
"Eh, Neng Hana. Udah lama banget gak naik angkot, Neng! Kenapa?" tanya sopir.
"Gak papa, Pak!" jawab Hana sembari tersenyum.
Angkot kemudian mulai melaju dengan kecepatan sedang. Pak sopir beberapa kali melihat spion.
"Cowok di belakang yang naik motor ninja warna merah itu ... Dia pacar Neng Hana, ya?" tanya Sopir lagi.
Hana kemudian menengok ke arah spion. Dan benar saja. Raja mengikutinya dari belakang.
Hana menghela nafas panjang.
"Dasar keras kepala! Aku pikir dia cuman main-main aja sama ucapannya. Ternyata beneran!" ucap Hana dalam hatinya.
"Koq diem, Neng! Pacarnya bukan?" tanya Sopir lagi.
"Bukan, Pak. Dia temen saya!" jawab Hana kesal.
"Temen apa temen nih! Lagi berantem ya?"
"Ih, bapak kepo banget sih!" ucap Hana sambil melirik sopir dengan sinis.
"Hehehe, maaf Neng, bapak kangen ngledekin Neng Hana. Abisnya udah lama banget gak naik angkot. Udah bosen apa gimana?"
"Gak bosen, Pak! Cuman sekarang, saya lebih sering diantar jemput aja!" jawab Hana.
"Oh gitu," ucap Sopir sambil manggut-manggut.
Hana melihat ke spion kembali untuk memastikan keberadaan Raja. Hasilnya, masih sama. Raja menguntit Hana dengan sabar. Padahal laju angkot itu biasa.
"Bener-bener nekat tuh orang! Kenapa sih, dia ngebet banget pengin nganteri aku pulang? Apa, Raja suka sama aku ya! Hihihi," Hana berkata dalam hatinya sambil menutup mulutnya yang menahan senyuman.
Setalah tiga puluh menit berlalu, Hana akhirnya turun di depan gang komplek perumahan Century. Hana tersenyum sambil menyerahkan uang kepada sopir. Sopir tersebut tersenyum dan kemudian meneruskan perjalanannya.
Raja berhenti tepat di depan Hana, setelah kepergian angkot warna ping tersebut.
Raja mencopot helmnya. Ia merapihkan rambutnya sebentar, wajahnya menunjukan ekspresi keheranan.
"Han, koq kamu naik angkot warna ping sih? Terus, kamu berhenti di sini! Kamu sebenernya mau kemana?" tanya Raja bingung.
"Aku tinggal di sini, Ja! Jadi aku naik angkot warna ping," jawab Hana sambil memainkan kakinya.
"Hah! Rumah kamu di sini? Terus, tadi pagi kenapa kamu dari arah ...."
__ADS_1
"Oh itu, kemaren sebenernya aku nginep di tempat sepupu, Ja!" ucap Hana diringi tawa dan menggaruk tengkuknya.
"Oh gitu. Jadi yang sekarang ini beneran rumah kamu?"
"Iya karena kamu sudah tau rumah aku, sebaiknya kamu pulang aja sekarang!"
"Mana rumah kamu? Ini kan baru aja di depan kompleks. Pokoknya aku harus anterin kamu sampai di depan rumah, titik!"
"Ihhhh, kamu keras kepala banget sih, Ja! Gemeshh rasanya pengin jambak rambut kamu," jawab Hana geregetan dengan tangan diangkat membentuk cakaran.
Raja hanya tersenyum melihat ekspresi Hana yang menggemaskan baginya, bila sedang marah.
"Rumah aku itu jauh masuknya. Mendingan kamu pulang sekarang. Ntar jauh loh puter baliknya," kata Hana berharap Raja mau mendengarnya.
"Gak papa lah, aku suka keliling-keliling koq. Kalo rumah kamu masih jauh, mendingan aku antar masuknya, biar kamu gak cape," ucap Raja sambil tersenyum.
Hana semakin kesal dengan jawaban Raja. Sepertinya, alasan apapun tidak akan mampu menggoyahkan niat Raja. Hana mengatur nafasnya agar ia merasa lebih baik dalam menghadapi Raja.
"Kamu sebenarnya punya maksud apa sih, Ja! Ngikutin aku sampai sini!" tanya Hana lagi.
"Maksud aku ya karena pengin tau rumah kamu aja. Kalo udah tau kan aku jadi enak. Mau main sewaktu-waktu tinggal dateng aja," jawab Raja enteng sambil memainkan alisnya naik turun.
