
Setelah selesai minum, Hasan tersenyum dan mengelus tenggorokannya yang hangat. Ia kemudian membuang plastiknya ke dalam kantong plastik, dan menyimpannya di dasbor. Lalu melanjutkan perjalanannya lagi.
"Kenapa sampahnya gak kamu buang, San?" tanya Hana yang diam-diam memperhatikan tingkah Hasan.
"Dibuang," jawab Hasan singkat.
"Kamu menyimpannya di dasbor, bukan dibuang," ucap Hana lagi.
"Aku gak liat ada tong sampah, makanya aku simpan dulu. Sampe rumah nanti bakal langsung aku buang ke tempat sampah," jawab Hasan.
Hana tersenyum mendengar penjelasan Hasan. Hana tidak menyangka jika Hasan adalah orang yang disiplin.
"Kenapa kamu tersenyum? Kamu pikir aku suka menyimpan sampah?" tanya Hasan sambil terus memperhatikan Hana.
"Enggak. Kamu jangan suudzon mulu kenapa sih!" tutur Hana masih tersenyum.
"Habisnya senyuman kamu mencurigakan tau!"
"Mencurigakan gimana? Aneh ah kamu!" tutur Hana, lalu kembali melihat ke depan.
Hasan ikut tersenyum melihat ekspresi wajah Hana yang terlihat bahagia karena tingkah yang ia buat.
"Hana, kamu kenapa nangis?" tanya Hasan tiba-tiba.
"Hah!" pertanyaan Hasan membuat Hana heran, karena sedari tadi ia menyembunyikan air matanya. "Aku nangis?" tanya Hana sambil menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Iya, gak usah pura-pura deh. Waktu aku kembali ke mobil, mata kamu basah. Berkaca-kaca. Kamu diam-diam nangis makanya gak ikut aku turun. Iya kan?" tanya Hasan sambil melirik Hana.
"Tebakan dia kok bisa bener gitu sih!" ucap Hana dalam hatinya.
"Enggak kok. Sok tau kamu. Aku gak ikut turun karena emang gak mau makan nasi kucing. Aku maunya pecel ayam," jawab Hana mengalihkan pandangan ke samping jendela.
"Bohong! Ayo jawab jujur, kamu nangis karena apa? Nangisin kepergian Abang?"
"Astaghfirulloh! Itu lagi yang dibahas. Aku beneran udah gak ada rasa sama Kak Miki, Hasan, sayangku, cintaku, suamiku ...." ucap Hana penuh penekanan.
Hasan menahan senyuman bahagianya ketika mendengar kalimat terakhir Hana. Ia menautkan kedua bibirnya agar tidak ketauan tersenyum.
"Aku harus apa sih, biar kamu percaya sama aku. Kalo aku itu udah gak ada rasa sama Kakak. Orang yang aku sayang dan cinta cuman kamu seorang, Hasan Leonil Praja Pamungkas! Suaminya Hana Ceriana Darmawan!" Hana berkata dengan lantang dan wajah serius. Hasan meliriknya sekilas. Ia benar-benar bahagia mendengar pernyataan berulang dari mulut Hana yang begitu berkesan baginya.
Hasan kemudian menyentuh dahi Hana dengan tangan kirinya. "Kamu sakit? Kok minta pulang! Kita makan dulu lah. Di rumah kan gak ada makanan,"
"Abisnya kamu ngambek dan negatif thinking terus sama aku. Aku kan jadi serba salah sama kamu, San," tutur Hana mulai berkaca-kaca lagi.
Hasan melirik Hana lalu, mengusap pipi Hana dengan lembut. "Aku minta maaf. Gak ada maksud bikin kamu nangis kok," Hasan menarik tubuh Hana ke dalam dekapannya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya tetap menyetir. Hasan mencium puncak kepala Hana dengan penuh kasih sayang.
Hana tak kuasa menahan air mata. Tangisnya pun kemudian pecah. Hana memeluk Hasan dengan sangat erat. Hasan tersenyum dan mengelus rambut Hana yang tergerai dan wangi itu.
"Udah jangan nangis. Kamu itu nangisin apa? Aku kan gak marah sama kamu," ucap Hasan mencoba untuk melihat wajah Hana. Namun, wajah Hana benar-benar tenggelam dalam dada Hasan yang bidang.
"Aku minta maaf sama kamu. Kamu jangan pernah tinggalin aku ya, San! Aku sayang sama kamu. Aku rela kamu marahin, asal kamu jangan lepas aku kepada siapapun." Hana berkata sambil terus menangis tersedu.
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Mana mungkin aku nglepasin kamu. Kamu itu amanah yang harus aku jaga. Orang tua kamu nitipin kamu ke aku. Gak mungkin lah aku minta orang lain buat jaga kamu." Tutur Hasan sembari tersenyum.
"Tapi, kata-kata kamu tadi bikin aku sedih dan takut, San. Kamu bilang kamu gak yakin sama perasaan aku. Kamu terus pojokin aku. Aku sedih, San!" jawab Hana kemudian melepas pelukannya dan mengusap air matanya sendiri.
Wajahnya basah dan merah karena tangisan sendu yang melanda pikiran dan hatinya. Hasan tersenyum mendengar kalimat Hana. Hasan kembali mengusap pipi Hana dengan lembut. "Aku minta maaf deh. Udah jangan nangis lagi. Jelek banget kalo nangis. Tuh, di depan ada pecel ayam yang masih buka. Mau mampir atau terus nangis nih?"
Hana tersenyum dan menyeka sisa-sisa air matanya yang menggenang. "Makan pecel ayam dulu. Ntar lanjut nangis lagi," jawab Hana dengan imut.
Hasan tersenyum memperlihatkan gigi putihnya yang berderet dengan rapih. Hasan kemudian menepikan mobilnya. "Aku sadar, orang sedih yang sampe nangis itu juga perlu asupan biar tetep kuat," ucap Hasan meledek Hana.
"Ihhh apaan sih kamu! Ntar aku nangis lagi loh,"
"Ya udah nangis aja kalo gak malu," tantang Hasan sambil membuka sabuk pengaman.
"Dasar nyebelin. Lama-lama kamu persis kaya Raja tau gak," jawab Hana keceplosan dan langsung membungkam mulutnya. Hana berharap, Hasan tidak akan marah karena ia menyinggung Raja. Bahkan setelah permasalahan Miki usai.
Hasan memicingkan matanya. Seperti mata elang yang siap menerka mangsa.
"Maaf, San! Gak ada niatan buat ...."
"Muuuuaachhh! Bilang aja kalo kamu mau di cium," Hasan mengecup sekilas bibir Hana. Lalu ia tersenyum dan keluar dari dalam mobil.
Hana masih termangu di dalam sehingga membuat Hasan mengetuk kaca jendela tempat duduk Hana. "Buruan turun," ajak Hasan dengan isyarat tangan.
Hana tersadar dari lamunannya sekilas, kemudian tersenyum dengan menggigit bibir bawahnya. Setelah itu, ia keluar menyusul Hasan yang tengah memesan makanan.
__ADS_1