Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Pasrah Saja


__ADS_3

Hana merasa lega karena Raja mau mendengar perintahnya. Kini, Hana harus berhadapan dengan Hasan. Hana menarik nafas dalam-dalam. Ia tersenyum ketika Hasan menatapnya dengan sangat tajam. Tatapannya seolah meminta penjelasan darinya.


"Duduk dulu yuk, aku beliin ice cream," Hana mendorong tubuh Hasan agar mau duduk di bangku yang ada di mall tersebut. Hana kemudian membeli dua ice cream, dengan rasa stroberi untuknya, dan rasa cokelat untu Hasan.


Hana duduk di samping Hasan. Pikirannya tidak tenang, ia merasa bersalah karena sudah berbohong kepada Hasan. "San, cepet makan! Nanti meleleh. Makan ice cream juga bisa mendinginkan pikiran kita loh," ujar Hana seraya tersenyum.


Hasan melirik ke arah Hana, Hana meringis memperlihatkan giginya yang rapih kepada Hasan. "Jangan marah please!" gumam Hana dalam hatinya.


Hasan menghela nafasnya kemudian menikmati ice cream yang diberikan oleh Hana. "Jadi, kamu gak belanja melainkan kencan sama, Raja?" tanya Hasan membuat Hana merasa bersalah.


"Bukan gitu, San! Aku emang niat belanja, tapi gak sengaja ketemu sama dia,"


"Terus mana belanjaan kamu?" tanya Hasan dengan nada datarnya.


"Aku belum belanja," jawab Hana hati-hati. Hasan kembali menatap Hana dengan tajam. "Jadi, kamu ngapain aja sama Raja di sini? Ini udah siang, Han! Dan kamu belum belanja? Aku nungguin kabar kamu dari rumah loh," ujar Hasan lalu menelan semua ice creamnya hingga mulutnya penuh dan blepotan. Ia merasa kesal hingga melakukan hal itu. Hasan rasanya ingin memukul orang lagi. Namun, siapa orang yang akan ia pukul.


Hana membuang ice creamnya ke dalam tong sampah. Tak lupa ia mengambil sisa tisu dari tas untuk mengelap bibir Hasan yang kotor. Setelah itu, Hana cepat-cepat meremas tangan Hasan dengan lembut sembari menatapnya dengan tatapan memelas. "Maafin aku, San! Aku tadi nonton film dulu," ucap Hana dengan perasaan yang sudah tak karuan menahan takut.


"APAAA! NONTON? SAMA RAJA!"

__ADS_1


Duar duar duar bagaikan guntur menyambar, telinga Hasan menangkap kalimat yang membuatnya tambah emosi hingga menepis tangan Hana begitu saja. Hasan berdiri dari tempatnya. Ia mengacak rambutnya dengan kasar, "aaaarghhh! Kamu itu emang nakal, susah dibilangin! Aku kesal sama kamu, Han! Aku marah sama kamu. Kamu gak tau perasaan aku kayak gimana, Hah!" ujar Hasan berapi-api.


Orang-orang kembali menatap ke arah Hasan dan Hana. Hana merasa tidak enak karena menjadi pusat perhatian. Ia kemudian segera berdiri dan menarik tangan Hasan agar menjauh dari tempat umum.


Hasan dengan perasaannya yang sakit menepis kembali tangan Hana. Hana benar-benar takut dan sedih karena dirinya tega membohongi Hasan. Tapi, ia juga tidak tau kenapa Hasan seperti itu. Kalo memang tidak ada perasaan, dia tidak perlu marah kan?


"Kenapa kamu selalu bohongin aku, Han? Kenapa? Kamu pacaran sama Raja? Jawab aku jujur, Han!" ucap Hasan dengan perasaannya yang masih sakit.


"Aku gak pacaran sama Raja, San! Tadi itu cuman kebetulan aja. Karena aku bosen juga, ya udahlah aku mau diajak nonton,"


"Kalo kamu bosen, kamu pengin nonton, kamu bisa ajak aku, jangan ajak cowok lain. Aku ini suami kamu!" ucap Hasan dengan nada mellow menunjuk dirinya sendiri yang merasa tak berguna.


"Aku minta maaf, San! Tadi itu emang gak disengaja, kamu jangan marah. Kalo sikap kamu kayak tadi, orang akan curiga sama kita,"


"Kamu gila apa? Kalo orang-orang sampe tau, dan ini terdengar hingga pihak sekolah, kita bisa dikeluarin, San! Kita bakal diblacklist dari seluruh sekolah. Kamu mau kita putus sekolah sampai di kelas satu aja? Kamu jangan ngaco kalo ngomong!" ujar Hana marah.


Hasan memijit kepalanya yang berdenyut. Ia melupakan akan hal itu. Emosi benar-benar membuatnya tidak bisa berfikir jernih.


