Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
70. Shock!


__ADS_3

Miki kini sudah berada di belakang persis Hana, tanganya diangkat dengan gemetar. Ingin rasanya ia memeluk tubuh itu.


Tanpa sengaja, air matanya menetes dan refleks ia memeluk Hana dengan erat dari belakang.


Hana yang tengah tengah mengaduk aduk masakan pun ikut kaget karena tiba-tiba ada orang yang memeluknya dengan erat.


Miki menangis sesenggukan.


"Hasan? Kamu ngapain sih?" ucap Hana yang mengira bahwa itu adalah Hasan.


Hasan diam terpaku diambang pintu dapur melihat pemandangan tersebut. Dadanya teramat sesak menyaksikan istrinya di peluk oleh orang lain. Bukan orang lain lagi, melainkan kakak kandungnya sendiri.


Tanpa sengaja, Hasan menjatuhkan kantong belanjaannya hingga buahnya berceceran.


Miki dan Hana sama-sama tidak menyadari kehadiran Hasan.


Hana yang merasa risih kemudian memutar tubuhnya. Alangkah terkejutnya Hana saat mendapati wajah yang lima tahun silam mengisi hatinya dalam kediaman, kini berdiri di hadapannya.


Hana membulatkan matanya menatap Miki, dengan air mata yang menetes tanpa henti menatap dirinya. Kini tangisan Miki, mengeluarkan suara. Ia sangat senang bisa bertemu lagi dengan Hana, namun, ia juga sangat sedih karena mengetahui bahwa gadis yang tengah berdiri di hadapannya ini adalah istri adiknya.


Hana mematikan kompornya dengan cepat lalu ia kembali menatap Miki yang masih menangis.


"Kakak!" ucap Hana dengan nada gemetar.


Miki kemudian kembali memeluk Hana dengan erat. Ia menangis penuh penyesalan. Suaranya mendayu membuat siapa saja trenyuh.


Hasan kini menyadari, wanita yang dicintai dan ditunggu oleh abangnya adalah istrinya sendiri. Hasan mengepalkan kedua tangannya. Tak tahan dengan pemandangan tersebut, ia kemudian berlari menjauh dari rumahnya.


Perasaannya hancur. Hatinya teramat sakit menyaksikan kejadian itu.


"Kenapa sesakit ini ya Alloh, apa aku benar-benar suka sama, Hana? Dia istriku, ya Robb," ucap Hasan dalam hatinya.

__ADS_1


Hasan terus berjalan tanpa henti, sapaan Wawan yang tengah mencuci mobil saja tidak ia hiraukan.


"Koq balik lagi, San! Ada yang ketinggalan?" tanya Wawan, namun diabaikan oleh Hasan.


"Ada apa sama, Hasan. Koq mukanya merah kayak marah gitu," batin Wawan.


Hana melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah yang basah dipenuhi air mata, dan mata merah sebab terus saja menangis. Hana senang karena bisa bertemu kembali dengan Miki, tapi ia tak dapat menangis seperti Miki. Hana mengusap air mata Miki.


"Udah, jangan nangis, Kak!" ucap Hana seraya tersenyum.


"Ha-ha-hana, Hana ...." ucap Miki terbata.


Miki lagi-lagi memeluk Hana kembali.


"Aku gak nyangka bisa ketemu sama kamu lagi. Tapi aku lebih kaget lagi saat tau, kamu istrinya Leo. Aku benar-benar terpukul dengan kenyataan ini, Han!"


"Ka-kamu, kamu kakaknya Hasan?" tanya Hana tidak percaya.


Miki kembali menangis. Bagaimana mungkin dia tidak menangis, gadis itu cinta pertamanya yang rencananya akan ia perjuangkan jika dia kembali, dan sukses. Tapi kenyataannya takdir berbicara lain.


Miki harus menerima kenyataan pahit ini. Dia tidak mungkin meminta adiknya sendiri untuk mengembalikan cinta pertamanya kepadanya. Dengan waktu yang sudah berjalan, Miki sendiri tidak yakin jika Hana, masih menyimpan perasaan yang sama terhadapnya.


"Jangan menyesali perbuatan yang sudah lama berlalu, Kak! Pilihanmu sudah benar. Kamu tidak memilih tradisi ini demi sekolah dan impianmu untuk masa depan," ucap Hana sambil melepaskan pelukan Miki.


