang? Siapa tau dia masih suka sama kamu, Bang! Aku mau bantuin kamu nyari tuh cewek. Dia tinggal di sini juga kan?"
"Ahh, gak perlu. Kamu mendingan fokus buat sekolah, dan belajar ngurus rumah tangga kamu aja. Aku do'ain semoga rumah tangga kamu adem ayem,"
"Amin, makasih do'anya, Bang! Tapi serius, aku mau bantuin kamu buat nyari tuh cewek. Siapa tau pas kamu kesini, ketemu sama dia, bisa jadi CLBK,"
"Hahaha! Kamu serius pengin nyari tuh cewek?"
"Serius lah, Bang! Aku juga penasaran kali pengin tau seperti apa cewek yang udah mencuri hatimu. Sampai-sampai kamu gak mau nerusin tradisi ini,"
"Oke oke, boleh juga! Ciri-ciri cewek yang aku suka, dia baik, cantik, pinter, manis kalo tersenyum, imut kalo cemberut. Bodynya juga bagus. Bagus banget,"
__ADS_1
"Gila! Kamu merhatiin bodynya juga? Mesum yah kamu, Bang!"
"Ah, nggak juga. Tapi emang terlihat bagus, Le! Siapaun yang liat pasti bilang begitu. Pokoknya dia itu ideal banget menurut aku. Dia selalu baik biarpun selalu dijahatin. Dia beda gak kayak cewek lain. Aku kadang gemes kalo lihat dia lagi dijailin sama temennya tapi pasrah aja. Sampai-sampai aku turun tangan waktu itu buat nyelametin dia. Eh dianya cuman bilang gak papa. Gemessshh banget gak sih, kalo kamu jadi aku waktu itu. Terus, dia itu gak mudah jatuh cinta sama cowok biarpun dia deket sama banyak cowok. Lebih ke ... mungkin dia gak mau pacaran. Aku pernah nembak dia tapi ...."
"Tapi kamu ditolak?"
"Asem! Aku bukanya ditolak, Le. Dia sebenernya juga sama aku. Tapi dia gak mau pacaran, jadi ... Ya gitu deh,"
"Aduh, sedih aku dengernya. Tapi ngomong-ngomong, ciri-ciri cewek yang kamu sebutin itu ... Koq sama kaya istriku ya, Bang!"
Hasan mengungkapkan perasaannya. Saat Kakaknya mulai menyebutkan ciri wanita yang disukainya, Hasan sudah menebak mungkin itu Hana. Tapi itu hanya perkiraannya saja. Bisa jadi tebakannya salah.
"Serius kamu!"
"Haha! Mungkin cuman mirip aja ciri-cirinya. Kayaknya selera kita itu sama deh, Bang!" ucap Hasan yang tanpa sadari ia benar menyukai apa yang ada pada diri Hana.
"Selera boleh sama, tapi pasti cewek yang kita suka berbeda lah,"
"Harus dong! Masa iya kita suka sama satu cewek, gawat urusan ntar! Oh iya, kamu ada kasih sesuatu gitu sama tuh cewek?"
"Ih kamu kepo banget deh. Pasti ada orang yang udah ngasih tau kamu soal ini ... Udah dulu ya, aku ada tamu nih, kapan-kapan disambung lagi ... Cepet sembuh yah, salam buat istrimu,"
Tut tut tut tut.
"Yah dimatiin. Tapi ciri-ciri yang dibilang Miki, persis kaya Hana. Menurut aku, Hana juga gitu ... Ah, mungkin sama aja kali. Oh iya kenapa tadi aku gak nanya namanya, bego!"
Hasan memukul kepalanya sendiri yang sedang pusing.
"Aww... Sakit!" umpat Hasan pada dirinya sendiri sambil mengusap kepalanya.
Hasan melempar hapenya begitu saja. Ia kemudian ngglosor dan menarik selimut kembali untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Sementara Hana sibuk masak dan membersihkan rumah. Membersihkan rumah membuat waktu berjalan tidak terasa. Hana mengambil handuk dan segera membersihkan badan.
Kini aroma tubuhnya sudah sangat wangi. Ia mengenakan piyama berwarna ping yang pernah dibelikan Hasan waktu pertama kali ia kesini.
Hana membawa bubur ayam buatannya sendiri serta tak lupa segelas air hangat.
"Semoga, Hasan suka sama bubur buatan aku," Hana menghela nafas kemudian berjalan ke kamar Hasan.
Tok tok tok!
__ADS_1
"San, udah waktunya makan buat minum obat lagi nih ... Aku masuk yah," ucap Hana.
Tanpa menunggu jawaban dari Hasan, Hana masuk begitu saja.
Hasan masih terbungkus selimut. Hana tersenyum kemudian meletakan nampan berisi makanan itu di atas meja.
"San, bangun! Waktunya makan lagi. San, San!" Hana menggoyangkan tubuh Hasan perlahan.
Hasan membuka selimutnya perlahan. Matanya tampak silau terkena pantulan sinar lampu. Tubuhnya sudah basah karena keringat yang keluar dari tubuhnya.
"Ya ampun, keringat kamu banyak banget, udah mendingan pasti! Iya kan?" tanya Hana sambil mengelap keringat Hasan dengan tangan telanjangnya.
Hana tidak merasa jijik sedikitpun dengan keringat yang membasahi wajah Hasan.
Hasan menarik tubuhnya dan bersandar.
"Koq cepet banget harus makan lagi sih! Aku kan baru aja makan!" ucap Hasan dengan wajah lesu.
Hana tersenyum melihat wajah Hasan yang kucel dan pucat. Hana mencubit hidung Hasan yang berkeringat itu.
"Waktu memang berjalan cepat, San! Kamu dari tadi tidur jadi gak tau kalo sekarang udah malem, udah enakan kan sekarang?" tanya Hana sambil tersenyum.
"Udah, aku gak usah minum obat lagi yah! Aku gak mau makan!" ucap Hasan memohon.
"Sakit gak sakit, kamu harus tetep makan, San! Inget, kita lagi ulangan loh!" jawab Hana memperingatkan.
Hasan mendengus kesal. Ia pasrah saja, ini semua demi kesembuhannya.
"Mau makan sendiri apa aku suapin nih?"
"Makan sendiri aja," jawab Hasan masih lemas.
"Okee!" jawab Hana diiringi senyuman.
Hana mengambilkan mangkok berisi bubur tersebut dan menyerahkannya kepada Hasan. Hana terus memperhatikan Hasan. Ia bahagia karena kali ini tidak ada perdebatan masalah makan.
"Diabisin yah!" ucap Hana masih tersenyum.
"Iya, bawel!"
"Orang sakit emang kudu dibawelin, San, biar mau makan. Kan ini demi kesembuhan kamu juga,"
__ADS_1