Hana mendekat ke arah Hasan, ia mengajaknya untuk duduk kembali di lorong jalan yang sepi di mall tersebut. "Lagipula, diantara kita gak ada rasa kan? Kamu gak perlu marah seperti itu lihat aku sama Raja!"

__ADS_1


Hasan berhenti memijat kepalanya, ia kini menatap Hana kembali dengan tajam. "Aku ini suami kamu, mana rela aku liat kamu bermesraan sama cowok lain. Apalagi, Raja berani megang-megang kamu. Nyubit-nyubit pipi kamu," Hasan mengusap kedua pipi Hana dengan kasar. "Kamu mending cuci muka biar kuman di tangan Raja gak nempel di pipi kamu," ujar Hasan dengan kesal.


Hana tersenyum tipis mendengar kalimat yang dilontarkan Hasan. "Kamu kenapa sih, San? Akhir-akhir ini protektif banget sama aku. Kamu suka sama aku?" tanya Hana sambil memegang wajah Hasan agar kembali menatap dirinya.


"Jelas aku protektif, aku suami kamu!" jawab Hasan dengan bibirnya yang manyun akibat tekanan dari tangan Hana.


Hana tersenyum lalu merapatkan duduknya dan merangkul lengan Hasan. "Aku kasih tau sesuatu sama kamu. Emang bener, banyak cowok yang berusaha deketin aku. Dan itu kamu juga tau sendiri. Tapi, diantara mereka itu gak akan pernah bisa dapetin aku, San. Karena aku udah jadi milik kamu. Jadi, kamu gak usah khawatir, aku akan tetep ada di samping kamu," ucap Hana sambil menopangkan dagunya di pundak Hasan. Hasan tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Hana. Kalimat yang diucapkan Hana memang benar, Hana sudah menjadi istrinya. Siapapun yang mendekatinya, tetap saja akan kalah dengan dirinya yang sudah mempunyai status dengan Hana.


"Tapi, aku tetap tidak suka kalo Raja dekat sama kamu dan mesra seperti tadi," ujar Hasan sambil menatap lekat wajah istrinya dengan jarak dekat.


"Kenapa? Raja hanya gemas tadi. Kamu cemburu?" tanya Hana serasa tersenyum.


Hasan mendengus kesal lalu menatap Hana kembali. "Kalo aku cemburu kenapa? Kamu gak suka? Barang berharga yang sudah jadi milik seseorang, dia tidak akan rela jika yang berharga itu dibagi dengan yang lain. Kamu ngerti kan?" tanya Hasan menatap lekat Hana.


Hana tersenyum dan menjawab, "kamu suka sama aku?"


Hasan tersenyum. Ia memegang dagu Hana, dan sedikit menahannya. Hasan menatap mata Hana dalam-dalam, matanya meneliti seluruh wajah Hana, hingga pandangannya berhenti diantara bibir Hana yang merah. Hana merasa deg-degan. Ia kesusahan menelan salivanya sendiri. Perlahan, Hasan mencondongkan wajahnya, mendekat perlahan dan .... Cup, kecupan manis ia layangkan di bibir Hana yang terasa manis baginya. Hana membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang Hasan lakukan padanya. Tubuhnya gemetar ketika bibir Hasan mulai menautkan di bibirnya kembali. Sedikit suara tercipta ketika bibir Hasan menyesap dalam-dalam bibir Hana yang ranum dan merah itu.


"Ini untuk kecemburuanku, dan juga kenakalan kamu. Kamu gak bisa mengelak karena kita sudah pernah membahas hal ini. Setiap kamu nakal, aku akan memberikanmu kecupan, atau kamu sendiri yang memberikannya," gumam Hasan kemudian kembali mengecup bibir Hana kembali.

__ADS_1


Hasan memegang kepala Hana dengan kedua tangannya. Ia bernafsu melakukannya berulang. Hana hanya bisa pasrah menikmati kecupan manis Hasan sebab ia sudah bersalah. Nafasnya tersengal ketika Hasan tak memberikannya ruang untuk bernafas. Menyadari mereka melakukan hal ini di tempat umum, Hana mendorong tubuh Hasan dengan kasar hingga Hasan berhasil terjatuh dengan kasar di lantai.


"Eh, sorry sorry. Aku gak sengaja," ucap Hana kemudian membantu Hasan untuk duduk kembali. "Maaf, aku gak bermaksud mendorong kamu. Tapi, ini di tempat umum," ujar Hana lagi sambil menahan rasa malunya. Bagi dirinya, ini adalah cium an pertamanya dengan Hasan. Untunglah dia melakukannya dengan suaminya sendiri jadi, Hana gak merasa berdosa.


__ADS_2