
"Aku sebenernya pengin jujur, Ja, cuman aku takut sama Samuel, dan juga sama kamu. Kalo aku jujur sama kamu, kamu pasti bakal marah besar sama aku dan yang lainnya," ucap Dimas menahan rasa takutnya.
"Dan kamu tau sendiri Dim! Aku bakal lebih marah lagi kalo kalian gak jujur sama aku. Terutama kamu, Dim. Kamu harusnya sadar sama keadaan kamu, kamu gak usah ikut-ikutan kayak Samuel dan yang lainnya," ucap Raja pedas.
Kata-kata Raja membuat Dimas sakit hati. Tapi dia juga sadar, memang dia anak orang sederhana. Bahkan bisa dibilang kurang mampu. Kalo bukan karena Raja yang mengalihkan beasiswa untuk dirinya, Dimas tidak akan bisa melanjutkan sekolah lagi.
"Aku mau jujur asal kamu gak marah sama aku, Ja. Dan jangan cabut beasiswa aku, terus, jangan beritahu Samuel, oke!" ucap Dimas ketakutan namun masih menyebalkan.
"Udah cepet! Kamu ngomong aja, Dim! Katakan yang sebenarnya tentang masalah Samuel, dari awal sampai akhir, jangan dikurangin atau dilebihin!" ucap Raja dengan tidak sabar.
Dengan keringat yang mulai membasahi peluhnya, Dimas mulai menceritakan satu per satu permasalahan Samuel yang sebenarnya. Bahkan waktu penyerangan Hana di kebun jati, tak luput diceritakan oleh Dimas.
Raja mengepalkan kedua tangannya, wajahnya sudah memerah, giginya gemeretak, matanya menyala seperti api, ketika mendengar pengakuan Dimas satu per satu. Hatinya bergemuruh menahan emosi yang menguasai dirinya.
Raja beranjak dari tempat duduknya dan menendang tong sampah, dan bangku-bangku taman yang berjajar di hadapannya.
"Aaaarrghhhhhhh! Brengsek kalian! Kalian harusnya mati di tangan aku! Kalian gak layak aku tolongin! Bangsat! Arrrghh!" Raja mengerang memegang kepalanya sendiri yang terasa mau meledak.
"Maafin aku, Ja! Maafin," Dimas berlutut di hadapan Raja dengan ketakutan melihat kemarahan Raja.
Raja ingin sekali menendang dan menghabisi Dimas malam itu juga. Namun, ia masih bisa mengontrol emosinya. Raja berbalik, dan memukul tong sampah hingga peot.
"Gara-gara kalian, aku ngelakuin hal yang sangat buruk. Yang belum pernah aku lakuin seumur hidup aku, Dim! Terutama sama Hana. Akibat kebohongan kalian, aku dengan berani nendang dia pake bola sampe pingsan! Aku bisa setega itu demi apaaaaaaa, Dim! Demiiiiii kaliaaannnnnn begoooo!" Raja mengungkapkan kekesalannya dengan penuh amarah.
Demi menghindarkan ia berbuat fatal kepada Dimas, Raja memilih mencari pohon untuk ia melupakan amrahnya.
Raja kembali memukuli pohon-pohon di taman dengan erangan amarah. Dimas merasa sangat ketakutan. Ia tak berani berkata lagi. Tubuhnya gemetar melihat tingkah Raja yang menakutkan.
Raja adalah tameng bagi genknya, Raja ya seperti Raja bagi genknya. Raja yang paling hebat dan paling baik di dalam genknya. Kini telah mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Amarahnya meluap begitu saja. Dimas tidak berani memandang wajah Raja yang sudah merah dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
__ADS_1
Tangan Raja berdarah akibat pukulan demi pukulan yang ia tunjukan di pohon dan juga tong sampah.
Raja merasa sangat bersalah kepada Hana. Cewek yang sebenarnya adalah korban Samuel, justru ia malah menambah kemalangan bagi Hana.
Hana, wanita tak bersalah, yang selalu disalahkan. Raja tak kuasa saat ia membayangkan dirinya, sengaja menendang bola dengan keras ke arah Hana, hingga pingsan.
Raja tertunduk dibawah pohon pinang. Membayangkan kesalahannya kepada Hana dan juga Damar. Pikirannya merangkai banyak kata.
"Berarti, Samuel salah sasaran lagi. Orang yang harusnya dikeroyok adalah Hasan. Hasan adalah orang kepercayaan orangtua Hana, untuk menjaga Hana. Jadi, bukan cowok itu," Raja berkata dalam hatinya, ia berasumsi sendiri dengan pikirannya sendiri setelah ia berhasil bertemu Hana dan Hasan sore kemaren.
