Menikah Karena Tradisi

Menikah Karena Tradisi
67. Amnesia?


__ADS_3

Hana sudah sampai di alun-alun, sepertinya, Raja belum sampai di sana. Ia kemudian menuju supermarket dekat alun-alun untuk membeli buah sebagai buah tangan untuk neneknya Raja.


Hana memilah buah yang bagus-bagus, tak lupa ia membeli keranjang untuk parsel. Hana meminta karyawan penjaga penitipan tas untuk membungkus buahnya.


Hana menunggu karyawan kasir dengan sabar.


"Mbak, mau ambil tas," ucap laki-laki kepada karyawan.


Hana yang berdiri di sampingnya tak sengaja melirik ke arah orang tersebut, ia tercengang ketika melihat siapa sosok.pria tersebut.


"Sa-sa-samuel," ucap Hana dengan terbata.


Jantung Hana berpacu, ia ketakutan melihat Samuel. Samuel yang merasa dipanggil segera menengok ke arah Hana yang tengah menatapnya dengan ketakutan.


Samuel mengernyitkan kening tanda tak mengerti.


"Iya, kamu panggil aku?" tanya Samuel sambil tersenyum.


Mendengar pertanyaan Samuel, Hana sedikit kaget.


"Kenapa respon, Samuel seperti itu?" ucap Hana dalam hatinya.


Samuel menerima tasnya dan memakainya di punggungnya. Orang yang masuk supermarket dengan membawa tas besar memang harus dititipkan.


Dan kebetulan, parsel Hana juga sudah selesai dikerjakan.


"Makasih ya, mbak!" ucap Hana sambil tersenyum.


Samuel berjalan lebih dahulu sambil melirik Hana sekilas. Hana yang merasa aneh dengan sikap Samuel, segera pergi mengejar Samuel.


"Sam, Sam, tunggu dulu!" teriak Hana sambil berlari membawa parsel buahnya.


Samuel yang sudah berada di atas motornya, mengurungkan niat untuk memakai helm.


"Ada apa? Kamu kenal sama aku?" tanya Samuel masih duduk di jok motornya.


"Kamu gak kenal sama aku?" tanya Hana kaget.


Samuel menggelengkan kepalanya.


"Kamu bohong ya?" tanya Hana lagi.


"Sory, aku beneran gak tau, kamu siapa? Emangnya kita kenal ya?"


"Dia beneran lupa sama aku? Atau dia pura-pura gak kenal sama aku?" tanya Hana dalam hatinya.

__ADS_1


"Kamu beneran gak tau aku? Coba inget-inget deh, masa kamu lupa sama aku. Masa dengan mudahnya kamu lupain aku gitu aja!" ucap Hana sedikit kesal.


Hana masih ingat kejadian di kebun jati itu. Tapi, Samuel dengan gampang melupakannya begitu saja.


"Sory aku beneran gak tau. Mungkin kita pernah kenal, aku minta maaf yah aku gak bisa nginget kamu, soalnya aku ...."


"Gak bisa nginget? Kamu gak inget kejadian dulu?" tanya Hana kaget.


"Kejadian apa? Sory, kalo kita pernah kenal, dan aku ada salah sama kamu, aku minta maaf banget yah. Aku beneran lupa soalnya. Aku gak kenal siapa-siapa, selain orang tua aku sendiri, dan juga diriku sendiri," terang Samuel diiringi senyuman.


Hana menggelengkan kepalanya, ia tak yakin dengan yang diucapkan oleh Samuel barusan.


"Maaf kalo boleh tau, nama kamu siapa?" tanya Samuel dengan nada hati-hati.


"Aku, aku, Hana. Kamu inget namaku?" tanya Hana menyelidik.


"Hana? Masih terdengar asing di telingaku. Sekali lagi, aku minta maaf yah. Dokter bilang aku ini amnesia jadi memori ingatanku hilang,"


"Amnesia?" ucpa Hana memperjelas.


"Apa benar, Samuel amnesia? Kenapa dia bisa amnesia? Apa yang dilakukan Hasan, pada malam itu? Aku harus tanyakan Hasan, setelah pulang dari rumah sakit ini. Tapi, ada untungnya juga kalo, Samuel beneran amnesia. Aku bisa bentuk dia jadi pribadi yang baik," batin Hana.


"Eh, kamu koq nglamun!" ujar Samuel sambil mengibaskan tangan di depan wajah Hana.


Hana tersentak kaget lalu tersenyum kepada Samuel.


