
Hasan melirik Hana yang kini mengedarkan pandangan ke luar jendela.
"Kenapa kamu sekarang diam? Apa kamu senang kalo aku selalu marah sama kamu. Kamu kenapa sih gak bisa dibilangin. Ngeyel!" tutur Hasan masih marah.
Hana menghela nafas kembali, ia melirik Hasan yang masih ngedumel dan fokus ke jalan. Hana tersenyum kemudian mengecup lembut pipi Hasan. Hasan yang tengah ngedumel seketika berhenti ketika merasakan bibir lembut Hana menyentuh pipinya. Matanya membulat, jantungnya berdebar, badannya terasa panas.
"Maaf. Aku yang salah. Udah gak marah lagi kan?" tanya Hana seraya tersenyum memandangi Hasan dengan pipi merahnya. Hasan menghela nafas panjang tak berani menatap Hana. Ini pertama kalinya Hana mencium pipinya.
"Ya ampun, kenapa dia harus nyium aku sih! Harusnya aku aja yang nyium dia. Badanku jadi gemetar. Jangan sampai aku ketahuan grogi," batin Hasan.
"Aku kerap kali dengar dari mulut seseorang yang mengaku menjadi suamiku. Setiap aku nakal, dia akan menciumku, atau aku yang menciumnya. Tapi, setelah aku melakukannya tampaknya dia masih marah. Nyatanya sampai sekarang dia masih diam," gumam Hana dengan nada sengaja dikeraskan.
Hasan kemudian memandang Hana yang tengah tersenyum kepadanya. Hasan yang sudah tak dapat membendung rasa senangnya karena dicium Hana, akhirnya ikut tersenyum juga lalu tertawa. Hasan mengelus puncak kepala Hana dengan penuh kasih sayang menggunakan tangan kirinya.
Hana merasa senang karena ia bisa melihat senyuman Hasan kembali. "Jadi, kamu udah maafin aku nih?" tanya Hana masih memandang Hasan.
"Em, belum sepenuhnya. Kecuali kalo kamu ulangin adegan tadi. Tapi nanti setelah di rumah," ujar Hasan sambil memainkan kedua alisnya.
"Dasar mesum!" ucap Hana seraya tersenyum.
__ADS_1
Hasan terkekeh dan beralih mengusap pipi lembut Hana.
Setelah beberapa menit kemudian, mobil mereka masuk ke halaman rumah Mamah Darma ketika gerbang rumahnya sudah terbuka.
"Mobil siapa, Han? Kayaknya bukan punya Papah deh," ujar Hasan sambil membuka sabuk pengaman.
"Nggak tau. Mobil tamu kali," jawab Hana lalu keluar dari dalam mobil.
Hasan dan Hana berjalan beriringan memasuki rumah Mamah Darma yang pintunya sudah terbuka lebar. "Assalamu'alaikum," salam Hana bersama Hasan.
Bu Darma yang tengah mengobrol bersama Bagaskara kemudian berdiri menyambut kedatangan kedua anaknya.
"Lagi ada tamu yah, Mah?" tanya Hasan.
"Iya, jangan panggil saya Mamah, ya. Tante aja!" bisik Bu Darma mengkode Hasan sambil melirik Bagaskara yang tersenyum ke arah mereka.
Hasan mengerti dan menganggukan kepalanya.
"Lita, kok aku gak dikenalin sama anak kamu sih," tutur Bagaskara masih duduk di sofa.
__ADS_1
Lita tersenyum sekilas lalu menuntun tangan Hana menuju ruang tamu. Sedangkan Hasan mengekor di belakang.
"Iya, ini Ceri. Anakku. Dan dia ...." Bu Darma melirik Hasan, "dia Leo, pacar anakku, Gas!" tutur Bu Darma kepada Bagaskara.
"Cantik banget anak kamu. Tapi, sayang yah sudah punya pacar. Emm, menurut aku sih gak papa lah kalo cuman sekedar pacaran aja. Kita coba buat comblangin dulu antara Ceri dan anakku, siapa tau mereka cocok," terang Bagaskara diiringi senyuman.
Mendengar kalimat Bagaskara, mereka bertiga terlonjak kaget. Terlebih lagi Hasan dan Hana, yang sama sekali tidak mengerti awal mula percakapan mereka.
"Kamu jangan sembarangan kalo ngomong, Gas! Mana mungkin aku mau menjodohkan anakku dengan anakmu. Aku sudah merestui hubungan mereka. Dan aku berharap hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan," tutur Bu Darma sambil meremas tangan Hana dan Hasan dari sisi yang berbeda.
"Yakin tidak mau? Perusahaanmu akan semakin berkembang kalo kita punya hubungan yang spesial, Lita!" ujar Bagaskara.
"Perusahaan Tante Darma, sampai sekarang juga sudah lebih maju. Dari sebelum mengenal anda, perusahaan yang dijalankan oleh Tante sudah berjalan dengan baik. Jadi, tak perlu ada ikatan khusus seperti yang anda bilang," sambung Hasan seraya tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Bagaskara melirik Hasan sambil menyunggingkan senyum. "Benarkah? Bagaimana kalo tiba-tiba perusahannya kolaps?"
"Hal itu tidak akan terjadi kecuali ada tangan yang sengaja mengaturnya," jawab Hasan dengan tenang.
"Waw, menakjubkan. Aku menyukai anak ini. Siapa namamu tadi, Leo ... kamu sekolah dimana?" tanya Bagaskara dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1