Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
69. Sosok Yang Sudah Lama Dirindukan


__ADS_3

Miki kemudian masuk ke dalam mobilnya, dan pergi dari rumah sakit menuju rumah Hasan. Sementara Hana yang merasa bahwa pesan Hasan, sebuah ancaman, ia masih berdiri belum naik ke jok motor Raja. Ia masih bingung. Harus pulang ke rumahnya sendiri, atau pulang ke rumah orang tuanya.


"Ayo buruan naik, udah jam setengah sebelas nih," ujar Raja yang sudah menyalakan mesinnya.


"Em, aku naik taxi aja deh, Ja!"


"Loh kenapa? Kita berangkat bareng, pulang juga harus bareng dong,"


"Iya, tapi Mamah aku tuh di rumah. Nanti, kalo Mamah liat kamu pasti marah,"


"Kenapa bisa marah? Aku kan gak ngapa-ngapain kamu, Mamah kamu kan juga belum tau aku, Han! Mana mungkin lah marah,"


"I-i-iya mak-maksud aku itu, Mamah gak suka kalo liat aku dianterin sama cowok, Ja!"


"Koq gitu? Alesannya apa? Tapi, kalo Hasan? Boleh gak?"


"Em, Mamah tuh gak pengin aku pacaran, jadi kalo tiap kali liat aku dianter sama cowok, pasti aku dimarahin. Udah aku naik taxi aja. Kamu duluan gih," ucap Hana sambil mendorong lengan Raja agar cepat pergi.


"Udah aku anterin aja deh, aku yakin Mamah kamu gak bakal marah. Niat aku kan baik,"


"Kamu gak kenal Mamah aku. Katanya mau nurut sama aku, setelah dapet nomor aku. Koq sekarang gak nurut," ucap Hana sewot.


Raja tersenyum dan menghela nafasnya.


"Hem, iya iya. Aku gak maksa deh. Aku cariin taxinya yah," tawar Raja.


"Aku cari sendiri aja, udah kamu duluan sana, hati-hati yah,"


Dengan berat hati, Raja harus menuruti perintah Hana, agar dia tidak marah lagi padanya.


"Ya udah deh, aku pulang dulu. Aku makasih banget yah karena kamu udah mau nengokin nenek. Nenek seneng banget tadi, liat kamu,"


"Iya, sama-sama," jawab Hana diiringi senyuman.


"Aku sebenernya gak enak loh, Han, ninggalin kamu di sini sendirian, harusnya aku kan anterin kamu,"


"Udah gak papa, tuh ada taxi, aku naik taxi aja. Kamu buruan pulang gak usah mampir-mampir,"

__ADS_1


Hana kemudian berlari menuju jalan raya, ia melambaikan tangan kepada sopir taxi. Taxi pun berhenti, Hana kemudian masuk ke dalam. Hana melambaikan tangan kepada Raja. Raja hanya tersenyum melihat kepergian Hana.


Setelah Hana dan taxinya tidak terlihat, Raja mengegas motornya dan siap pulang ke rumah.


Di dalam taxi, Hana terus melihat ke belakang untuk memastikan keberadaan Raja.


"Pak, jalannya pelan aja gak papa," perintah Hana.


"Baik, Mbak!"


"Aku harus pastiin, Raja lebih dulu di depan ketimbang aku. Kalo aku nyampe duluan, dan kebetulan Raja ngikutin di belakang, bisa bahaya," ujar Hana dalam hatinya.


Suara motor Raja meraung-raung, dan berhasil menyalip taxi yang ditumpangi Hana. Hana bisa melihat Raja dengan jelas ketika menyalipnya. Hana tersenyum senang karena Raja berjalan lebih dulu.


"Syukur, Raja udah duluan. Gak kebayang, dia kalo naik motor sendiri cepet banget, serem!" ujar Hana dalam hatinya.


"Pak, kecepatannya bisa ditambah sekarang," ucap Hana.


"Baik, Mbak!" jawab sang sopir.


***


Miki memarkirkan mobilnya di belakang mobil Hassan.


"Wih, udah punya mobil sendiri aja si, Leo. Keren juga!" gumam Miki sambil tersenyum.


