Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
76. Kepergok


__ADS_3

Mata Hasan masih terasa lengket. Ia kemudian menurunkan kepalanya di atas pangkuan Hana. Hana kaget dengan sikap Hasan. Dari kemarin, sikapnya begitu manja.


"Elusin rambut aku dong!" perintah Hasan dengan mata terpejam.


Hana yang merasa bingung menurut saja. Ia mengelus rambut Hasan dengan pelan.


Hana memandangi wajah Hasan yang terlihat begitu manis dan menggemaskan. Diam-diam, Hana tersenyum sendiri. Ada perasaan senang di sudut hatinya.


"Perban kamu harus di buka. Lukanya udah kering belum, coba aku lihat," ucap Hana masih membelai rambut Hasan.


Hasan merasakan kenyamanan saat Hana membelai rambutnya dengan lembut.


"Nanti aja!"


"Pagarnya udah kamu benerin belum? Koq sensornya gak berfungsi sih!"


"Ya iyalah, orang aku matiin sensornya,"


"Oh, pantesan, kemarin Miki, eh maksud aku, Kakak udah di dalem aja. Aku kan jadi bingung," ucap Hana.


Hasan membuka matanya, kemudian duduk kembali. Hana membenarkan posisi duduknya.


"Apa sebelumnya, kamu udah kenal sama Abang, Han?" tanya Hasan menatap kedua mata Hana.


Hana mendadak ngeblang. Dia mengedipkan kedua matanya bolak balik, apakah dia harus bohong kembali, atau jujur saja.


"Apa, apa aku terlihat akrab dengan Abang? Kenapa kamu bisa bilang begitu," kata Hana sambil tersenyum.


Hasan menyunggingkan senyum. "Kamu masih mau pura-pura? Okey," ucap Hasan dalam hatinya.


"Enggak sih. Kamu udah masak apa?" tanya Hasan diiringi senyuman.


"Masak sayur asem, goreng ikan sama sambel trasi. Tadi goreng kerupuk juga,"


"Oke, kalo gitu tunggu aku selesai mandi, kita sarapan bareng," jawab Hasan sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Eh San, Papah bilang, mamah lagi otw kesini. Sarapannya nunggu mamah aja gimana?"


"Mamah kesini? Koq tumben pagi banget," ucap Hasan duduk kembali.


"Aku gak tau. Kata Papah, Mamah lagi marah. Harusnya hari ini Mamah datang di grand opening produk barunya Papah. Tapi, mamah lebih memilih kesini,"


"Oh gitu,"


"Papah minta tolong untuk menggali informasi dari Mamah. Papah bilang, akhir-akhir ini Mamah selalu marah-marah,"


"Iya, kamu tenang aja. Ntar aku coba bantu," jawab Hasan sambil mencubit dagu Hana dan tersenyum.


Hasan kemudian bergegas untuk mandi. Sementara Hana masih merasa jika sikap Hasan berbeda semenjak kedatangan Miki. Hasan lebih berani menyentuh Hana sekarang. Tapi, Hana menyukai perlakuan dan permintaan Hasan yang baginya manis itu.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Hasan meminta Hana untuk mengeringkan rambutnya seperti dulu. Seperti anak kecil, Hasan menarik-narik tangan Hana agar bergegas mengambil hairdryer.


"Buruan, Han! Dingin nih," ucap Hasan kemudian duduk di bangku depan meja rias Hana.


"Sabar dong! Biasanya juga pake handuk kamu," jawab Hana sambil mengulue kabel dan menancapkannya ke dalam stop kontak.


"Kata kamu lebih cepet pake hairdryer. Jadi, buat apa susah-susah gebeg pake handuk. Udah buruan, takut mamah keburu datang," ucap Hasan sambil mengibaskan rambutnya.


Percikan air dari rambut Hasan, muncrat kemana-mana. Hana memejamkan matanya saat air itu mengenai matanya.


Hana kemudian memegang kepala Hasan agar ia diam tidak menggelengkan kepala lagi.


Bunyi hairdryer terdengar jelas di telinga mereka. Hasan menikmatinya. Rasanya memang seperti di salon.


Hana memandangi wajah Hasan. Senyuman mengembang di bibir Hasan. Matanya terpejam menikmati belaian tangan Hana yang menyentuh rambutnya dengan lihai.


"Kamu buka salon di rumah aja, Han! Tapi, pelanggannya cukup aku saja!" ucap Hasan sambil tersenyum.


"Percuma dong, gak dapet duit!" jawab Hana sambil tersenyum.


"Kamu gak butuh uang dari orang lain. Dari aku aja udah cukup. Kamu hanya perlu melayaniku saja," ucap Hasan.


Hana tersenyum mendengar kalimat Hasan. Entah kenapa, kalimatnya membuat Hana merasa bahwa Hasan terkesan protektif kepadanya.


