
Hana masuk ke dalam rumah Samuel, ia nampak bingung karena tak menjumpai orang satu pun. "Permisi ... dimana semua orang?" gumam Hana sambil memperhatikan interior rumah tersebut. "Mewah banget. Tapi, kemewahannya bikin aku merinding," batin Hana.
"Permisi, Nona, silahkan langsung pergi ke meja makan saja. Sudah ditunggu di sana," ucap seorang maid kepada Hana.
"Ah, iya terimakasih," jawab Hana seraya tersenyum.
Hana melangkahkan kakinya mengikuti maid tersebut menuju ruang makan. Hana sedikit terkejut ketika mendapati Samuel berada di salah satu kursi di sana. Hana baru tau jika Samuel, ternyata anak dari Bagaskara. Hana pun teringat dengan kata-kata yang diucapkan Bagaskara waktu berkunjung ke rumah orang tuanya. "Cantik banget anak kamu. Tapi, sayang yah sudah punya pacar. Emm, menurut aku sih gak papa lah kalo cuman sekedar pacaran aja. Kita coba buat comblangin dulu antara Ceri dan anakku, siapa tau mereka cocok," terang Bagaskara diiringi senyuman.
"Ini anak kamu, Bu Lita? Ya Alloh, cantik banget," puji Ratna sembari menarik kursi dan menyambut Hana. Hana tersenyum ketika ia belum sampai di meja makan, akan tetapi ibunda dari Samuel sudah menghampirinya.
Samuel begitu terpesona melihat kecantikan Hana malam ini. Matanya tak pernah lepas dari wajah Hana.
"Malam Tante," sapa Hana sembari mencium tangan Ratna.
"Iya, selamat malam. Ayo, duduk di sebelah Tante yah," ajak Ratna sembari menggandeng tangan Hana.
"Saya duduk di sebelah Mamah aja, Tan."
"Boleh kok duduk disebelah saya, iya kan, Bu Darma?" tanya Ratna meminta ijin. Matanya benar-benar berbinar saat melihat Hana.
"Boleh," jawab Lita seraya tersenyum.
Samuel kemudian bergeser agar Hana dapat duduk di sebelah Ratna. Jantung Samuel berdegub kencang karena wanita yang selama ini ia impikan, malam ini bisa bersanding di sebelahnya. Begitupun dengan Hana. Jantungnya terus berdegub kencang, tapi bukan karena ia bahagia. Melainkan gundah.
Samuel mencuri pandang ke arah Hana. Hana meliriknya sekilas seraya tersenyum.
Mereka pun akhirnya menikmati makan malam dengan obrolan ringan.
__ADS_1
"Saya dari dulu mendambakan seorang anak perempuan, Bu Darma. Setelah kelahiran Samuel, saya berharap bisa hamil lagi dan diberi anak perempuan. Ternyata, sampai sekarang saya tidak hamil juga," tutur Ratna sembari tersenyum.
Lita dan Darma tersenyum menanggapi kalimat Ratna.
"Saya suapi, mau yah?" tanya Ratna kepada Hana.
"Ah, gak usah Tante, Hana makan sendiri aja," ucap Hana.
"Sekali aja yah," bujuk Ratna.
Hana melirik kedua orang tuanya. Pak Darma dan Bu Darma sama-sama mengangguk tanda bahwa Hana harus menuruti Bu Ratna.
Dengan perasaan ragu, Hana membuka mulutnya dan menerima suapan dari Bu Ratna. Bu Ratna merasa sangat senang sekali. Berulang kali, Ratna memeluk Hana dan menciuminya. Meskipun sedikit risih, tapi Hana tak menampik jika sikap perhatian yang diberikan oleh Bu Ratna kepadanya begitu tulus. Bahkan, Hana bisa melihat ada air mata yang menggenang di pelupuk mata Bu Ratna. "Apakah begitu inginnya beliau mempunyai seorang anak perempuan?" batin Hana.
"Hana ...." ucap Samuel sembari tersenyum.
Hana melirik ke arah Samuel dan tersenyum juga. "Gak menyangka kalo kamu anak dari Pak Bagas, Sam," ucap Hana.
"Udah, Pah. Aku juga gak sengaja kenal sama, Hana kok." Jawab Samuel.
"Eh, namanya Hana, atau Ceri sih, Wan, anakmu?" tanya Bagas yang masih bingung.
"Dua-duanya nama anakku, Pak Bagas. Kamu boleh memanggil dia siapa aja. Nama panjangnya, Hana Ceriana Darmawan. Ibunya, dari bayi sudah memanggil dia dengan nama Ceri. Sedangkan kalo di sekolah, dia dipanggil Hana," terang Pak Darmawan.
"Oh begitu. Saya panggil Hana saja kalo begitu ... kamu sekolah dimana, Hana?" tanya Bagaskara.
"SMK Tama, Om!" jawab Hana.
__ADS_1
"Oh, Samuel juga pernah sekolah di sana," jawab Bagaskara. "Apa, Hana tau tentang Samuel yang dikeluarkan akibat video asusila? Kalo dia tau, ini akan sedikit menyulitkan Samuel," batin Bagaskara.
"Tapi, sekarang dia sudah lulus," lanjut Bagaskara.
"Apa kamu pernah bertemu dengan Samuel, sewaktu Samuel masih sekolah di sana, Ceri?" tanya Lita.
"Ah, iya Mah. Tapi, hanya sebentar saja," jawab Hana seraya tersenyum lalu melirik Samuel.
Samuel tersenyum juga meski dipaksakan.
"Tapi, semenjak Samuel amnesia, dia tidak ingat apapun selain kami sebagai orang tuanya," ujar Bu Ratna.
"Jadi, anak kamu sedang sakit, Pak Bagas?" tanya Pak Darma.
"Iya, begitulah Wan. Aku panggil kamu Darmawan saja tidak apa-apa kan? Biar terkesan akrab saja," ujar Bagaskara.
"Ah tidak apa-apa, begitu lebih baik, Pak Bagas," jawab Pak Darma.
"Dan sebaiknya kamu juga panggil aku Bagas saja," tutur Bagas.
"Baiklah kalo itu maumu. Jadi, apa sekarang anakmu masih tidak ingat apa-apa?" tanya Pak Darma lagi.
"Siasat apa yang tengah kamu ucapkan ini, Bagas!" gumam Lita dalam hatinya.
"Ingatannya masih belum pulih. Aku berharap, Hana bisa membantu ingatan Samuel, Wan. Saya sangat berharap, Samuel bisa segera sembuh, dan ia bisa mengingat semuanya. Jujur, semenjak ia amnesia, dia tidak pernah keluar rumah. Dia suka mengurung diri di kamar karena tidak punya teman. Teman lamanya juga tidak pernah datang untuk mengunjungi dirinya," terang Bagaskara.
"Oh begitu, kasian sekali tapi ...." Darmawan melirik melirik Lita, lalu memandang Hana. Ia sendiri bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Apa kamu bersedia membantu kami, Hana?" tanya Bu Ratna dengan tatapan memelas.
Bu Ratna memegang kedua tangan Hana dengan penuh harapan.