
Bagaskara tampak geram ketika teringat kalimat demi kalimat yang Hasan lontarkan. Senyumannya menyeringai. Entah apa yang tengah ia pikirkan. Namun, bisa diperkirakan kalo ia tengah merencanakan sesuatu.
***
Miki selesai mengemasi barang-barangnya. Ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Kembali ke apartemennya sendiri yang sudah seminggu ini ia tinggalkan.
Hasan berada di sana bersama dengan Hana. Hasan berniat untuk mengantarkan Miki ke bandara. "Terimakasih yah, kalian sudah menyempatkan waktu buat nganterin aku. Padahal, kalian gak perlu repot-repot. Ada Mamah yang bisa anter aku," ujar Miki sambil memakai sepatunya.
"Mamah kan bentar lagi juga mau berangkat ke kantor nyusul Papah. Kita berangkat sekarang kalo kamu sudah siap, Bang!" ujar Hasan sambil membawa koper milik Miki.
Miki hanya tersenyum simpul lalu bangkit dari tempat duduknya. Miki mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Lalu, ia mendekat kepada Hana. Hana yang masih berdiri di samping sofa depan Miki, ia merasa gugup dengan senyuman yang terpaksa ia sunggingkan. Hasan mengamati Miki tanpa protes. Miki kemudian berdiri di belakang Hana, dan mengalungkan sebuah kalung emas dengan inisal huruf HM. Hana terlonjak kaget demikian dengan Hasan. Namun, Hasan mencoba untuk tetap tersenyum dan bersikap seperti biasa karena Miki yang belum mengetahui jika dirinya sudah tau hubungannya dengan Hana.
__ADS_1
"Kakak, apa ini?" tanya Hana sambil meraba kalung yang kini menghiasi leher jenjangnya. Mata Hana menatap Hasan yang terus memandangnya.
"Ini hadiah kecil dariku untukmu. Anggap saja sebagai hadiah pernikahanmu dengan Leo," ujar Miki sambil tersenyum dan membalikkan tubuh Hana agar menghadapnya. "Kamu terlihat lebih cantik memakai kalung ini, Hana!" ujar Miki sambil tersenyum dengan manisnya, membuat Hana ikut tersenyum.
Hasan meremas gagang koper yang ia pegang dengan kuat. Hasan kemudian berjalan mendekat dan berdiri di tengah-tengah mereka berdua. "Abang, tidak usah repot-repot memberikan hadiah ini. Hana tidak perlu kok," ujar Hasan yang hendak melepas kalung tersebut. Namun, segera dicegah oleh Miki. "Biarkan saja kalung itu melingkar di lehernya. Aku memberikan hadiah itu untuknya sebagai kenang-kenangan dariku. Aku tidak tau kapan akan kembali kesini lagi. Jadi, jangan lepaskan kalung itu," ujar Miki sambil menatap Hasan dan berganti menatap Hana.
Hana merasa deg-degan. Dia tidak ingin Hasan marah dan tersinggung. Akan tetapi, ia sendiri tidak enak jika harus menolak pemberian dari Miki, yang sekarang menjadi kakak iparnya.
"Kenapa?" tanya Miki mengernyitkan kening.
"Kalo itu sebagai hadiah pernikahan, harusnya inisalnya HL atau HH saja. Bukan M. Namaku kan buka Miki," jawab Hasan, yang mampu membuat Miki menelan salivanya sendiri. Demikian juga dengan Hana yang menyadari bahwa memang kalung itu berinisial HM.
__ADS_1
"Oh, itu kesalahan dari pembuatnya. Biarlah begitu. Tapi, kalo kamu mau ganti juga tidak apa-apa," ujar Miki sambil menggaruk kepalanya.
"Tentu saja aku akan menggantinya, Bang! Baiklah, kita berangkat sekarang. Hana kamu duduk dibelakang. Biar aku dan Abang di depan," perintah Hasan kepada istrinya.
Hana mengangguk. Hasan berjalan lebih dulu sementara Miki melirik Hana yang mulai melangkah. Dengan berani, Miki menggandeng tangan Hana dengan erat. Hana menghentikan langkahnya dan melirik ke arah Miki dengan mata membulat. Miki tersenyum, "biarkan sekali ini saja, please!" ujar Miki dengan suara lirih.
Hana menggelengkan kepalanya dan berusaha menepis tangan Miki. Namun, genggaman itu terlalu kuat dan menariknya untuk terus berjalan mengekor di belakang Hasan.
Tindakan yang Miki lakukan tidak diketahui oleh Hasan. Namun, Bu Praja melihatnya dari anak tangga. "Apa yang Miki lakukan?" gumam Bu Praja tanpa mengejar anak-anaknya.
Miki melepaskan genggamannya ketika mereka sudah sampai di halaman dan masuk ke dalam mobil. Hana duduk di belakang, dan Miki duduk di depan bersama Hasan. Mobil melaju meninggalkan rumah Bu Praja menuju bandara. Miki terus mengembangkan senyuman di wajahnya. Ia sesekali meregangkan telapak tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menggandeng tangan Hana. Ia terus memandangnya sambil tersenyum. Hasan mengernyitkan kening ketika melirik Miki yang bersikap aneh. Sementara Hana merasa jantungnya terus berdebar berada dalam satu mobil bersama dua laki-laki yang sama-sama mencintainya.
__ADS_1