"Gak sopan kalo gitu. Kalo mau main harus ijin dulu!" ucap Hana cemberut.
Hana menepis tangan Raja. Wajahnya tambah cemberut. Raja malah bertopang dagu di atas helmnya sambil memandang wajah Hana yang terlihat imut bagi dirinya.
"Percuma kalo kamu mau nyuruh aku puter balik, Han! Aku sudah sampai sejauh ini, aku gak akan pulang gitu aja, sebelum tau rumah kamu,"
"Ternyata kamu itu orangnya ngeselin banget ya, Ja! Keras kepala, ngotot banget kalo ada maunya,"
"Ah, nggak juga koq. Kalo kamu mau jalan, juga silahkan. Ntar aku susul dari belakang," ucap Raja dengan santai.
Hana merasa frustasi dengan sikap Raja. Ia kemudian mengalah dan terpaksa naik di jok belakang motor Raja dengan duduk menyamping.
Raja tersenyum penuh kemenangan. Raja melingkarkan helmnya di lengan. Ia kemudian menyalakan motornya kembali dan mulai masuk ke dalam kompleks.
Raja memperhatikan wajah Hana yang tertiup angin dari kaca spion. Raja terus mengembangkan senyum di bibirnya.
"Eh, mukanya jangan ditekuk gitu dong! Cantiknya ilang loh!"
"Gak lucu!" jawab Hana ketus.
"Emang gak lucu kan? Aku aja gak ketawa koq. Eh ngomong-ngomong, yang mana nih rumah kamu!" tanya Raja sambil melihat memperhatikan rumah yang berderet di sebelah kanan.
__ADS_1
"Tuh depan! Blok H nomer tiga," jawab Hana.
"Oh, Oke kita segera meluncur ke sana," jawab Raja.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Hana. Hana turun dari jok motor Raja dan merapihkan penampilannya sebentar.
Raja mengeluarkan ponselnya kembali dan membuka kamera. Ia memfoto Hana dengan background rumah Hana sendiri.
"Oke, aku foto dulu," ucap Raja cepat.
Cekrek!
"Raja! Kamu foto lagi? Tanpa ijin aku lagi, gak sopan!" ucap Hana ketus.
" Udah koq tadi. Tapi kamu jawabnya kelamaan. Eh, makasih yah udah mau dianterin, dan nunjukin rumah kamu," kata Raja kemudian memasukan ponselnya kembali ke dalam saku.
"Mau masuk ke dalem?" tanya Hana dengan nada tinggi dan ekspresi yang tidak ramah.
"Hehehe, nggak usah, nggak usah! Kapan-kapan aja!" jawab Raja yang mengetahui Hana marah.
"Eh, tapi nomor hape boleh juga, Han! Kalo mau ngasih!" ledek Raja kembali.
"Kamu nglunjak yah lama-lama!" ucap Hana dengan berang.
Hana melirik ke jendela rumahnya yang bisa dengan jelas melihat ke arah jalan depan rumahnya. Hana terbelalak ketika mengetahui Mamahnya tengah mengintip.
Tanpa basa-basi lagi, Hana kemudian berjalan ke arah pagar rumahnya. Raja kembali memanggil namanya.
"Hana!" seru Raja sebelum Hana benar-benar masuk ke dalam rumah.
Hana berbalik dan melihat Raja. "Apa lagi? Udah buruan sana pulang. Makasih juga buat tadi pagi, aku masuk dulu,"
Hana bergegas meninggalkan Raja. Raja tersenyum penuh kemenangan dan kebahagiaan. Ia kemudian pergi dari depan rumah Hana.
Hana merasa deg-degan. Begitu ia membuka pintu, Mamahnya pasti akan langsung menginterogasinya.
Hana berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Ia kemudian memegang gagang pintu dan membukanya.
"Assalamu'alaikum," Hana mengucapkan salam dan langsung mencium tangan Mamahnya yang kebetulan sudah berdiri di depannya.
"Wa'alaikumsalam. Siapa cowok itu, Ceri!" tanya Mamahnya dengan sorot mata tajam.
Hana sudah menduga akan hal itu. Hana tersenyum. "Mah, Hana mau ...."
__ADS_1
"Siapa cowok tadi! Kenapa bukan Leo yang anterin kamu kesini?" tanya Bu Darma mencerca anaknya.