
Bu Darma kemudian mengangguk-anggukan kepalanya sambil menatap Leo dan Ceri bergantian.
Hasan dan Hana tersenyum kepada Bu Darma.
"Ya sudah kalo begitu. Leo, semoga kamu cepat sembuh yah, kalo Ceri, nakal sama kamu, kamu langsung laporan sama Mamah aja yah!" ucap Bu Darma sambil mengelus pipi menantunya itu dengan lembut.
"Oke, Mah!" jawab Hasan diringi senyuman.
Hasan memandang Hana sambil memainkan alisnya. Ia senang karena Bu Darma sepertinya sangat mendukung dirinya dan penuh perhatian. Hana memasang wajah cemberut.
"Mamah, makasih yah, udah mau nyempetin waktu buat nemenin Hasan. Padahal mamah ada meeting yah, maaf ya Mah, Mamah telat gara-gara Hana,"
"Sama-sama sayang ... Kamu gak perlu merasa bersalah begitu, meeting Mamah diundur koq," jawab Bu Praja sambil menowel dagu Hana.
"Kalian hati-hati yah," ucap Hasan kepada kedua mamahnya.
"Hana, kamu inget pesen Mamah, yah!" ucap Bu Darma.
"Iya mamahku sayang, mari, Hana antar kalian berdua," jawab Hana sambil mendorong tubuh Bu Darma dengan pelan dan lembut.
Hana mengantar Bu Praja dan Bu Darma sampai ke depan karena ia harus membuka gerbang dengan suaranya.
Setelah Bu Darma dan Bu Praja keluar dari rumahnya, Hana kembali lagi ke kamar Hasan untuk membujuk makan lagi.
"Ayo San, makan lagi! Ini udah siang, waktunya minum obat lagi!"
"Aku masih kenyang!" jawab Hasan sewot.
"Kamu marah sama aku ya? Kalo gak mau aku siapin, nih makan sendiri!" ucap Hana sambil menyodorkan mangkok yang ia pegang.
"Aku itu masih kenyang!" jawab Hasan sambil melirik Hana dengan kesal.
"Ya udah tiga sendok aja kalo gitu, buat minum obat aja koq. Aturannya harus makan dulu, San!" bujuk Hana kembali.
"Lidah aku pait, gak enak buat makan!" jawab Hasan membuang muka.
Hana menghela nafasnya, "sabar, Han! Orang sakit emang rewel!" ucap Hana dalam hatinya.
"Satu suap aja kalo gitu. Biar perut kamu ke isi," ucap Hana sambil menyendok satu bubur.
Hasan melirik Hana dan perlahan membuka mulutnya. Hana tersenyum senang dan dengan cepat menyuapkan ke mulut Hasan.
__ADS_1
"Udah, satu suap! Mana obatnya!"
"Satu sendok lagi, San!" tawar Hana.
Hasan mendelik, "gimana sih, tadi kamu bilang satu sendok aja! Koq sekarang nambah!"
"Satu sendok lagi, San! Orang sakit harus banyak makan. Biar kamu bertenaga, gak lemes," bujuk Hana diiringi senyuman.
Hasan kemudian membuka mulutnya kembali. Dua suapan sudah masuk ke dalam perutnya dengan susah payah. Rasanya benar-benar hambar dan pahit di lidahnya.
"Air dong!" ucap Hasan.
Hana mengambil air hangat yang memang sudah disediakan.
Hasan meminumnya sedikit.
"Mana obatnya biar aku minum!"
"Eh, satu kali lagi, San!" ucap Hana lagi.
Hasan memandang ke arah Hana dengan tajam. Matanya merah sebab ia menahan sakit.
"Kamu jangan main-main sama aku, Han!" ucap Hasan dengan wajah serius.
Hasan tidak menjawab pertanyaan Hana. Ia benar-benar kesal dengan istrinya kali ini.
Hasan terus menatap Hana tanpa berkedip. Tatapanya benar seperti singa. Hana menundukan kepalanya untuk menghindari tatapan Hasan.
"Maaf deh. Aku kan pengin kamu cepet sembuh, San! Aku bingung loh kalo harus berangkat sekolah. Tadi pagi aja gak ada ...."