"Kamu suka ya sama aku," kata Hana tiba-tiba, membuat Hasan membuka matanya dan memandang Hana dari cermin.


"Beneran suka sama aku?" tanya Hana lagi.


"Mau aku suka sama kamu atau tidak, kenyataannya kamu kan udah jadi istri aku. Sebagai seorang istri, kamu hanya perlu melayani suamimu saja," jawab Hasan.


Hana hanya tersenyum mendengar kalimat Hasan.


"Kenapa malah senyum, aku kan ngasih tau kamu," ujar Hasan lagi.


"Iya, aku tau. Tapi, kalo aku pergi sama cowok lain, kamu gak marah kan?" tanya Hana menggoda Hasan.


"Kamu ada niat buat pergi sama cowok lain? Siapa? Raja? Abang?" tanya Hasan kemudian berbalik menghadap Hana.


Hana terbelalak dan menggigit bibir bawahnya. Ia menahan senyum lalu mencabut haridryer dari stop kontak.


"Kamu cemburu yah?" tanya Hana lagi.


"A-a-aku, aku itu nanya," jawab Hasan gugup tergagap.


"Aku juga nanya. Kamu cemburu?" tanya Hana sambil mendekatkan wajahnya.


Hana sengaja menggoda Hasan. Ia menatap lekat kedua mata Hasan yang kini tengah memandangnya dengan kaku.


Melihat wajah Hana dari jarak yang sangat dekat, membuat Hasan menelan ludahnya sendiri. Terlebih ketika matanya melihat bibir pink ranum milik Hana itu.

__ADS_1


Jantung Hasan berdegup kencang, ia sampai takut kalo Hana mendengar detaknya. Hasan mencoba untuk tetap tenang. Ia kemudian dengan berani menarik kepala Hana agar jaraknya semakin dekat.


"Kamu mencoba menggodaku yah?" tanya Hasan sambil menekan kepala Hana.


Hana kaget, kini gantian jantungnya yang berdegup kencang. Hana berusaha untuk melepaskan tangan Hasan dari kepalanya.


Untungnya, tubuh mereka terhalang sandaran kursi. Jika tidak, mungkin tubuh Hana akan menimpa tubuh Hasan. Hana membungkuk ke depan akibat ditarik oleh tangan Hasan.


Kaosnya yang dikenakan Hana berkerah V, sehingga ketika ia membungkuk belahan dadanya terlihat. Hasan tak sengaja melihat belahan itu. Hatinya semakin berdesir.


"Ceri, Leo!" seru Bu Darma yang diam-diam sudah berdiri di ambang pintu kamar Hana.


Hana dan Hasan sontak kaget dan membenarkan sikapnya. Mereka berdiri dan memandang ke arah sumber suara itu.


"Ma-ma-mamah," ucap Hana.


"Sejak kapan, Mamah di situ?" tanya Hasan sambil tersenyum kemudian merapihkan rambut dan bajunya.


Hasan berjalan dan ke arah Bu Darma dan mencium tangan mertuanya.


Hasan dan Hana merasa canggung dan malu karena terpergok oleh Bu Darma.


Bu Darma tersenyum memandangi kedua anaknya itu.


"Maaf yah, pagarnya terbuka, jadi mamah langsung masuk aja, maaf yah! Mamah gak ganggu kan?" tanya Bu Darma.


"Eng-enggak koq mah, mari kita keluar. Mamah udah sarapan belom? Hana udah masak sayur asem loh," ujar Hasan sambil merangkul lengan Bu Darma dan menitahnya ke meja makan.


Hana merapihkan rambutnya. Ia bercermin sebentar dan menghela nafas.


"Huft, Hasan harus segera menyalakan sensor otomatisnya lagi. Benar-benar memalukan!" ucap Hana kemudian pergi menyusul mamah dan Hasan.


"Mamah koq tumben kesini pagi-pagi, ada apa? Mau ngajak Hana jalan-jalan yah?" tanya Hasan sambil mengambilkan nasi untuk mertuanya.


"Ah, nggak juga. Mamah mau main aja. Kalian gak akan pergi keluar kan hari ini?" tanya Bu Darma sambil tersenyum.


"Nggak koq, kami di rumah aja," jawab Hasan.


Hana yang baru datang langsung ikut duduk dan mulai mengambil nasi.


"Kalian gak ada rencana mau liburan?" tanya Bu Darma seraya mengambil sayur.


"Em, aku rencana mau ngajak Hana muncak, Mah! Boleh kan?" tanya Hasan.


Mendengar kata muncak, Hana terbatuk sesaat.


"Ough, ough, ough,"


"Kamu kenapa, Han? Nih, minum dulu!" ujar Hasan memberikan segelas air minum.

__ADS_1


__ADS_2