Miki kemudian menuju teras rumah dan duduk di bangku yang terhalang oleh sekat tembok berpahat seni itu. Namun, masih bisa melihat sesiapa yang akan masuk dari luar. Sementara orang dari luar tidak akan jelas melihat orang yang tengah duduk di teras.


"Kayaknya gak ada orang deh," ucap Miki sambil mengintip dari jendela.


"Aku haus, boleh kali yah langsung masuk dan ambil minuman. Leo bilang, aku langsung masuk aja katanya gak papa," ujar Miki.


Miki kemudian membuka pintu utama rumah Hasan. Ia sedikit takjub dengan desain interior dalam rumah Hasan.


"Waw, menarik juga, simple and elegan! Benar-benar hebat adek aku," ucap Miki sambil tersenyum mengamati setiap detail rumah Hasan.


Miki kemudian mengambil air putih dingin dari dalam kulkas, kemudian meminumnya langsung tanpa menggunakan gelas. Setelah puas, ia meletakkan kembali. Ia kemudian memutuskan untuk duduk di ruang tamu saja sambil bermain hape.

__ADS_1


Hana berlari cepat untuk segera bisa sampai di rumah. Nafasnya tersengal. Perutnya sedikit sakit karena ia berlari tanpa berhenti.


Begitu sampai di depan pagar, Hana sedikit kaget karena pagar rumahnya terbuka. Padahal, pagar itu hanya bisa di buka dengan suaranya atau suara Hasan.


"Aduh haus banget ... Loh koq, pagarnya udah kebuka aja," gumam Hana kemudian masuk.


Hana mengamati sekeliling, takut jika ada maling. Bahkan di pesan Hasan, ia harus segera pulang karena ada hal penting. Hal penting apa.


"Gak ada bekas congkelan. Tapi koq bisa kebuka gini sih. Terus ... Loh, ini mobil siapa lagi? Koq kaya kenal, tapi, punya siapa yah?" Hana mencoba untuk mengingat.


"Kayak punya mamah Praja bukan sih?" ucap Hana merasa tak yakin.


"Ah, mending aku langsung masuk saja. Minum dulu, haus banget," tutur Hana sambil mengusap tenggorokannya.


Hana melewati mobil itu begitu saja, ia juga tak memperhatikan pintu utama yang terbuka. Hana langsung membuka pintu dapur dan kemudian ia membuka kulkas. Hana mengambil air dingin yang berada di botol.


Karena sudah merasa sangat haus, Hana langsung minum begitu saja dari botolnya.


Kalo Hasan tau hal ini, ia pasti akan dimarahi. Hasan selalu menyarankan Hana untuk minum dengan gelas dan sambil duduk.


Pada saat Hana membuka kulkas, Miki mendengarnya. Miki diam-diam bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengintip dari ruang tamu.


Miki terkejut ketika melihat Hana yang tengah meneguk air minum dari bekas botol yang ia minum tadi.


Nafasnya tiba-tiba sesak, matanya berkaca-kaca seakan-akan ia melihat barang kesayangannya yang telah lama hilang, kembali ia temukan.


Tubuh Miki tiba-tiba gemetar. Tangannya dingin sampai ia harus mengusapnya dengan cara meremas celananya sendiri.


Hana tidak menyadari kehadiran Miki, yang kini tengah berdiri di ruang keluarga. Hana kembali menutup pintu kulkas. Ia berbalik ke kitchen set untuk mengecek nasi dalam magicomnya.


Hana juga mengecek lauk di lemari. Tanpa menaruh tasnya lebih dulu, Hana langsung memanaskan oseng cuminya di teflon.


Hana mulai menyalakan kompor dan mengaduk aduk oseng cumi cabai hijaunya.


Miki perlahan mendekati Hana dengan langkah yang gemetar. Wajah itu, tubuh itu, masih ia ingat dengan jelas dalam memorynya.


Sementara Hasan, ia berjalan dari depan sambil membawa dua kantong berisi aneka buah dan aneka camilan beserta minuman kaleng.

__ADS_1


"Sial, aku harus berjalan kaki dari depan. Bisa-bisanya ban nya bocor," gerutu Hasan.


Ia kemudian memasuk pintu gerbangnya dan mengembangkan senyum ketika melihat mobil Mamahnya terparkir di sana.


__ADS_2