Raja benar-benar merasa sangat bersalah saat ia mengingat kejadian di alun-alun, dan pertemuannya dengan Hana di swalayan kemaren.
"Pantas saja kamu takut saat dengar nama Samuel, Han. Ternyata, kamu juga korban dari Samuel? Maafin aku, Han! Maafin aku," batin Raja sambil menahan air matanya yang mulai menggenang.
"Aku bakal bikin perhitungan sama kamu, Sam! Aku bakal habisin kamu!" ucap Raja dengan sangat berang, ia mengepalkan kedua tangganya yang sudah berdarah.
***
Hasan sudah tak sabar ingin menghabisi Samuel dan teman-temannya. Hasan terus merasa bersalah kepada Damar karena dirinya, Damar kini masih terbaring di brankar rumah sakit.
Dengan mengenakan jaket dan helm yang sama-sama berwarna hitam, Hasan keluar dari rumah secara diam-diam. Tak lupa ia mengenakan sarung tangan warna hitamnya juga.
Pada saat yang sama, Raja ternyata datang juga ke basecamp untuk menghajar Samuel, Rangga, Bayu dan Dimas. Namun, belum sempat ia masuk, Hasan sudah lebih dulu melewatinya. Raja terpaksa menjadi penonton saat Hasan mulai menghajar teman-temannya satu per satu.
"Sialan! siapa kamu, beraninya masuk ke basecamp aku!" seru Samuel.
Hasan tidak menjawab pertanyaan Samuel, ia terus menghajar mereka satu per satu. Biarpun Hasan dikeroyok, tapi Hasan tidak tumbang. Samuel mengoyak jaket Hasan dengan pisau hingga mengenai tangannya. Bahkan bagian perutnya tergores. Darah merembes dari bagian lengan-lengannya dan juga perutnya, meskipun tidak deras tapi cukup perih.
Hasan menahan rasa perih itu dengan rasa bersalah dan ambisi untuk menghabisi Samuel dan teman-temannya. Demi menjaga indentitasnya, Hasan tak bersuara sedikitpun agar Samuel dan teman-temannya tidak mengenalinya.
__ADS_1
Raja tersenyum menyeringai melihat Hasan membabi buta menyerang semua teman-temannya.
"Aku tau, kamu pasti Hasan! Orang yang harusnya dikeroyok malam itu!" ucap Raja tersenyum.
Saat Hasan ingin memukul wajah Samuel yang terahir kalinya, Raja segera berlari dan mendahuluinya.
BUG!
Hasan kaget dan beralih memandang ke arah Raja. Raja tersenyum memandang Hasan sambil meniup kepalan tangannya.
"Fiuh!" Raja meniup kepalan tangannya.
Dengan sekali bogem, Samuel terkapar dengan darah keluar dari mulut, hidung, bahkan telinganya.
Hasan masih kaget dengan kedatangan Raja yang tiba-tiba. Setalah cukup lama terdiam di sana, Hasan yang masih menggunakan helmnya, memilih untuk segera cabut dari basecamp dan mengendarai sepeda motornya.
"Ini balesan buat kalian semua, yang udah berani ngehianatin kepercayaan aku! Mulai sekarang, aku bukan teman kalian lagi! Cuih!" Raja meludah di samping Samuel yang sudah terkapar.
Di sudut-sudut sana, teman-teman yang lainnya sudah pingsan lebih dulu. Raja memutuskan untuk mengejar Hasan sebelum tertinggal jauh.
Rupa-rupanya, Dimas masih tersadar. Ia menangis dan menyesali perbuatannya yang salah. Tak seharusnya ia mengikuti jejak Samuel. Rupa-rupanya, Dimas lupa dari mana ia berasal.
Meskipun sudah tertinggal, Raja berhasil mengikuti Hasan dari belakang. Raja tersenyum menyeringai melihat Hasan yang sudah berada di depannya dengan jarak 300 meter.
"Ngapain tuh cowok ngejar aku. Wah bisa-bisa ketauan nih aku. Lebih baik aku belok ke arah yang lain," ucap Hasan yang menyadari kedatangan Raja.
Hasan menambah kecepatannya lagi. Raja tersenyum menyeringai dibalik helmnya. Raja menambah kecepatannya pula.
Hasan berputar-putar di jalan. Ia kemudian menghentikan kemudinya karena Hasan merasa akan membuang waktu saja. Sebab, Raja bukan orang yang mudah menyerah. Tanpa lelah, Raja terus mengikutinya, bahkan sekalinya sudah putar balik dengan arah yang lumayan jauh, Raja gigih mengejarnya.
__ADS_1
Hasan kemudian membuka helmnya.