Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
Diam-diam Jago


__ADS_3

Mona berjalan tergesa ketika sudah sampai di kontrakan. Karena hari sudah malam, Mona memilih untuk segera pulang tanpa mampir membeli makanan. Mona berniat untuk memasak mie instan lagi.


Mona membuka pintu dan rasa lelahnya bertambah ketika mendapati kontrakannya yang begitu berantakan.


"Damn! Pasti ini ulah pemilik kontrakan lagi. Dia sama sekali tidak percaya jika aku benar-benar tidak punya uang," ucap Mona dengan wajah serius.


Mona melemparkan tas slempang tersebut. Mona duduk sebentar sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya. Dipandangi setiap sudut kontrakan tanpa jendela yang begitu engap dengan ukuran 3x4 meter itu. Tidak ada sekat sama sekali kecuali kamar mandi yang hanya berukuran 1 meter. "Kontrakan jelek seperti ini, aku akan segera meninggalkannya malam ini juga," gumam Mona.


Mona kemudian mengambil koper dan membereskan semua pakaiannya.


"Aku hanya perlu membawa pakaian dan berkasku yang penting. Malam ini juga aku akan kembali ke rumah orang Indonesia itu lagi. Aku sepertinya aman bersama dia," gumam Mona lirih.


Mona kali ini mengenakan masker dan juga topi. Mona sudah siap dengan koper berisi baju dan berkas miliknya. Ia keluar dari kontrakan dengan tergesa-gesa. Niatnya ingin membayar kontrakan. Tapi tiap kali ia ingat pemilik kontrakan selalu mengacau, Mona berubah pikiran. Ia kabur tanpa membayar.


Emang dasar apes, pemilik kontrakan yang tengah keluar membuang sampah, melihat Mona keluar sambil membawa koper. Pemilik kontrakan pun marah dan meneriaki Mona. "Hey, you. Come back! Bayar dulu uang kontrakanmu!" seru pemilik kontrakan.


Mona berhenti sejenak. Bukanya berbalik dan memberi uangnya. Mona menghirup nafas dalam dan kemudian berlari secepat mungkin sembari menarik koper.

__ADS_1


"Damn! Mau lari kemana kamu! Kembali kesini ...!"


Mona tak mengindahkan perintah dari pemilik kontrakan. Ia terus berlari tanpa menoleh.


"Hey kalian, cepat kejar wanita itu. Aku akan membayar kalian jika berhasil menangkapnya," ujar pemilik kontrakan kepada beberapa laki-laki yang tengah nongkrong di pinggir jalan.


"Kamu akan bayar kami berapa?" tanya salah satu laki-laki.


"150 dollar. Cepat kejar dia. Dia sudah mencuri uangku," ucapnya.


Tiga laki-laki itu kemudian berlari dengan cepat mengejar Mona. Kondisi Mona yang kelaparan dan juga haus membuat perutnya sakit. Tenaganya berkurang. Ia berhenti dan menengok sebentar ke belakang. Dari jauh, Mona melihat tiga laki-laki yang tengah mengejar dirinya.


Tiga laki-laki itu tersenyum menyeringai. Mereka mengitari Mona sambil berkacak pinggang.


"Kamu tidak bisa lari lagi pencuri," ucap salah satu laki-laki.


"Siapa yang pencuri?" tanya Mona dengan nafas yang masih sedikit berat.

__ADS_1


"Dasar tengik. Tidak mau mengaku rupanya!"


"Tunggu sebentar. Apa kalian punya air minum? Berilah aku sedikit jika kalian punya," ucap Mona.


"Kami bisa memberimu susu, langsung dari sumbernya. Apa kamu mau sekarang?" ucap salah satu laki-laki, yang kemudian langsung diiringi gelak tawa oleh mereka bertiga. "Hahahahaha,"


"Cih, mereka ini sangat kurang ajar," batin Mona.


Mona kemudian berdiri dan meregangkan tangan. Ketiga laki-laki itu mendekat dan hendak menarik Mona. Namun dengan sigap, Mona menarik lebih dulu dan menendang perut mereka satu per satu.


Bukan main, rupanya Mona begitu pandai berkelahi. Mona memasang kuda-kuda dengan wajah yang tertutup masker. Ia terlihat keren dan melumpuhkan musuh-musuhnya dengan gampang. Dalam sekejap, ketiga laki-laki itu sudah terkapar di tanah sembari memegangi perut. Mona kemudian segera berlari kembali dengan koper yang terus ia tarik.


~~


Sepulang sekolah, Hana langsung dijemput oleh Samuel dengan sebuah mobil. Ia melirik Hasan sebelum ia benar-benar masuk ke dalam. Hasan tersenyum dan mengangguk begitu saja.


"Kita langsung ke rumah aku yah, kebetulan Mamah udah masakin kamu juga loh," ujar Samuel.

__ADS_1


Hana mengangguk dan tersenyum lalu masuk ke dalam mobil meninggalkan Hasan yang masih berdiri mematung di depan gerbang.


Raut wajah Hasan berubah menjadi serius dan penuh amarah. Ia merogoh hapenya dan mulai menghubungi seseorang. "Dia udah pergi. Kamu kesana sekarang. Awasi mereka," ucap Hasan kemudian memasukannya kembali ke dalam saku.


__ADS_2