"Aku berkarir demi kamu, Han! Tapi, kamu sudah jadi milik orang lain. Bagaimana aku bisa menikmati hidupku selanjutnya tanpa dirimu. Aku niat pulang kesini, selain untuk menemui keluargaku, aku juga punya niat untuk mencarimu. Aku ingin merajut kasih yang sudah lama terpendam dan tertahan diantara kita berdua. Tapi, kenyataan ini telah menamparku begitu keras. Kamu sudah dimiliki orang lain. Orang lain itu adalah adikku,"


Hana tersenyum mendengar penuturan Miki. Ia juga tidak tau harus bicara apa. Miki menghilang selama lima tahun tanpa kabar. Pertemuannya dengan Hasan, membuat ia lupa kehilangan Miki. Perasaannya kini sudah berbeda.


"Kak, jodoh, maut, rezeki, sudah ada yang atur. Jika aku ini sudah bersama orang lain, itu artinya aku bukan jodohmu,"


"Apa kamu benar-benar mencintai Leo, Han? Kamu udah nglupain aku gitu aja?" tanya Miki dengan wajah serius.

__ADS_1


"Cinta, cinta bisa tumbuh kapan saja, Kak! Hubunganku dan Hasan, baik-baik saja sampai detik ini. Aku, aku mana mungkin melupakanmu. Kamu juga bagian dari hidup aku, kamu pernah mengisi hatiku juga," ucap Hana sambil tersenyum.


"Jadi, kamu benar-benar melupakanku, Han? Yah, aku bisa mengerti, tidak mudah menjalin hubungan dalam kediaman. Apalagi tanpa kabar sedikitpun," ucap Miki menyunggingkan senyuman.


Hana menghela nafas panjang. Hubungannya dulu terlalu rumit. Mencintai dalam diam itu sungguh membuat kepalanya mau pecah. Meski mempunyai perasaan yang sama, tapi hubungan mereka tidak pernah mereka nikmati dengan tenang. Apalagi, mamahnya melarang ia untuk pacaran dengan siapapun.


"Yah, hubungan kita dulu tidak jelas, Kak!"


"Kamu yang membuatnya tidak jelas, Han! Kalo kamu bisa berterus terang dengan orang tuamu, hubungan kita pasti ...."


"Sudahlah, Kak! Kamu harus terima kenyataan ini. Banyak wanita diluaran sana yang lebih baik dari diriku. Kamu jangan membuang waktumu sia-sia hanya untuk diriku. Kamu harus meneruskan hidupmu sendiri. Masa lalu, biarlah menjadi masa lalu. Kita buka lembaran baru mulai sekarang. Jangan pernah ungkit masa lalu lagi. Aku tidak mau, Hasan mengetahui hal ini. Aku sudah berjanji untuk tidak menyakiti hatinya,"


Miki menghela nafas. Ada rasa yang sangat sakit begitu sakit, ketika Hana mengucapkan kalimat itu. Miki mengerti, Hana sudah membuka hati untuk Hasan, tidak mungkin ada ruang lagi untuk dirinya dalam hati Hana.


Harusnya, Miki tidak pernah pergi meninggalkan Hana. Miki telah membuat keputusan yang salah kala itu.


"Hasan adikmu, dan aku istrinya. Itu artinya, aku adikmu juga. Anggaplah aku seperti Hasan. Kamu bisa menyayangi dan mencintaiku seperti adikmu sendiri, Kak. Dan jangan pernah libatkan perasaanmu lagi. Kamu ingin melihat adik-adikmu bahagia kan?" tanya Hana sambil memegang kedua tangan Miki.


Dengan berat, Miki menganggukan kepalanya dan tersenyum. Meskipun sakit, ia harus menerima kenyataan ini secara perlahan.


"Tentu saja aku ingin kamu bahagia. Kalo kamu sudah bahagia dengan Leo, aku akan berusaha melupakanmu Han. Aku akan mengubur perasaanku dalam-dalam, kalo itu yang kamu mau,"


"Tanpa membenciku!" ucap Hana penuh penekanan.


Mereka saling menatap dengan ketajaman.


"Kamu tidak membenciku karena hal ini? Aku ingin hati yang lega, aku tidak mau membuat orang lain sakit hati karena diriku, Kak! Kamu ikhlas dengan permintaanku?" tanya Hana lagi.


"Tidak mudah untuk melupakan orang yang kita cintai begitu saja, Han. Tapi aku ikhlas melepasmu. Aku tidak membencimu. Tapi, aku benci dengan perasaanku yang menggunung terhadapmu. Bodohnya aku, memperjuangkan cinta yang pada akhirnya bertepuk sebelah tangan,"


"Kak! Aku mohon, lupakan aku tanpa ada rasa benci dan dendam. Kita bisa menjadi teman yang baik. Mulai detik ini, kita hanya berteman, jangan pernah ungkit lagi masa lalu dan biarlah menjadi kenangan," ucap Hana sambil menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Dengan berat hati, Miki menyetujui permintaan Hana. Dia tidak yakin akan hal itu. Tapi, menurut adalah hal yang tepat untuk saat ini.


__ADS_2