
Hana kemudian melepaskan pelukannya. Ia terus menatap wajah Hasan dengan penuh cinta.
"Kamu yang terbaik, San! Makasih yah, udah mau nikah sama aku. Aku bener-bener seneng. Tapi ...." Hana merubah mimik wajahnya.
"Ada apa?"
"Aku gak bisa nyetir mobil. Ngendarai motor aja aku gak bisa. Aku bisanya naik sepeda ontel, San!" ucap Hana manyun.
"Hah! Masa kamu gak bisa sih?"
"Beneran gak bisa aku,"
"Em, mau aku ajarin?"
"Mau banget, San!" jawab Hana sumringah.
"Em ...."
"Kalo aku udah bisa bawa mobil sendiri, kita gak perlu berangkat sekolah bareng lagi. Aku bisa pergi belanja sendiri, aku bisa kemana-mana sendiri intinya. Wah senangnya. Kamu jadi bisa fokus lagi bekerja, San!" ujar Hana dengan penuh semangat.
Mendengar penuturan Hana, Hasan tampak berfikir dengan serius. Ia terdiam seperti membayangkan sesuatu.
"Jadi, liburan sekolah ini kamu bisa ajarin aku nyetir mobil, atau motor, San! Aku udah gak sabar pengin belajar!" ujar Hana.
"Setelah aku pikir-pikir, kayaknya aku gak mau ngajarin kamu deh. Lebih baik kamu gak bisa nyetir aja," ujar Hasan kemudian keluar dari dalam mobil.
Hana kaget mendengar jawaban Hasan, ia membuka pintu mobil dan segera menyusul Hasan yang sudah lebih dulu masuk ke rumah.
Hana berlari kecil dan langsung duduk disamping Hasan yang kini sudah berkutat dengan pekerjaannya lagi.
"Kenapa mendadak berubah pikiran, San! Yang punya ide kan kamu. Aku mau banget koq kamu ajarin. Aku pasti cepet bisa diajarin," Hana tampak merengek.
"Gak mau! Aku tarik ucapanku!" jawab Hasan tanpa berpaling dari laptopnya.
"Kenapa bisa begitu? Kan enak kalo aku bisa nyetir sendiri, San!"
Hasan melirik Hana sekilas, "kalo kamu udah bisa nyetir sendiri, aku jadi gak berguna lagi dong!"
"Gak berguna gimana sih maksud kamu. Kamu ya pasti tetep berguna buat hidup aku, San!"
"Maksud aku, kamu nanti kemana-mana sendiri tanpa aku. Aku gak mau itu. Ntar kamu bisa ketemuan sama orang lain tanpa aku tau, pokoknya aku gak mau kamu belajar nyetir. Kalo mau kemana-mana aku yang akan anterin kamu. Dan kamu gak boleh nolak. Titik, udah diem jangan nanya lagi. Aku mau fokus kerja!" ucap Hasan dengan tatapan tajam.
"Tapi, San ...."
"Udah gak ada tapi-tapian, dan aku gak mau debat sama kamu. Kamu mendingan bikinin aku kopi deh sekarang! Aku mau lembur. Ada lima proyek yang harus aku garap malam ini," ucap Hasan kembali menatap layar laptopnya lagi.
Hana mendengus kesal. Dengan langkah kaki yang malas ia beranjak dari tempat duduknya dan menuju dapur.
"Dasar plin plan!" gumam Hana dengan kesal.
Hana kemudian mengambil cangkir dan mulai menyeduh kopi untuk suaminya itu.
Tak lupa, Hana mengambil cemilan dalam toples dan membawanya bersama secangkir kopi.
"Ini kopinya, Den Bagus!" ucap Hana sambil meletakkan kopi dan cemilan di depan Hasan.
__ADS_1
Hasan mengernyitkan kening ketika mendengar panggilan yang dilontarkan Hana, kepada dirinya.
"Den bagus?" gumam Hasan sambil memandang Hana.
"Aku tinggal yah! Aku mau tidur duluan, ngantuk banget!" ucap Hana berbohong.
"Iya, makasih yah udah mau bikinin kopi," ujar Hasan kemudian menyruput kopinya.
Hana tersenyum dan mengangguk lalu pergi ke kamarnya. Hana mengambil hape dan merebahkan tubuhnya di sofa depan akuarium.
Hana menyalakan layar dihapenya, ternyata ada dua panggilan tak terjawab dari Raja. Ada satu pesan dari Raja yang belum ia buka juga.
"Hay lagi ngapain? Koq telepon aku gak diangkat! Lagi sibuk yah? Liburan mau kemana?" isi pesan dari Raja.
Hana terlihat berpikir sejenak, kemudian ia membalas pesan Raja.
"Liburan di rumah aja. Btw, kamu mau nerusin kuliah dimana?" balas Hana.