"Ya udah mana buruan," ucap Hasan menahan kesal.
Hana kembali tersenyum dan menyuapkan satu sendok lagi dengan perasaan bahagia.
"Udah tiga sendok, aku gak minta lagi koq. Tunggu sepuluh menit yah, baru minum obatnya," ucap Hana kemudian berdiri membereskan mangkok dan membawanya ke dapur.
Hana berganti pakaian terlebih dahulu, dan mencuci piring yang berada di wastafel. Setelah selesai, Hana melirik jam dan sepuluh menit sudah terlewat. Ia memutuskan untuk kembali ke kamar Hasan.
Hasan meliriknya dengan wajah cemberut.
Hana membuka tablet penurun demam dan memberikannya kepada Hasan.
__ADS_1
"Makasih," ucap Hasan simpel.
"Sama-sama," balas Hana dengan senyuman manisnya.
"San, aku minta maaf yah, gara-gara kata-kata aku semalem, kamu jadi gini! Kamu marah sama aku kan?"
"Kesel udah pasti lah! Lagian, kamu gak bisa sama-in semua orang supaya bisa sama kayak kamu, Han!"
"Iya iya, aku salah aku minta maaf. Aku cuman gak mau kamu punya musuh. Aku gak mau kalo nantinya banyak yang ngincer kamu, San! Kamu tau kan, Samuel itu ...."
"Aku gak nyari musuh, Han! Aku berada di jalan yang bener koq. Kalo orang lain pengin musuhin aku, itu masalah dia, bukan masalah aku. Yang penting aku bener! Lagian aku kayak gini juga demi kamu, dan Damar. Damar masuk rumah sakit juga karena aku, Han! Kamu tau itu!"
Hana kemudian mengelus tangan Hasan. Ia tak mau berdebat lagi dengan Hasan masalah tadi malam. Ia mencoba untuk mengalah.
"Iya, iya! Aku minta maaf. Udah gak usah di bahas lagi. Luka kamu sekarang gimana? Nanti kita pergi ke dokter yah!"
"Gak mau, aku udah sembuh koq," jawab Hasan masih cemberut.
"Ya udah kalo gak mau. Tapi, tadi Mamah Praja udah obatin luka kamu kan? Kalo belum biar aku lanjut obatin,"
"Udah koq,"
Mereka berdua kemudian terdiam sejenak. Hana merasa tidak enak. Hasan masih dingin kepadanya. Hana bingung, harus bertanya apalagi kepada Hasan supaya dia tidak ngambek lagi.
"San, kamu udah gak marah sama aku kan?" tanya Hana sambil memperhatikan wajah Hasan.
"Emangnya aku marah? Aku gak marah koq,"
"Kalo gak marah, koq kamu cuek gitu sih! Manyun terus, aku ngomong panjang kamu jawabnya jutek gitu. Aku kan udah minta maaf San. Kamu gak mau maafin aku?"
"Ngapain mesti maafin kamu, orang aku gak marah juga!"
"Kalo gak marah, kamu senyum dong! Jangan cuek gitu. Aku ajak ngobrol kamu buang muka terus,"
"Han, biarpun diantara kita belum ada rasa, tapi kita ini suami istri, Han! Aku pengin kamu nurut sama aku! Berbakti sama aku!" ucap Hasan tiba-tiba membuat Hana sedikit kaget.
"I-i-iya, San! Aku nurut terus koq, emang pernah aku ngebantah perintah kamu!"
"Selama ini nggak, tapi aku pengin, masalah antara aku dan Samuel, kamu gak usah ikut campur. Gak usah nglarang aku!"
Hana menatap Hasan sambil menelan ludahnya. Raut wajah Hasan begitu serius. Hana yakin, pasti Hasan sudah tersinggung dan sakit hati padanya tentang kalimatnya semalam.
__ADS_1
"Iya San, aku minta maaf. Tapi aku boleh kan, ngingetin kamu kalo kamu salah?" ucap Hana dengan hati-hati.
"Boleh, kalo nasehat kamu bisa aku terima!" jawab Hasan datar.