Raja yang baru saja sampai di alun-alun dan melihat Hana di depan supermarket bersama Samuel, merasa geram dan langsung menancap motor menghampiri mereka berdua.


Hana dan Samuel melirik Raja, yang kini sudah menjajari dirinya dengan sepeda motor.


Raja mencopot helmnya dan hendak memukul Samuel. Jika saja, Hana tak cepat menangkis tangan Raja dengan cepat, wajah Samuel bisa lebam kembali akibat ulah Raja.


"Masih berani kamu Sam, deketin Hana!" ujar Raja sambil mengangkat tangannya tinggi hendak memukul.


"Raja, tunggu!" cegah Hana sambil memegang tangan Raja.


Samuel sudah melindungi wajahnya dengan helmnya. Ia sendiri heran dengan sikap Raja, yang tiba-tiba ingin memukulnya.


"Kenapa, Han? Dia mau nyakitin kamu lagi kan?" tanya Raja.


"Nyakitin? Darimana kamu tau kalo dia mau nyakitin aku?" tanya Hana heran.


"Yah, dia kan udah bikin kamu ...."


Raja menggantung kalimatnya, ia menatap wajah Hana yang tampak menyelidik. Raja hampir saja keceplosan. Hana tak pernah cerita apapun tentang masalah dirinya dulu. Raja hanya pura-pura menjadi teman SMP Samuel, waktu pertama kali bertemu dengan Hana.

__ADS_1


"Bikin apa, Ja? Ada yang kamu sembunyiin dari aku!" ucap Hana dengan tatapan menyelidik.


Raja terdiam. Ia menelan ludahnya sendiri.


"Gawat. Kalau Hana, curiga gimana?" batin Raja.


"Kenapa kamu diem, Ja? Kamu bilang udah lama gak ketemu sama Samuel. Dan sekarang dia ada di sini, kenapa kamu dateng tiba-tiba pengin mukul dia!" tanya Hana.


"Ah, mungkin karena dulu kita ada masalah, jadi, dia bersikap seperti itu. Maaf yah, aku gak inget sama kamu. Kamu temen aku? Kalo aku ada salah, aku minta maaf yah," ucap Samuel sambil tersenyum kepada Raja.


Raja membulatkan matanya mendengar kalimat yang dilontarkan Samuel.


"Kamu lagi acting ya?" tanya Raja.


Raja terpaksa harus berakting kembali.


"Aduh, sory Sam, aku bertindak kayak tadi, soalnya inget pas jaman SMP, kalo kita bersua emang seperti mau mukul, padahal kita sebenernya mau pelukan. Masa kamu gak inget sih?" ucap Raja sambil terkekeh.


Raja tertawa sambil melirik wajah Hana yang masih menaruh curiga kepadanya.


"Moga-moga, Hana gak tau, kalo aku yang udah bikin Samuel, hampir mati. Eh, tapi ada Hasan juga di sana. Tapi, kenapa Samuel, bilang begitu! Apa pukulan aku waktu itu beneran keras banget ya, sampe-sampe dia gak inget aku," ujar Raja dalam hatinya.


"Oh gitu yah, aku lupa," jawab Samuel sambil tersenyum.


"Masa sih kamu lupa, aku kan temen kamu. Coba tebak nama aku siapa?" tanya Raja.


Samuel berusaha mengingat, tapi dia benar-benar tidak tau.


"Aku gak tau, maaf. Eh, ngomong-ngomong, kalian pacaran ya?" tanya Samuel sambil menatap Raja dan Hana bergantian.


Hana dan Raja saling berpandangan mendengar pertanyaan Samuel.


"Ah, nggak kami cuman temen koq," jawab Hana cepat.


Raja mendengus kesal.


"Ja, Samuel amnesia katanya," kata Hana.


"Amnesia?" tanya Raja sambil melotot.


Hana mengangguk.


"Ya Alloh, aku pikir, Samuel bakal mati. Ternyata cuman amnesia doang!" ujar Raja dalam hatinya.


"Iya, dokter bilang, aku amnesia. Memory di kepalaku hilang semua. Maaf aku gak inget kalian. Em, aku harus pulang dulu. Aku duluan yah! Kapan-kapan, main ke rumahku ya," ucap Samuel lalu memakai helmnya.

__ADS_1


Raja dan Hana hanya tersenyum mendengar kalimat Samuel. Samuel lalu pergi meninggalkan Hana dan Raja yang masih mematung di parkiran.


__ADS_2