"Yah, boring banget. Ikut aku muncak mau gak?" balas Raja.
"Belum tau mau kuliah dimana, tunggu ntar aja," balas Raja lagi.
"Muncak? Kemana? Aku belum pernah muncak, takut kenapa-napa,"
"Tenang, kan ada aku. Kalo belum pernah, mending muncaknya ke pegunungan dulu. Jangan ke gunung," balas Raja.
"Emangnya asyik ya, kalo muncak?"
"Beuuhhhh, seru banget tau. Kamu bisa liat pemandangan lepas di alam bebas. Dengan suasana yang tenang, damai, dan nyaman. Kamu gak bakal nyesel, aku jamin deh,"
"Emang gunung sama pegunungan bedanya apa?"
"Oh gitu, em, ntar aku tanya dulu sama, Mamah. Kalo diijinin boleh lah,"
"Mau aku bantu ijinin gak?"
"Nggak! Nanti yang ada aku gak dibolehin. Harus ada cewek yang nemenin, biar dibolehin akunya,"
"Em, ntar aku cariin deh. Eh besok ada waktu gak?"
"Mau ngapain?"
"Temenin aku ke rumah sakit,"
"Ngapain?"
"Jenguk nenek aku,"
"Emangnya sakit apa?"
"Banyak, komplikasi,"
"Ya ampun! Jam berapa?"
"Besok aku jemput kamu aja yah,"
__ADS_1
"Gak usah, kita ketemu di alun-alun aja,"
Mereka berdua saling balas membalas, hingga pintu kamar Hana di ketuk oleh Hasan.
Tok tok tok.
"Han, udah tidur belum?"
Hana mengalihkan pandangannya ke pintu. Ia kemudian beranjak dan membukakan pintu untuk Hasan.
Ceklek.
"Ada apa?" tanya Hana.
"Ih, koq muka kamu masih seger aja. Katanya tadi tidur,"
"Emangnya kenapa kalo muka aku masih seger? Mau bangun tidur atau nggak, wajah aku kan emang selalu seger, gak kaya kamu, KUCEL!" jawab Hana sewot.
"Cih," gumam Hasan sambil menyunggingkan senyum.
"Eh, bikinin aku mie rebus dong, laper nih," ujar Hasan lagi.
"Emangnya belum kelar kerjanya?"
"Belom, masih tiga lagi,"
"Emang harus malem ini semua ya? Kerjain besok gak bisa? Nanti sakit loh kamu begadang terus," ucap Hana sambil keluar kamar dan menuju dapur.
Hasan mengekor dibelakang.
"Nggak juga sih, tapi mumpung lagi ada ide nih, eh sekalian bikinin kopi lagi deh," ujar Hasan dari tempat duduknya.
"Kan tadi udah ngopi, jangan ngopi lagi. Kamu mau melek sampai pagi?" tanya Hana sambil menyalakan kompor.
Hasan tidak menjawab, ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Hana sudah meletakan panci berisi air di atas kompor.
***
Semenjak pulang dari kantor, Bu Darma menjadi lebih sensitive. Apa-apa yang dilakukan Pak Darmawan seperti salah terus di mata Bu Darma.
Contohnya, malam ini Pak Darma akan mengevaluasi produk terbarunya, dan Bu Darma dimintai pendapat, tetapi Bu Darma malah marah-marah dan sewot.
"Kalo kamu gak yakin dengan apa yang akan kamu buat, mending gak usah lah, Pah!"
"Papah yakin, papah cuman minta pendapat mamah aja. Coba kalo krim ini di oles dulu di wajah mamah gimana rasanya,"
"Kenapa harus, mamah? Papah kan bisa nyuruh orang lain. Sampling kamu kan banyak,"
"Kan biasanya juga kamu yang selalu nyobain pertama. Kamu sendiri malah yang selalu nawarin diri buat nyobain,"
"Ah, udahlah Pah, lebih baik produk itu gak usah kamu luncurin. Ngabisin uang aja. Lagian siapa yang mau beli produk mahal-mahal dengan bahan yang susah di dapat. Kalo misal permintaan banyak, dan tiba-tiba bahannya habis gimana?"
"Koq kamu ngomong gitu sih, Mah. Biasanya kamu selalu dukung pekerjaan aku loh. Kalo soal bahan, kita gak usah khawatir, ada Pak Bagas, yang menyediakan bahan-bahan tersebut,"
"Apalagi itu, Mamah gak suka kalo harus bekerja sama dengan Pak Bagas. Papah batalin kontraknya aja lah," ujar Bu Darma dengan marah.
__ADS_1
"Loh, loh, loh, kenapa mendadak minta dibatalkan. Kami berdua sudah sepakat. Minggu depan produk ini juga bakal diluncurin,"
"Pokoknya mamah gak setuju. Udah batalin aja lah," jawab Bu Darma sewot.